Anggota DPRD Situbondo H Faisol mendesak Pemkab Situbondo berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jatim untuk mengatasi keadaan tersebut. Dia menyebut, sungai di Kecamatan Asembagus sudah bercampur dengan air belerang yang hanyut dari kawasan Gunung Ijen.
Akibatnya, imbuh Faisol, banyak lahan warga yang gagal panen karena kadar belerang yang cukup tinggi. ”Setiap ladang yang dialiri air sungai langsung mengalami kekeringan di bagian daun. Lambat laun batang tumbuhan berupa tebu akan mati. Ini menunjukkan bahwa kandungan belerang dari Ijen semakin tinggi,” terangnya, Selasa (30/5).
Faisol mengatakan, aliran air belerang itu sebenarnya muncul setiap tahun. Namun, biasanya hanya sebentar dan petani sudah bisa memprediksi. Yang menjadi persoalan saat ini, aliran air belerang sudah ada sejak bulan Februari. Hingga saat ini sudah hampir empat bulan lamanya. ”Sekitar bulan Februari atau Maret belerang sudah ada, hingga saat ini belerang belum habis,” jelasnya.
Faisol menduga, keadaan itu terjadi karena belerang di lereng Gunung Ijen sudah bocor. ”Tingkat kebocorannya sudah tidak wajar alias semakin besar. Akhirnya aliran belerang tumpah ke jalur sungai yang bermuara ke Asembagus. Petani tidak bisa memilih karena sungai yang menjadi harapan warga Asembagus hanya satu sumber. Petani mau dapat air dari mana lagi? Air yang ada hanya dari sungai aliran dari Ijen itu,” tandasnya. (hum/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal