Sabtu, 23 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Kisah Susiati, Nenek Pemecah Batu Koral Asal Gambiran

Terpaksa Berpuasa Jika Batu dan Kayu Tidak Laku

28 Desember 2018, 18: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERGELUT: Susiati memecah batu kali menggunakan penjepit dan martil di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran.

BERGELUT: Susiati memecah batu kali menggunakan penjepit dan martil di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran. (KRIDA HERBAYU/JPRG)

Banyaknya industri bahan material yang beralih menggunakan mesin, membuat kehidupan para pemecah batu koral manual semakin terhimpit. Susiati, salah satunya. Nasibnya semakin terpuruk setelah batu pecah produksinya tidak laku di pasaran.

KRIDA HERBAYU, Gambiran

Matahari belum terbit, tetapi Susiati, 66, sudah harus berjalan kaki menuju sungai Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, untuk mencari batu. Jalan curam dan licin sejauh dua kilometer dari gubuknya, harus dilintasi demi mendapat bongkahan batu untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama Sumiati, 92, ibu kandungnya.

Pekerjaan sebagai pemecah batu itu sudah dilakoni Susiati sejak 30 tahun lalu bersama sang suami. Namun, sepeninggal suaminya akibat stroke 10 tahun lalu, dia harus berjuang sendiri untuk mencukupi kesehariannya bersama sang ibu yang berusia hampir seabad.

Keterbatasan lapangan kerja serta keahlian yang dimilikinya, memaksa Susiati menyambung hidup sebagai buruh pemecah batu. ”Saya terpaksa menjadi pemecah batu karena sudah tidak bisa bekerja yang lain lagi,” ujar nenek yang tinggal di Dusun Tempurejo, RT 6, RW 2, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, itu.

Pagi buta, Susiati sudah berada di bibir sungai. Dinginnya air sungai tidak menjadi penghalang baginya. Dia lantas mengumpulkan batu-batu seukuran kepalan tangan. Biasanya, Susiati bekerja mulai pukul 05.00 hingga 15.00. Setelah dirasa cukup, bebatuan itu dibawa ke rumahnya menggunakan gerobak besi. ”Saya angkut sedikit demi sedikit ke jalan. Karena saya tidak kuat membawa batu terlalu banyak,” ungkapnya.

Batu yang sudah terkumpul, kemudian dipecah hingga menjadi ukuran kecil menggunakan martil seberat lima kilogram. Dalam sehari, dia hanya mampu menghasilkan satu ember batu pecah yang harganya sekitar Rp 5.000 per ember.

Tak jarang, baru koral hasil pecahan nenek Susiati itu menumpuk di depan rumahnya hingga tiga bulan lamanya, lantaran tidak ada pembeli. Bila batu koralnya itu tidak laku, perempuan renta itu terpaksa mengumpulkan kayu, kemudian dijual ke pasar atau tetangganya. ”Begini nasib saya. Suami sudah meninggal dan anak tidak punya,” imbuhnya sembari memukul batu kali menggunakan martil.

Usai memecah batu kali atau mengumpulkan kayu bakar, pekerjaan Susiati belum selesai. Ia masih harus mengurus dapur dan melayani ibunya yang hanya bisa tergolek di tempat tidur. Tak jarang, dia dan ibunya itu hanya minum kopi sebagai pengganjal rasa lapar. Itu dilakukan jika persediaan beras habis. ”Kalau batu tidak laku, ya begini sudah. Terpaksa puasa,” akunya.

Kini, sudah 150 ember batu pecah menumpuk di depan rumahnya. Lebih dari empat hari, batu pecah produksinya itu tidak diambil oleh tengkulak. Bila datang, biasanya pembeli itu hanya mengambil lima hingga tujuh ember batu koralnya. Hal itu semakin membuat nenek Susiati semakin tak berdaya. ”Mungkin banyak mesin pemecah batu, jadi batu produksi saya kalah di pasaran,” ucapnya.

Meskipun harus bertahan hidup dengan segala keterbatasan, janda itu tidak pernah mengeluh. Dia tetap menerima dan mensyukuri rezeki yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. ”Disyukuri saja. Yang penting saya masih dapat bekerja,” pungkasnya. (abi)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia