Selasa, 23 Apr 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Geliat Bazar di Arena Pengajian Ahad Pagi Masjid Besar Ahmad Dahlan

Sajikan Menu Lontong Kare dan Pecel

30 Januari 2019, 09: 20: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

SELALU RAMAI: Nasi pecel dagangan Sri Rahayu dijubeli pembeli yang juga jamaah pengajian Ahad pagi Masjid Besar Ahmad Dahlan.

SELALU RAMAI: Nasi pecel dagangan Sri Rahayu dijubeli pembeli yang juga jamaah pengajian Ahad pagi Masjid Besar Ahmad Dahlan. (Fredy Rizki/RaBa)

Masjid Besar KH Ahmad Dahlan Banyuwangi tak pernah sepi dari aktivitas keagamaan. Ahad pagi rutin digelar pengajian. Jamaah pengajian selalu membeludak sampai halaman masjid. Yang menarik, di halaman masjid tersebut juga digelar bazar aneka makanan.   

FREDY RIZKI, Banyuwangi

TANGAN lincah tiga orang ibu-ibu berusia di atas 50 tahun terlihat saling beradu menyiapkan menu nasi pecel dan lontong kare di depan Masjid KH Ahmad Dahlan pagi itu. Sesekali mereka bertukar perintah untuk melengkapi isi dari menu yang sedang mereka racik.

Tak lama kemudian, beberapa jamaah usai mendengarkan pengajian mulai mendekat. Ketiganya pun semakin sibuk bertukar peran memindahkan sayur hijau ke piring, menuangkan kuah kare ke piring, dan menyiapkan piring baru untuk pemesan selanjutnya. Sekilas mereka terlihat kewalahan memenuhi pesanan yang terus berdatangan.

Tapi pengalaman ketiganya dalam melayani, membuat pekerjaan menyiapkan setiap piring nasi terlihat mudah dan ringkas saja. Tak perlu menunggu lama, satu per satu pelanggan sudah memperoleh nasi pesanannya. ”Sudah mulai tahun 2005 saya di sini, jadi sudah biasa seperti ini. Dulu malah jauh lebih ramai,” ujar Sri Rahayu, pedagang nasi pecel di lapak depan Masjid KH Ahmad Dahlan.

Ibu tiga anak itu menceritakan, dulunya tidak berjualan di dalam kompleks masjid. Dia justru berjualan di timur masjid di seberang jalan. Meski berada di luar kompleks, pembeli cukup banyak. Mereka rela menyeberang jalan hanya untuk menikmati menu nasi pecel dan lontong pecel.

Sampai akhirnya pengurus masjid memintanya untuk berjualan di dalam kompleks masjid dengan pertimbangan mempermudah jamaah yang akan membeli. ”Dulu saya jualan untuk anak-anak kos di dekat rumah. Kemudian melayani katering, khusus hari Minggu jualan di sini,” kata wanita yang akrab disapa Yayuk itu.

Untuk jenis makanan, selain menjual nasi pecel dan lontong pecel, Rahayu juga menjual beberapa jenis lauk dan sayur. Peserta pengajian yang didominasi ibu-ibu tentunya banyak yang belum menyiapkan sarapan karena harus berangkat pagi-pagi ke masjid untuk mengikuti pengajian. ”Sayurnya ya bobohan, tewel, sayur bali, klentang, kare, tempe, botok, pelasan tawon, ontong, perkedel. Ada juga yang dikemasi seperti nasi goreng,” jelasnya.

Semua menu itu dimasak sendiri oleh Rahayu. Sejak hari Sabtu atau sehari sebelum pengajian, dirinya sudah mempersiapkan semua masakan-masakan tersebut. Karena sebelum jam 6 pagi lapaknya harus sudah siap menghamparkan berbagai menu di halaman Masjid KH Ahmad Dahlan. ”Sabtu sudah disiapkan bahan-bahannya. Minggunya jam 2 pagi saya mulai memasak sampai pagi. Semuanya saya lakukan sendiri,” tuturnya.

Saat ini pembeli tidak seramai beberapa tahun silam. Banyaknya pengajian-pengajian serupa di beberapa lokasi membuat jumlah jamaah pengajian di tempatnya menjadi berkurang. Padahal dulu jamaah yang mengikuti pengajian bisa meluber sampai memenuhi seluruh parkiran. ”Dulu dari Genteng, Srono, Rogojampi, sekarang mungkin mereka mengaji di dekat tempat tinggalnya. Cuma kalau ada pendakwah yang dari luar kota baru ramai lagi,” ungkapnya.

Junarti, 65, teman dari Sri Rahayu yang mendampingi berjualan menambahkan, selama 14 tahun berjualan menu yang mereka sajikan tetap sama. Hal itu membuat daya tarik tersendiri bagi para jamaah terutama yang sudah lama menjadi peserta pengajian Ahad. 

Seperti yang dikatakan Jumawah, 65, salah seorang jamaah pengajian Ahad pagi. Dirinya cukup sering menikmati pecel yang dijual Rahayu. Apalagi ketika tidak siap menyediakan makanan sebelum berangkat pengajian. ”Yang khas pecelnya, karena sudah biasa makan jadi punya rasa sendiri,” ujarnya.

Sayangnya, meski sudah cukup lama menjadi bagian dari rutinitas jamaah pengajian Ahad pagi di Masjid KH Ahmad Dahlan, sang pemilik usaha nasi tersebut tidak memiliki penerus untuk dagangannya. Ketiga anak Sri Rahayu sudah tidak mungkin untuk meneruskan. Selain karena yang dua adalah laki-laki, anak perempuannya juga berada di luar kota.

Hal serupa diungkapkan Indah, 50, adik dari Rahayu yang selalu membantu berjualan. Dia mengaku tidak ada penerus untuk usaha tersebut. ”Ya tidak ada lagi, tinggal kita bertiga saja yang berjualan,” pungkasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia