Jumat, 18 Jan 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

Umat Hindu Rayakan Galungan, Janur Banyuwangi Laris Manis

28 Desember 2018, 19: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MENINGKAT: Nur Hasan memilah janur, menguntai, dan mengikat sesuai pesanan di depan rumahnya, Rabu (26/12).

MENINGKAT: Nur Hasan memilah janur, menguntai, dan mengikat sesuai pesanan di depan rumahnya, Rabu (26/12). (BAGUS RIO/ JPRG)

SONGGON-Para pedagang janur, sedang panen. Pesanan janur dari Bali, akhir-akhir ini terus meningkat. Itu berbarengan dengan umat Hindu yang sedang sedang merayakan hari raya Galungan dan Kuningan, Rabu (26/12).

Salah seorang pengepul janur Nur Hasan, 32, asal Desa/Kecamatan Songgon mengaku pesanan janur kini meningkat drastis dibandingkan hari biasanya. Peningkatan pesanan ini sudah sejak dua pekan lalu. Jika hari biasa, permintaan hanya berkisar 300 ikat. Memasuki perayaan Galungan dan kuningan pesanan meningkat hingga 500 ikat bahkan lebih. “Pesanan yang meningkat itu sejak awal bulan Desember 2018 ini,” katanya.

Menurut Hasan, janur asal Banyuwangi yang dikirim ke Bali itu banyak dimanfaatkan untuk pembuatan sesaji dan hiasan ritual, seperti penjor dan berbagai keperluan umat Hindu lainnya. Harga satu ikat janur yang berisi 10 untai kecil, dijual dengan harga Rp15 ribu per ikatnya. Jika dikirim ke Bali, harganya bisa naik berkisar Rp 20 ribu per ikat. “Harganya relatif stabil dan cenderung naik,” ujarnya.

Naiknya permintaan janur, terang dia, sangat mempengaruhi harga jual dipasaran. Saat ini mencari janur itu tidak mudah. Banyak pemilik pohon kelapa yang menolak dibeli janurnya, dengan alasan merusak pohon dan buah kelapa. “Sekarang sangat sulit cari pemasok janur, apalagi semenjak adanya perda yang tidak boleh menjual janur,” cetusnya.

Selain untuk perayaan Galungan dan Kuningan di Bali, masih kata dia, permintaan pesanan daun kelapa muda itu juga datang dari masyarakat Banyuwangi. Terutama pedagang janur di pasaran. “Pasokan janur dari Banyuwangi lebih banyak dari Kabupaten Jember,” ungkapnya

Perda yang mengatur larangan janur itu, sebut dia, sebenarnya malah mempersulit masyarakat. Masyarakat Kabupaten Banyuwangi, kini banyak yang menjadi pedagang janur. “Kalau bisa perda itu diubah, sekarang banyak yang takut menjual janur,” katanya. (abi)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia