Sabtu, 23 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling

Liburan Anti Mainstream di Hutan Baluran, Afrika-nya Pulau Jawa

26 Desember 2018, 16: 59: 33 WIB | editor : Ali Sodiqin

AKSES MUDAH: Pengunjung menikmati Padang Savana Bekol, Taman Nasional Baluran, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo.

AKSES MUDAH: Pengunjung menikmati Padang Savana Bekol, Taman Nasional Baluran, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. (GERDA SUKARNO/RaBa)

SITUBONDO – Liburan Natal dan tahun baru ini paling asyik diisi dengan bepergian ke sejumlah tempat wisata. Namun, hujan yang turun terus-menerus di hampir seluruh wilayah Banyuwangi justru membuat liburan menjadi kurang nyaman. Itu karena tempat wisata yang diguyur hujan, terutama di daerah pegunungan dan air terjun, menjadi becek dan licin.

Satu-satunya tempat wisata dengan sedikit curah hujan adalah Taman Nasional (TN) Baluran. Kawasan ini terletak di Batangan, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Akses masuk ke kawasan ini juga sudah mulus.

Begitu tiba di Bekol, objek pertama di TN Baluran, pengunjung bisa menikmati panorama hutan kering dan gunung Baluran dari ketinggian 64 meter di atas permukaan laut. Di Bekol terdapat menara pandang di puncak bukit.  Di situ juga terdapat padang savana alami.

Nah, dari menara yang letaknya di atas Bukit Bekol ini, pengunjung bisa melihat berbagai jenis satwa seperti merak, ayam hutan, kerbau liar, rusa, kijang, babi hutan, dan lain-lain. ”Saya sudah sering ke sini. Namun, tetap saja ketagihan. Baluran memang bagus dan indah,” ujar Agus, salah seorang pengunjung.

Menurut Agus, akses masuk menuju kawasan yang sudah diaspal hotmix membuat pengunjung lebih nyaman. Jika dulu untuk menuju Bekol butuh waktu hingga 1–2 jam, kini sudah bisa ditempuh 30 menit. ”Saya naik sepeda motor. Jalannya bagus,” imbuh warga Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah, ini.

Menurut Agus, tak hanya pemandangan di Bekol yang indah, di sekitar Pantai Bama juga tak kalah menawan. ”Hutan mangrove-nya masih alami. Terutama di sekitar Pantai Kelor,” katanya.

Wisatawan yang berkunjung ke Baluran memang jarang mengunjungi Pantai Kelor, yang sebenarnya terletak tak jauh Pantai Bama. Yaitu hanya setengah kilometer ke arah selatan Pantai Bama. ”Namun, karena harus berjalan kaki dan letaknya cukup tersembunyi, mungkin mereka malas ke Pantai Kelor,” pungkasnya.

Terpisah, Koordinator Perencanaan Program Kerja Sama dan Pelayanan TN Baluran Arif Pratiwi mengatakan, saat ini TN Baluran memang terus berbenah. Hal itu demi memberi rasa nyaman bagi pengunjung. Seperti pengaspalan jalan di kawasan TN sepanjang 13 kilometer menuju Bekol yang sudah rampung, dan pengaspalan dari Bekol menuju Pantai Bama yang juga sudah mulus.

Selain itu, pihaknya juga merenovasi menara pantau dan mempercantik pusat informasi dan ticketing. Ke depan, TN Baluran juga berencana menyiapkan armada safari yang beroperasi untuk tour dalam kawasan TN Baluran. ”Hal ini lebih ditujukan kepada kenyamanan pengunjung serta pelestarian dan perlindungan satwa yang ada,” kata Pratiwi.

Menikmati hutan mangrove yang masih alami di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran.

Menikmati hutan mangrove yang masih alami di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran. (Dok. Radar Banyuwangi)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia