Novem, salah satu petani Mangga Garifta mengaku, untuk mencari buah tersebut tidak bisa sembarangan menemukannya di semua desa di Kabupaten Situbondo. Sebab, penanamannya hanya difokuskan di daerah Sopet sejak 2012. Hingga saat ini sudah tumbuh subur dan buahnya memberikan keuntungan besar bagi pemiliknya.
"Karena stok terbatas. Mangga ini dibanderol dengan harga Rp 30 ribu perkg. Permintaan konsumen banyak dari luar kota. Seperti Jakarta, Bandung, Bali, Riau, Balikpapan dan kota besar lainnya,” ungkap Novem.
Kata dia, Mangga Garifta memiliki bentuk yang sama dengan mangga jenis Gadung. Perbedaannya terletak pada warna dan rasanya. “Soal rasa jelas berbeda. Rasanya manis segar, mirip buah nanas. Dan seratnya lebih banyak dari mangga pada umumnya. Jika buah ini matang, warnanya akan semakin pekat seperti apel merah,” ucap Novem.
Disebutkan, mangga tersebut juga asyik dibuat bisnis. Alasannya, daya tahannya sangat kuat dibandingkan dengan mangga yang lain. Mangga Garifta bisa bertahan hingga 14 hari dari proses panen. Sehingga, penjualan jarang mengalami kerugian.
"Jika mangga biasa, akan masak ketika 4 hingga 7 hari setelah dipetik. Jadi jika ada permintaan dari luar kota, harus memilih ekspedisi yang kilat. Agar cepat sampai. Kalau Mangga Garifta bisa dibuat santai," sambung Novem.
Masih kata Novem, kendala bagi petani adalah cuaca yang tidak mendukung. Sehingga kualitas Mangga Garifta turun dari tahun lalu. “Akibat hujan yang terjadi bulan lalu, menyebabkan Mangga Garifta mengalami penurunan kualitas. Dibandingkan tahun lalu turun sekitar 30 persen,” pungkas Novem. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal