Sunarwi, warga pesisir Panarukan menjelaskan, tanggul yang rusak terjadi di dua desa. Yakni di Kilensari serta Berigeen. "Tanggul yang rusak itu dekat dengan kampung padat penduduk. Khawatir kalau tidak segera diperbaiki, banjir rob bisa-bisa menenggelamkan rumah warga," ujarnya, Minggu (25/12).
Munarwi mengatakan, bencana banjir rob akan kembali terjadi. Sebab, puncak cuaca ektrem diperkirakan terjadi hingga akhir Bulan Desember. "Sejak pertengahan Desember memang rentan terjadi cuaca ekstrim. Puncaknya akhir Desember ini," jelasnya.
Kata dia, puncak dari cuaca ekstrem bisa mengakibatkan peningkatan air laut lebih besar. Hal itu dipicu karena faktor angin barat. Akibatnya ombak di laut juga ikut besar. "Kami khawatir kalau nanti ombaknya besar justru langsung menghantam rumah warga. Karena tanggul untuk menahan ombak sudah rusak berat," ungkapnya.
Dia berharap, pemerintah segera membangun kembali tanggul yang rusak. "Pemerintah kami harapkan segera memperbaiki tanggul ini. Kasian kami kalau sampai kembali terjadi banjir rob," harapnya.
Munarwi menambahkan, dengan adanya tanggul, rumah warga tidak sampai rusak akibat hantaman ombak laut. "Kemarin rumah warga hanya digenangi air. Tapi ada juga yang hampir romboh setelah dihantam ombak besar," jelasnya.
Sementara itu, anggota DPRD Situbondo, Suprapto mengatakan, bangunan tanggul di sekitar pesisir Panarukan rusak berat. Panjangnya sekitar ratusan meter. "Diperkirakan membutuhkan biaya hingga ratusan juta untuk kembali membangun tanggul tersebut," ucapnya.
Kata dia, pemerintah harus cepat tanggap untuk memperbaiki tanggul tersebut. Karena, jarak antar pantai dengan rumah warga sangat dekat. "Memang benar keluhan warga ketika terjadi banjir rob susulan. Ombak dari laut akan menghantam langsung rumah warga. Karena tanggulnya sendiri sudah jebol," ungkapnya.
Selain itu, Suprapto menjelaskan, untuk kebutuhan anggaran pembangunan tanggul baru, dapat menggunakan anggaran BTT (belanja tidak terduga). Sebab, salah satu syarat untuk menggunakan dana tersebut terpenuhi. "Anggaran BTT itu bisa dipakai untuk membangun tanggul baru. Karena syaratnya tercukupi, yakni faktor musibah. Jangan sampai pemerintah beralasan tidak memiliki anggaran. Sebab, dana BTT sendiri sudah tersedia di kas daerah. Jumlahnya sekitar Rp 10 miliar," pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal