Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dua Tahun Cuaca Buruk, Tembakau Kayumas Kurang Berkualitas

Edy Supriyono • Selasa, 19 Juli 2022 | 17:07 WIB
MENIMABANG: Darsuki warga Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, melayani pembeli tembakau, Minggu (17/7) siang. (Humaidi/Radar Situbondo)
MENIMABANG: Darsuki warga Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, melayani pembeli tembakau, Minggu (17/7) siang. (Humaidi/Radar Situbondo)
ARJASA, Jawa Pos Radar Situbondo - Rasa tembakau Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, Situbondo, yang selama ini diminati banyak orang kini sulit dicari. Sebab, sudah banyak yang berubah. Itu akibat cuaca yang tidak menentu dalam dua tahun terakhir.

Warga di kabupaten Situbondo, khususnya yang suka merokok pasti sudah paham tentang aroma tembakau Kayumas yang banyak peminatnya. Sehingga, wajar jika kemudian banyak pedagang tembakau yang membuka kios di pinggir jalan raya memberi nama kios Tembakau Kayumas.

“Tembakau Kayumas memang sudah terkenal dari dulu. Karena aroma tembakaunya itu sangat harum dan disukai banyak orang,” ungkap Darsuki warga Desa Kayumas, Minggu (17/7).

Sayangnya, tembakau yang menjadi incaran banyak orang, itu kini malah sulit didapatakan. Apalagi cuaca yang tidak menentu dalam dua tahun terakhir ini. Petani memilih tidak menanam tembakau sehingga sulit mencari tembakau Kayumas. Meskipun ada yang menanam, panen mereka banyak yang rusak dan tidak layak di jual.

“Kalau tembakau kan harus teratur, pokoknya kalau sudah waktunya panen, lalu turun hujan, Tembakau pasti banyak yang rusak. Makanya banyak yang takut untuk bertani tembakau, karena cuacanya yang tidak menentu,” imbuh penjual tembakau yang membuka kios di Jalan Raya Kecamatan Arjasa itu.

Kata Darsuki, tembakau kayumas saat ini sudah banyak  yang berubah. Sebab, cara perawatannya tidak sama dengan zaman dulu. Petani sekarang, banyak yang mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Sehingga aroma tembakau kayumas sama dengan tembakau di darah lain.

“Tembakau dulu, tidak terlalu banyak memakan obat-obatan. Dulu tidak pakai obat yang mematikan rumput, tidak pakai pupuk. Tembakau dulu sangat alami. Kalaupun ada rumput tidak diobat, hanya dicabut. Akhirnya rumput kering dan jadi pupuk,” jelasnya.

Selain itu, cara panen harus setiap tahun. Bukan seperti sekarang yang melakukan panen satu tahun tiga kali. Artinya banyak petani yang ambisi untuk mendapatakan hasil banyak dari pada memanen tembakau yang berkualitas.

“Sekarang kan banyak obat, pokoknya bermacam-macam. Coba bayangkan, baru tanam sudah main obat, pertengahan main obat, pas dipanen obat lagi. Habis itu waktu di pasat di semprot obat lagi hingga digulung juga di obat. Makanya jangan heran kalau tembakau sekarang banyak yang pahit,” pungkas Darsuki. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#Tembakau #cuaca ekstrem #pertanian #Kualitas Tembakau #rokok