Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Satu Kilogram Mangga Garifta Dibandrol Rp 30 Ribu

Edy Supriyono • Rabu, 16 November 2022 | 15:34 WIB
WARNA MENAWAN: Novem, warga Desa Sopet, Kecamatan Jangkar, memanen buah Mangga Garifta, Senin (14/11). (HUMAIDI/JPRS)
WARNA MENAWAN: Novem, warga Desa Sopet, Kecamatan Jangkar, memanen buah Mangga Garifta, Senin (14/11). (HUMAIDI/JPRS)
JANGKAR, Jawa Pos Radar Situbondo – Buah  Mangga Garifta diburu banyak orang. Keberadaannya  juga masih terbatas. Banyak ditemukan di Desa Sopet, Kecamatan Jangkar, Situbondo. Wajar jika harganya saat ini masih lumayan mahal. Perkilogramnya mencapai Rp 30 ribu.

Novem, salah satu petani Mangga Garifta mengaku, untuk mencari buah tersebut tidak bisa sembarangan menemukannya di semua desa di Kabupaten Situbondo. Sebab, penanamannya hanya difokuskan di daerah Sopet sejak 2012. Hingga saat ini sudah tumbuh subur dan buahnya memberikan keuntungan besar bagi  pemiliknya.

"Karena stok terbatas. Mangga ini dibanderol dengan harga Rp 30 ribu perkg. Permintaan konsumen banyak dari luar kota. Seperti Jakarta, Bandung, Bali, Riau, Balikpapan dan kota besar lainnya,” ungkap Novem.

Kata dia, Mangga Garifta memiliki bentuk yang sama dengan mangga jenis Gadung. Perbedaannya terletak  pada warna dan rasanya. “Soal rasa jelas berbeda. Rasanya manis segar, mirip buah nanas. Dan seratnya lebih banyak dari mangga pada umumnya. Jika buah ini matang, warnanya akan semakin pekat seperti apel merah,” ucap Novem.

Disebutkan, mangga tersebut  juga asyik  dibuat bisnis. Alasannya, daya tahannya sangat kuat dibandingkan dengan mangga yang lain. Mangga Garifta bisa bertahan hingga 14 hari dari proses panen. Sehingga, penjualan jarang mengalami kerugian.

"Jika mangga biasa, akan masak ketika 4 hingga 7 hari setelah dipetik. Jadi jika ada permintaan dari luar kota, harus memilih ekspedisi yang kilat. Agar cepat sampai. Kalau Mangga Garifta bisa dibuat santai," sambung Novem.

Masih kata Novem, kendala bagi petani adalah cuaca yang tidak mendukung. Sehingga kualitas Mangga Garifta turun dari tahun lalu. “Akibat hujan yang terjadi bulan lalu, menyebabkan Mangga Garifta mengalami penurunan kualitas. Dibandingkan tahun lalu turun sekitar 30 persen,” pungkas Novem. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#Mangga #pertanian #Mangga Garifta