Penyesuaian tarif jasa angkut barang tersebut dilakukan oleh sejumlah pemilik kapal motor (KM) yang bersandar di Pelabuhan Kalbut. Mereka membawakan barang-barang milik warga kepulauan yang berbelanja ke Kabupaten Situbondo. "Memang meningkat sejak kenaikan harga BBM, dari harga biasanya Rp 75 ribu perton kini menjadi Rp 100 ribu perton," ujar Juragan kapal angkut barang, Salam.
Salam menjelaskan, jasa angkut barang tersebut tergantung golongan. Jika barang berupa semen, maka hitungannya per ton. Sedangkan, alat elektronik maka hitungannya per karton. "Satu karton bisa Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu, jika borongan satu pikapnya hanya Rp 250 ribu," katanya.
Hal itu, jelas Salam, juga tergantung dari tingkat resiko barang. Seperti telur yang mudah pecah. Maka ongkosnya juga cukup besar. "Kalau telur dihitung perbiji. Perbijinya bisa Rp 1.000, karena resikonya pecah," ungkapnya.
Barang semacam telur tersebut, kata Salam, akan dijual kembali. Namun ada juga yang dipergunakan sendiri. "Kita hanya mengantarkan saja, nanti sudah ada yang mengambil barang saat kapal sandar di Pulau Sepudi," ungkapnya.
Hal serupa juga diungkapkan nelayan yang bekerja sebagai jasa angkut penumpang kapal jurusan Pulau Sapudi. Tarif para penumpang kapal dari Pelabuhan Kalbut ke Pulau Sepudi juga mengalami peningkatkan. " Dari biasanya Rp 45 ribu per orang sekarang Rp 60 ribu perorang," kata Sudartok, salah satu nelayan yang mengantar penumpang ke kapal. (rio/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal