Selasa, 23 Apr 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Ekonomi Bisnis

Bangun Pabrik Kereta Api di Ketapang, PT Inka Gerojok Rp 1,6 Triliun

09 Maret 2019, 06: 05: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

TINJAU LOKASI: Owner Stadler Rail Group Peter Spuhler (depan, kiri) mendengar pemaparan rencana pembangunan pabrik Inka di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro kemarin (8/3).

TINJAU LOKASI: Owner Stadler Rail Group Peter Spuhler (depan, kiri) mendengar pemaparan rencana pembangunan pabrik Inka di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro kemarin (8/3). (RAMADA KUSUMA FOR JAWAPOS.COM)

BANYUWANGI – Rencana PT Industri Kereta Api (Inka) membangun pabrik kereta api (KA) di Banyuwangi mulai terealisasi. Investasi sekitar Rp 1,4 triliun sampai Rp 1,6 triliun bakal digerojok untuk membangun pabrik sepur terintegrasi dan terbesar se-Indonesia tersebut.

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, belasan alat berat dikerahkan untuk meratakan lokasi pembangunan pabrik sepur di lahan seluas kurang lebih 83 hektare kemarin (8/3). Tepatnya di wilayah Dusun Pancoran, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro.

Diperoleh keterangan, PT Inka akan berkolaborasi dengan salah satu perusahaan KA terbesar dunia asal Swiss, yakni Stadler Rail Group untuk membangun industri kereta api yang akan fokus menggarap pasar ekspor tersebut. Pada tahap awal, PT Inka menginvestasikan dana sebesar Rp 600 miliar guna pembangunan pabrik sepur di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Sebelum peletakan batu pertama dilakukan, Direktur Utama (Dirut) PT Inka Budi Noviantoro bersama Owner dan Chairman Stadler Mr Peter Spuhler, mengunjungi lokasi pembangunan pabrik kemarin. Saat berada di lokasi, Budi menunjukkan denah sekaligus memaparkan letak geografis pabrik.

Budi mengatakan, lokasi pabrik PT Inka yang akan dibangun bersama Stadler tersebut hanya berjarak sekitar dua sampai tiga kilometer dari Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Wangi. Sontak, Owner Stadler menimpali bahwa lokasi pabrik tersebut sangat sempurna. ”It’s perfect,” ujarnya.

Sementara itu, sebelum mengunjungi lokasi pembangunan pabrik, pihak PT Inka dan Stadler menandatangani nota kesepahaman alias memorandum of understanding (MoU) di Pendapa Sabha Swagata Blambangan Kamis malam (7/3). Penandatanganan MoU disaksikan langsung Bupati Abdullah Azwar Anas.

Dirut PT Inka Budi Noviantoro mengakui pengembangan industri kereta di Banyuwangi menyimpan cerita unik. Inka semula ingin membangun pabrik sebagaimana pabrik di tempat lain. ”Tapi ternyata di Banyuwangi kami diajak menjadi bagian pengembangan pariwisata. Desain awal bangunan yang kami presentasikan akhirnya diubah dengan mengusung arsitektur hijau dan mengadopsi kekhasan Suku Oseng Banyuwangi,” ujarnya.

Budi menambahkan, setelah penandatanganan MoU, pihaknya bersama pihak Stadler akan mendetailkan bentuk kerja sama yang akan dilakukan. ”Kami (Inka) membangun gedungnya. Mereka (Stadler) yang mengisi mesin-mesin dengan teknologi tinggi, software, dan lain-lain. Pekerja yang akan ditempatkan di Banyuwangi akan dididik di Swiss sekitar tiga bulan sampai empat bulan. Jadi, ada transfer knowledge,” kata dia.

Menurut Budi, dengan bekerja sama dengan Stadler, pasar KA produksi Inka akan semakin lebar. Selama ini Inka mendapat pesanan dari negara-negara Asia Tenggara, Asia selatan, dan Afrika. Sedangkan dengan kerja sama tersebut, pangsa pasar KA produksi Banyuwangi akan melebar ke Asia Timur dan Australia, dan lain-lain.

”Apabila Stadler masuk pasar Australia, maka jika barang dikirim dari Swiss membutuhkan biaya sangat mahal. Maka, lebih efektif memproduksi kereta di Banyuwangi lantas dikirim ke Australia. Apalagi, lokasi pabrik Banyuwangi sangat dekat dengan Pelabuhan Tanjung Wangi,” jelasnya.

Budi menuturkan, investasi yang akan ditanamkan untuk pembangunan pabrik Inka di Banyuwangi sekitar Rp 1,4 triliun sampai Rp 1,6 triliun. Untuk tahap awal, investasi yang digerojok sebesar Rp 600 miliar.

Chairman Stadler Rail Group Peter Spuhler mengatakan, pihaknya antusias membawa teknologi terbaru Eropa ke Banyuwangi. ”Stadler kini memiliki 10 pabrik dari Rusia sampai Amerika Serikat. Sekarang kami akan memasuki banyak pasar baru potensial. Kita sambut masa depan yang cerah,” ujarnya.      

Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, pabrik Inka menjadi landmark baru Banyuwangi. Dengan dilengkapi museum perkeretaapian, pabrik sepur tersebut bakal menjadi destinasi wisata anyar. ”Kami ingin Inka tidak hanya sekadar industri, tapi juga membawa kekayaan peradaban dan kebudayaan daerah. Adanya museum juga bisa menjadi destinasi wisata teknologi dan edukasi,” ujarnya.

Anas menambahkan, di Banyuwangi setiap ruang publik dan bangunan baru harus mengakomodasi kekhasan Suku Oseng. ”Ini ikhtiar membangun mainstream pariwisata sehingga terinternalisasi ke seluruh sektor di Banyuwangi,” imbuh Anas. (*)

(bw/sgt/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia