Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Situbondo, aksi bunuh diri itu bermula pada saat Misnari, ayah Rudiyanto melintas di depan kamar anaknya. Saat itu Misnari tidak sengaja mendengar tangisan anaknya usai melaksanakan salat subuh.
Misnari mendengar, Rudiyanto berulangkali meminta ampunan kepada Allah. mendengarkan doa itu, Misnari mencoba untuk mendekati sang anak lalu memintanya untuk menceritakan persoalan yang dialami. Namun, Rudiyanto enggan bercerita hingga ditinggalkan sendiri di dalam kamar.
Selang berapa waktu, sekitar pukul 08.30, Misnari mencoba memanggil anaknya untuk makan bersama. Tapi Rudiyanto tidak langsung keluar. Kalimat yang disampaikan saat dipanggil hanya menjawaba akan menyusul.
Karena tidak kunjung keluar, Misnari mendatangi kamar anaknya dan mengetuk pintu berulangkali. Rudiyanto tidak menjawab dan pintu kamar juga dikunci dari dalam. Karena khawatir, Misnari memanggil saudaranya untuk membuka pintu kamar dengan cara mendobrak.
Begitu pintu terbuka, hal yang pertama kali dilihat adalah ceceran darah di lantai dan di atas tikar. Sedangkan Rudiyanto sudah tergeletak di pojok kamar dalam keadaan bersimbah darah. Melihat kejadian mengejutkan itu, Korban langsung diangkat keluar rumah dan dibawa ke rumah sakit Asembagus menggunakan kendaraan Viar.
Kapolsek Jangkar Iptu Budiyarto mengatakan, pihaknya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menanyakan kepada sejumlah saksi yang di rumah tersebut.
“Diduga kuat, korban depresi. Dan kami belum bisa menjelaskan alasan korban melakukan tindakan bunuh diri,” katanya.
Budiarto juga sudah menanyakan kepada sejumlah teman-teman akrab Rudiyanto. Semuanya tidak ada yang mengetahui persoalan yang dialami pelaku. Bahkan orang tuanya sendiri masih bingung dengan persoalan anaknya.
“Korban belum bisa dimintai keterangan. Korban harus menjalani rawat inap di rumah sakit Asemabagus. Kalau keterangan dari dokter, korban mengalami luka sobek di bagian perut, leher sebelah kanan sobek, pergelangan tangan kiri juga sobek. Dan kondisinya sudah membaik,” pungkas Budiarto. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal