Jumat, 18 Jan 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng
Dari Simulasi Tanggap Bencana di Pantai Mustika

Waspadalah! Tsunami Masih Mengintai Wilayah Selatan Banyuwangi

07 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MENANGIS KESAKITAN: Warga memberikan pertolongan kepada korban tsunami yang tertimpa reruntuhan bangunan dalam simulasi tsunami di Pantai Mustika, Pancer, Sabtu (5/1).

MENANGIS KESAKITAN: Warga memberikan pertolongan kepada korban tsunami yang tertimpa reruntuhan bangunan dalam simulasi tsunami di Pantai Mustika, Pancer, Sabtu (5/1). (Krida Herbayu/RaBa)

BANYUWANGI - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi menyatakan bahwa wilayah Pantai Selatan memiliki potensi tsunami. Termasuk pula Pantai Pancer, Lampon, Plengkung, Rajegwesi, dan Grajagan yang rawan diterjang tsunami.

Pantai Selatan terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia. Sejarah mencatat, sejak awal abad ke-20, pantai selatan Jawa telah dilanda oleh 20 kali kejadian tsunami yang dipicu oleh goncangan gempa bumi.

Di Banyuwangi, wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran dan sekitarnya. Tsunami besar yang melanda Banyuwangi tahun 1994 dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo 7,8 SR dan mengakibatkan 299 nyawa melayang. 

Melihat tingginya potensi tsunami, warga yang tinggal di kawasan pesisir selatan perlu dibekali tanggap bencana sejak dini. Bekal ini penting mengingat sewaktu-waktu bencana tsunami bisa terjadi di Banyuwangi. 

Penanganan cepat ini tergambar dalam simulasi tanggap bencana tsunami di Pantai Mustika, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Sabtu (5/1). Simulasi penanggulangan bencana tsunami itu disaksikan langsung oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan serta sembilan Kapolres yang menaungi wilayah rawan tsunami.

Luki Hermawan mengungkapkan, sembilan kabupaten yang rawan bencana tsunami di Jatim adalah Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Situbondo, dan Banyuwangi. Simulasi seperti yang berlangsung kemarin sangat penting dilakukan, mengingat Banyuwangi merupakan daerah yang paling banyak memiliki wisata pantai. ”Kedelapan kabupaten itu rawan tsunami dan simulasi tanggap bencana penting dilakukan,” tegas jenderal polisi bintang dua tersebut.

Menurut Luki, simulasi tanggap bencana sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terlebih yang tinggal di wilayah rawan bencana. Luki menyebut kegiatan simulasi, seperti yang dilaksanakan di Banyuwangi ini, juga harus diterapkan di delapan daerah rawan tsunami lainnya. Sebab, mayoritas warga belum paham betul terkait peringatan dini ataupun awal mula terjadinya gelombang besar yang menerjang pesisir pantai dan sekitarnya. ”Kami akan terapkan simulasi penanggulangan bencana itu di setiap wilayah yang rawan tsunami,” ungkap Wakabaintelkam Polri tersebut.

Berdasar catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2018 terjadi 1999 bencana di Indonesia. BNPB juga memprediksi jumlah tersebut masih bisa bertambah, mengingat letak Indonesia secara geologi berada di patahan aktif yang menyebar hampir seluruh wilayah Indonesia. ”Apalagi di Jatim juga sering terjadi gempa bumi,” ungkap Luki.

Luki menambahkan pihaknya mendukung kegiatan tersebut. Selain itu, semua kalangan mulai dari masyarakat, Polri, TNI, Tagana, Satpol PP, BPBD, Damkar, dan Dinas Kesehatan pun saling bersinergi. Dari kegiatan itu, diharapkan agar masyarakat lebih siap dan sigap jika sewaktu-waktu terjadi bencana, sehingga dapat meminimalisasi korban. Selain itu, satuan tugas terkait kebencanaan juga diharapkan dapat semakin terlatih. ”Tim gabungan sangat tanggap dan respons penanggulangan bencana tsunami tergolong cepat,” paparnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan, 24 tahun lalu badai tsunami melanda kawasan pesisir selatan. Bencana itu terjadi pada Jumat, 3 Juni 1994, pukul 02.00 dini hari. Kala itu, gelombang tsunami menyapu bersih kawasan pesisir selatan Banyuwangi. Hingga 24 tahun berlalu, nestapa itu masih tersimpan kuat di dalam ingatan mereka yang selamat dari amukan gelombang dahsyat.

”Amukan gelombang tsunami itu melumat permukiman nelayan di sejumlah pantai. Di antaranya Pantai Rajegwesi, Pancer, Pulau Merah, Lampon di Kecamatan Pesanggaran. Dan Pantai Grajagan di Kecamatan Purwoharjo,” jelasnya.

Namun, yang paling banyak menelan korban jiwa ada di Pantai Pancer, Pulau Merah, Lampon dan Rajegwesi, Kecamatan Pesanggaran. Total hampir 229 nyawa melayang. Sedangkan di Pantai Grajagan, Kecamatan Purwoharjo dua orang tewas. Sebab itu juga, tugu peringatan tsunami Banyuwangi didirikan di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. ”Untuk mengantisipasi bencana tsunami, pihak BPBD sudah memasang alat pendeteksi dini tsunami di sepanjang garis pantai Banyuwangi,” pungkasnya.

Sementara itu, simulasi penanganan bencana tsunami kemarin juga melibatkan Polres Jajaran yang bersinggungan langsung dengan kawasan laut selatan Pulau Jawa. Simulasi tersebut diikuti lebih dari 300 personel dari berbagai elemen.

Selain Polres Banyuwangi, juga dari Polres Jember, Situbondo, Pasuruan, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Pacitan, dan Trenggalek, serta TNI. Kegiatan ini juga melibatkan BPBD Jatim, Basarnas, Sencom, dan masyarakat yang tinggal di Dusun Pancer.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, seiring dengan sirene Early Warning System (EWS), warga secara serentak menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih aman. Jalur-jalur  evakuasi yang sudah disiapkan di sejumlah titik menjadi petunjuk warga untuk mencari selamat.

Pada saat suara sirene meraung-raung, warga yang lain dengan sigap, membunyikan kentongan dan siaran lewat pengeras suara di masjid. Dalam simulasi itu juga digambarkan dahsyatnya gempa bumi yang mengguncang wilayah pesisir selatan. Akibat gempa berkekuatan besar itu, permukiman warga luluh lantak. Banyak korban berjatuhan akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Tak lama setelah gempa bumi, ombak besar datang menyapu seluruh daratan. Bangunan rumah, kantor, layanan publik digambarkan rata dengan tanah. Pascabencana, petugas gabungan Polri, TNI, BPBD, serta instansi terkait terlihat saling bantu-membantu keselamatan korban tsunami.

Sejumlah korban dengan kondisi luka parah hingga meninggal dunia berhasil dievakuasi. Evakuasi tak hanya dilakukan di darat, tapi juga di laut. Peralatan pendukung keselamatan bencana seperti ambulans, tandu, posko bencana, dan dapur darurat didirikan, termasuk kelengkapan kesehatan. Warga pun dievakuasi ke tempat yang aman dari gelombang tsunami.

EVAKUASI: Seorang anggota TNI AD menggotong bocah korban tsunami didampingi ibu korban di Pantai Mustika, Desa Sumbergaung, Pesanggaran

EVAKUASI: Seorang anggota TNI AD menggotong bocah korban tsunami didampingi ibu korban di Pantai Mustika, Desa Sumbergaung, Pesanggaran (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

(bw/ddy/kri/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia