Kepala SDN Lima Bantal Amsuto, mengatakan kerusakan gedung di sekolah tersebut terjadi sudah enam tahun silam. Banyaknya genteng yang rusak menyebabkan plafon berjatuhan sejak 2017 silam. Namun, hingga saat ini belum ada perbaikan. Padahal, Amsuto mengaku sudah sekian kali melakukan pengajuan. Hanya saja belum mendapatkan respon.
“Kira-kira pada tahun 2017 sudah rusak, dan rusak parah ya sejak tahun 2018. Sekarang tambah parah. Jadi ada dua kelas yang tidak bisa ditempati untuk belajar. Kami sudah pernah mengusulkan. Hanya saja, hingga saat ini belum diperbaiki,” ungkap Amsuto, kemarin (30/11).
Kata dia, dampak dari kerusakan tersebut, sejumlah murid yang melakukan BKM harus beralas karpet dan melakukan KBM di luar kelas. Sebab, ketika sudah memasuki musim penghujan, keadan kelas menakutkan. Jangankan murid, gurunya juga tidak mau untuk mengajar di dalam kelas.
“Kalau musim hujan rawan, kadang plafonnya itu jatuh. Demi keselamatan ya belajar di luar. Namanya belajar di alam bebas,” kata Amsuto sambil tertawa.
Dikatakan, sejak diajak belajar di luar kelas, anak didiknya banyak mengeluh. Sebab, tangan mereka nyilu akibat menulis sambil membungkuk. “Sebetulnya belajar di luar kelas ya endak enak. Belajar sambil duduk, membungkuk jelas tidak enak. Kata anak-anak sakit pinggang,” imbuh Amsuto.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Siti aisyah menyampaikan sudah sekian sekolah yang mengalami kerusakan, termasuk SDN 5 Bantal diajukan ke pusat melalui aplikasi. Tujuannya agar mendapatkan bantuan dana alokasi khusus (DAK). Namun, untuk tahun ini ada peraturan yang baru. Yaitu setiap sekolah yang menginginkan bantuan tersebut, harus memilik murid minimal 60 siswa.
“Makanya untuk sekolah yang tidak memenuhi persyaratan belum bisa dapat bantuan. Mau diusahakan bagaimana? Aplikasi itu tidak bisa dibohongi, dan kita juga tidak boleh kan untuk memanipulasi data. Masalahnya yang terjadi, murid SDN 5 bantal tinggal 13 orang,”pungkas Siti Aisyah. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal