Pantauan Jawa Pos Radar Situbondo, puluhan hektare tanaman tebu milik sejumlah petani di Kecamatan Asembagus dan Banyuputih mengalami kerusakan. Tebu yang seharusnya sudah siap panen di bulan ini mengalami masa pertumbuhan yang tidak bagus. Besar kemungkinan akibat kadar belerang yang semakin tinggi.
”Tanaman tebu milik saya saja hampir satu hektare, semuanya kerdil akibat dialiri air dari sungai yang bercampur dengan belerang,” kata Suparjono, salah satu warga Desa Bantal utara.
Dia menyebut, tanaman tebu yang terdampak hampir merata. Semua warga Desa Bantal dan Desa Awar-Awar mengalami nasib yang sama. Sehingga, warga banyak yang takut mengambil air dari saluran irigasi primer.
”Kalau tebu sudah diberi pupuk lalu diairi dari air sungai, keesokan harinya bukan tambah subur. Daun tebu perlahan kering dan tebu tidak berkembang. Rata-rata tebu petani kerdil,” ucap Suparjono.
Dikatakan, petani yang menanam tebu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Tidak jarang petani harus mengutang ke bank untuk modal utama penanaman tebu. Mereka bakal membayar bank tersebut melalui hasil panen tebu.
”Tanaman satu-satunya yang bisa ditanam hanya tebu, itu pun satu tahun satu kali. Begitu tanam malah kerdil, terus mau dapat hasil dari mana para petani tebu ini?” keluh Suparjono.
Kepala Desa Awar-Awar Sucung juga mengatakan hal serupa. Banyak warga Desa Awar-awar yang mengeluhkan adanya air bercampur belerang yang mengalir ke ladang-ladang warga. Hal itu sangat merugikan bagi petani. ”Warga saya banyak yang mengeluh, tapi mau bagaimana lagi sumber air satu-satunya hanya dari Gunung ijen,” ucapnya.
Bahkan, warga Desa Awar-awar sudah 23 tahun lamanya tidak bisa menanam padi dan jagung. Kecuali warga yang memiliki sumur bor sendiri di ladangnya. ”Kalau tanam padi dan jagung jelas tidak bisa, pasti mati, yang kuat ya tebu. Tapi tahun ini juga banyak tebu yang gagal panen,” kata Sucung. (hum/pri/c1) Editor : Muhammad Khoirul Rizal