Anton menyampaikan, polusi yang viral karena diduga diakibatkan oleh limbah tolato tersebut sebenarnya merupakan ampas halus tebu. ”Jadi, bukan limbah tolato yang keluar dari cerobong asap,” ucapnya kemarin.
Anton menjelaskan, ampas tebu tersebut diletakkan pada bagasi yang digunakan untuk persediaan bahan bakar. Sebab, ampas tersebut nantinya dimanfaatkan kembali untuk bahan bakar ritel gula. ”Pada saat disimpan di bagasi ini kadang kala keluar ketika ada angin. Sehingga beterbangan ke jalan atau ke rumah warga,” ucapnya.
Anton mengaku, sebetulnya pihaknya sudah menggunakan peralatan khusus agar ampas tebu tidak terbawa angin. Yakni dengan memasang paranet di sekitar tumpukan ampas. ”Sudah dipasang alat paranet untuk menangkap debu yang berasal dari ampas tebu, dan juga beberapa tempat yang berpotensi adanya debu beterbangan pun telah dipasang alat tersebut,” ungkapnya.
Meski demikian, Anton menyebut upaya tersebut belum bisa maksimal. Sebab, bangunan bagasi yang digunakan untuk menyimpan ampas sangat luas. Sedangkan alat paranet yang tersedia masih minim. ”Kami upayakan untuk menghilangkan polusi udara. Sesuai dengan saran DLH dengan melakukan penambahan untuk pemasangan paranet,” pungkasnya.
Warga Terganggu, namun Tak Bisa Berbuat Banyak
Sementara itu, meski Pabrik Gula (PG) Asembagus mengklaim sudah tak lagi menghasilkan limbah tolato dalam musim giling tebu tahun ini, namun warga sekitar tetap merasakan dampak polusi. Namun, warga mengaku tak bisa berbuat dan hanya bisa pasrah.
Data yang diterima koran ini menyebutkan, upaya warga untuk bisa bebas dari limbah tolato sudah maksimal. Bahkan, pernah disampaikan pada Forum Komunikasi Kecamatan (Forkopimcam) Asembagus. Termasuk, berkali-kali menyampaikan langsung kepada pegawai PG Asembagus. Namun, tetap tidak ada hasil menggembirakan.
Saat digelar audiensi dengan PG Asembagus, warga justru dibuat mati kutu. Dalam kasus ini, seolah-olah PG tidak bisa disalahkan. Sebab, pabrik dibangun lebih awal dibandingkan bangunan permukiman padat penduduk yang ada saat ini.
Ketua RT Dusun Krajan, Desa Gudang, Rohman mengatakan, dirinya sudah berusaha keras menyampaikan aspirasi warga yang terdampak tolato. Namun, masih belum membuahkan hasil. Kini dia mengaku hanya bisa bersabar ketika limbah pabrik itu mengganggu aktivitas dirinya maupun warga.
”Saat itu kita menyampaikan keluhan pada pihak PG. Tapi mereka menjawab bahwa produksi gula itu lebih awal ada daripada permukiman warga. Artinya pabrik lebih awal dibangun baru ada rumah-rumah warga,” ujarnya, Rabu (7/5).
Rohman mengatakan, warga pun sudah tidak lagi mempermasalahkan polusi tersebut. Mereka terpaksa harus terbiasa dengan adanya tolato. ”Sekarang warga sudah mengalah dan terpaksa untuk membiasakan dengan kondisi adanya tolato,” ungkapnya. (wan/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal