Selasa, 23 Apr 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Sports

Sejumlah Atlet Mulai Eksodus dari Banyuwangi, Ini Gara-garanya...

16 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

SUDAH LAKU: Muhamad Mundir, 22, eks atlet panahan Banyuwangi yang kini membela Nangroe Aceh Darussalam (NAD) untuk menghadapi PON Papua 2020.

SUDAH LAKU: Muhamad Mundir, 22, eks atlet panahan Banyuwangi yang kini membela Nangroe Aceh Darussalam (NAD) untuk menghadapi PON Papua 2020. (Fredy Rizki/RaBa)

BANYUWANGI – Salah satu efek samping dari ketidakjelasan persiapan kontingen Banyuwangi untuk turun di Porprov Jawa Timur 2019 yakni berakibat keputusan sejumlah atlet Banyuwangi untuk bergabung dengan kontingen kabupaten lain. KONI Banyuwangi menilai, potensi tersebut masih ada. Namun, untuk saat ini ada ancaman baru yang lebih menggiurkan, yaitu Puslatda dan Pelatnas.

Wakil Ketua 1 KONI Banyuwangi Bidang Pembinaan Prestasi Budi Wijayanto mengatakan, untuk kepindahan atlet ke kabupaten lain di Jawa Timur, kemungkinannya saat ini cukup kecil. Karena KONI Jatim sudah membuat regulasi bahwa atlet boleh membela sebuah kabupaten minimal setelah tinggal setahun di kota atau kabupaten tersebut. Meski kecil, kata Budi, tidak menutup kemungkinan atlet yang merasa tidak puas akan tetap meninggalkan Banyuwangi. Meskipun itu di kabupaten lain di luar Jatim.

Akan tetapi, jika membicarakan Puslatda dan Pelatnas, maka potensi kepindahan atlet semakin besar. Sebab, hal ini sulit dicegah oleh cabor. Banyuwangi sendiri sudah kehilangan beberapa atlet karena ditarik Puslatda dan Seleknas beberapa bulan lalu. Di antaranya tiga atlet kempo Banyuwangi yaitu Rendy Setiawan, Nur Imamah, dan Kiki Kusnandar. Kemudian satu atlet panahan yang masuk Seleknas untuk persiapan Sea Games Filipina, yaitu Purwananda Prayoga.

Meskipun cabor tidak bisa berbuat banyak, namun kepergian para atlet tersebut akan berdampak cukup besar. Terutama untuk prestasi Banyuwangi jika turun di Porprov Jatim 2019 nanti. ”Di Puslatda dan Pelatnas ini sudah jelas kompensasinya. Misalnya di Pelatnas, sebulan atlet digaji Rp 7,5 juta, belum dengan tambahan uang peralatan dan bonus. Cabor juga tidak mungkin menahan atlet karena itu sudah menjadi masa depan mereka,” jelasnya.

Fenomena ini, kata Budi, menjadi dilema untuk saat ini. Karena di saat Banyuwangi yang tengah berusaha mempersiapkan diri untuk tampil berprestasi di Porprov dengan persiapan ala kadarnya, justru kehilangan atlet andalan-andalannya.

”Ini sebenarnya menjadi kekhawatiran banyak cabor. Cuma mungkin kalau kita bisa meyakinkan Porprov ini menjanjikan, mungkin bisa sedikit menahan atlet. Tapi jika tidak ya kita harus memikirkan kesejahteraan mereka,” tandasnya.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia