Selasa, 23 Apr 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Opini

Lingkungan Hidup dan Adipura

Oleh: Bambang Purwanto

15 Januari 2019, 06: 30: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Lingkungan Hidup dan Adipura

TIDAK setiap orang memiliki lingkungan yang bersih dan sehat. Dunia tentunya berharap agar penghuni planet bumi ini mempunyai perhatian dan kecintaan terhadap lingkungan serta memeliharanya. Sebagai refleksi hari lingkungan hidup internasional hendaknya kita warga bangsa sedunia mengetahui makna peringatan hari lingkungan hidup tersebut.

 

Substansi atau Prestisius

Lingkungan hidup yang ideal adalah yang bersih dan sehat. Semua orang pasti menginginkan hal itu. Menciptakan lingkungan yang bebas dari kotoran dan pencemaran merupakan salah satu yang digaungkan dalam peringatan hari lingkungan hidup sedunia.  

Permasalahannya, belum semua warga dunia mengerti dan peduli terhadap kebersihan dan pencemaran lingkungannya. Secara substansial, untuk menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan diperlukan adanya kesadaran masyarakat untuk selalu ikut menjaga kebersihan.

Sedangkan untuk memotivasi kesadaran masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan, maka Pemerintah Indonesia mengadakan perlombaan yang disebut Adipura dan Sekolah Adipura Wiyata Mandiri. Para kepala daerah dan sekolah pun saling bersaing dan tampak sangat gigih seakan-akan hendak maju perang, demi memperoleh anugerah penghargaan tertinggi dan bergengsi tingkat nasional yang diserahkan setiap tahunnya.

Perolehan Adipura, Adipura Kencana, maupun Adipura Wiyata, itulah yang disebut prestisius. Setiap daerah berusaha memperoleh harga dirinya di sektor lingkungan hidup.

 

Manajemen Sampah

Kota yang dinominasikan Anugerah Adipura Kencana ini diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup seperti pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran dan ruang terbuka hijau (RTH), dan lain-lain, tapi juga berinovasi di bidang pengelolaan sampah dan RTH. Selain itu, diharapkan juga mampu membuat sistem pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan, serta penurunan ketimpangan ekonomi dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Masalah utama lingkungan hidup adalah sampah yang jumlahnya semakin banyak. Adapun kendala manajemen sampah sebagai berikut.

Pertama adalah lahan pasar yang terbatas. Idealnya, setiap pasar memiliki tempat pengolahan sampah sendiri sehingga bisa mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Caranya membuat sistem pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan, serta penurunan ketimpangan ekonomi dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Kedua membangun kesadaran membuang sampah untuk lingkungan bersih dan sehat. Upaya ini membutuhkan proses waktu yang cukup panjang. Caranya melalui contoh dan pembudayaan disiplin. Kita bisa bangun motivasi agar warga merasa tidak nyaman jika membuang sampah sembarangan. Mereka kemudian harus membuang sampah di tempat yang sudah disiapkan.

Ketiga berkaitan dengan pencemaran baik di darat, laut, maupun udara, serta pencemaran lainnya. Ini merupakan permasalahan yang penyelesaiannya melalui regulasi dan   pembelajaran. Untuk membentuk pembelajaran dalam hal pencemaran dengan memanfaatkan berbagai media yang dapat memotivasi menuju lingkungan yang bebas polusi dan lingkungan yang terjaga kesehatannya.

Jadi, sebagai refleksi hari lingkungan hidup sedunia, ciptakanlah lingkungan manusia menjadi lebih bersih dan sehat. Dimulai dari diri pribadi, kelompok masyarakat kecil, suatu bangsa, hingga masyarakat dunia.(*)

*) Guru SMAN 1 Panji, Situbondo.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia