Kejurkab sempat absen digelar selama delapan tahun terakhir. Selama ini, event-event kejuaraan karate di Bumi Blambangan diadakan oleh perguruan karate secara mandiri. ”Ini yang pertama kali digelar setelah lebih dari delapan tahun terakhir. Sebelumnya, atlet-atlet karate harus mengikuti event di luar kota atau event dari perguruan mereka,” ujar Ketua Federasi Karate-Do Indonesia (Forki) Banyuwangi I Wayan Redita.
Ada 276 karateka yang turun dalam event yang digelar selama dua hari tersebut. Terdiri dari 161 karateka putra dan 115 karateka putri. Mereka mewakili delapan perguruan, yaitu Gojukai, Inkai, Inkannas, KKI, Kyokushin, BKC, Porbikawa, dan Shindoka. Dari delapan perguruan itu, ada 12 dojo (tempat latihan karate) yang mengirim perwakilan mereka.
Wayan menambahkan, event ini tak sekedar ajang untuk mencari karateka terbaik. Forki sendiri memanfaatkan kejurkab sebagai ajang untuk menginventarisasi atlet karate berbakat dari semua kelas. Mulai dari kelas usia dini, pra-kadet, kadet, junior, hingga senior.
Wayan menyebut, karena tidak pernah ada event kejurkab, selama ini Forki hanya bisa mengandalkan data dari laporan perguruan, tanpa bisa memantau perkembangan atlet secara langsung. Melalui kejurkab ini, Wayan mengaku bisa melihat dengan jelas bagaimana kemampuan para atlet. Termasuk potensi mereka ke depan. ”Mereka akan masuk data puslatkab kita. Jadi, para juara akan kita pantau. Nanti kalau kita butuh untuk Popda dan Porprov, kita tidak perlu seleksi terbuka lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kadispora Banyuwangi Abdul Aziz Hamidi menambahkan, pihaknya berharap seluruh atlet karate dari berbagai tempat dan perguruan bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Terutama untuk memperkuat rasa persaudaraan antarkarateka di Banyuwangi. ”Selain mencari bibit atlet, ini juga bisa untuk ajang silaturahmi, mencari saudara, karena selama pandemi kita tidak bisa menggelar event semacam ini,” tutupnya. (fre/afi/c1) Editor : AF Ichsan Rasyid