Pantauan koran ini, hanya beberapa LPJU saja yang terpasang di jalan Desa Karangtekok, Kecamatan Banyuputih. LPJU tersebut hanya cukup menerangi jalan sepanjang 500 meter. Sedangkan panjang Jalan Raya Baluran mencapai 23 Kilometer. ”Memang sangat minim penerangan, bahkan saat berada di tengah hutan Baluran juga cukup membahayakan,” ujar Sutrisno, tokoh masyarakat Desa Banyuputih, Sutrisno.
Kata dia, minimnya penerangan tersebut memang membuat jalur sangat berbahaya. Baik dikarenakan banyaknya insiden kecelakaan maupun aksi tindak pidana lainnya.
”Jarak pandang para pengendara sangat minim, dikarenakan hanya mengandalkan lampu dari kendaraan. Sehingga, banyak pengendara yang menggunakan lampu jarak jauh. Namun itu pun tidak maksimal,” kata lelaki 53 tahun tersebut.
Bukan hanya itu, jelas Sutrisno, kawasan yang dikenal sebagai Africa van Java itu juga menyimpan kisah mistis. Bahkan cukup membuat bulu kuduk merinding ketika mendengarkan ceritanya.”Ada jalur yang namanya Curah Tangis (jurang tangis), jalur itulah yang sering disebut-sebut oleh masyarakat menjadi penyebab terjadinya kecelakaan,” terang warga Desa Karangtekok, Kecamatan Banyuputih tersebut.
Rumor yang beredar, masih kata Sutrisno, dulunya Curah Tangis tersebut merupakan aliran sungai yang bermuara ke Selat Bali. Berbagai versi cerita mengerikan berkembang di kalangan masyarakat tentang Jurang Tangis tersebut. ”Ada yang bilang jurang tersebut memiiki kedalaman 18 meter. Kadang terdengar seperti ada suara tangisan perempuan,” ungkapnya.
Beberapa masyarakat percaya, suara tangisan itu berasal dari kisah masa lalu tentang tragedi yang terjadi di Curah Tangis. Konon ada seorang Gadis yang menunggu kekasihnya datang di tempat tersebut. Namun, saat kekasihnya datang justru mendorong perempuan tersebut masuk ke jurang. Kepala gadis itu pecah karena terbentur batu dan tewas. Sehingga arwahnya disebut-sebut menghuni Jurang Tangis.
”Tidak jarang sosoknya pun sering muncul di tepi jalan dan bahkan sering dikatakan sebagai penyebab kecelakaan di jalur Hutan Baluran. Bahkan, sering pula yang melihat bayangan melintas ketika melewati jalur tersebut,” ungkapnya.
Terlepas dari cerita itu, jalur Curah Tangis tetap menjadi jalur terangker saat melintas di Hutan Baluran. Meski begitu, ada sebagian masyarakat yang tidak percaya. Mereka menilai jika kecelakaan yang sering terjadi dikarenakan kurangnya penerangan jalan. Bukan karena kisah mistis jurang tangis. ”Memang salah satu penyebabnya juga dikarenakan minimnya lampu. Ketika pengendara melintas yang tidak hafal dengan jalur tersebut, bisa mengakibatkan kecelakaan,” jelasnya.(rio/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal