Selasa, 18 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Hanya Berbekal Golok dan Korek, Herman Berburu Tawon Endas

05 Desember 2018, 13: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TERBIASA DISENGAT TAWON: Herman dengan sarang tawon endas yang baru diambil dari pepohonan di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Senin (3/11).

TERBIASA DISENGAT TAWON: Herman dengan sarang tawon endas yang baru diambil dari pepohonan di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Senin (3/11). (Krida Herbayu/RaBa)

Tawon endas (Xylocopa latipes), bagi sebagian warga dianggap membahayakan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Herman, 47, warga Dusun Gembolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran. Baginya, tawon itu justru dianggap sebagai sumber rezekinya.

KRIDA HERBAYU, Gambiran

Sarang tawon endas sering dianggap teror jika berada di tengah permukiman warga. Sebab, lebah berukuran besar dan bersifat agresif itu tidak segan-segan menyerang orang yang mendekati sarangnya.

Jika sudah terkena sengatan tawon jenis ini, biasanya penderita akan mengalami reaksi seperti kulit memerah atau bengkak. Tidak jarang, orang itu akan mengalami demam tinggi dan bahkan bisa mengancam jiwa.

Tawon endas biasanya membuat sarang pada ketinggian lebih dari lima meter. Daerah yang dipilih di lingkungan yang kering dan tidak terlalu lembap. Koloni tawon biasanya membuat sarang dengan menempel pada kayu kering, atap rumah, dan pohon. ”Saya sering kena sengatannya,” terang Herman, 47, pemburu sarang tawon endas asal Dusun Gembolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran.

Sejak kecil, Herman sudah sering diajak ayahnya mencari sarang tawon. Ia tidak ingat berapa kali disengat oleh tawon endas yang dikenal sangat ganas itu.”Sudah ratusan kali disengat di bagian kepala dan tubuh,” ungkapnya.

Pria berkumis tebal itu paham benar dengan lokasi yang biasanya digunakan tawon endas untuk membentuk sarang. Rumah kosong, kebun bambu, dan pohon tumbang yang dekat dengan tepi sungai, merupakan habitat yang cocok bagi tawon endas.

Hanya berbekal golok, korek api, dan sabut kelapa, ia bergegas menuju kebun bambu yang biasanya menjadi lokasi favorit tawon untuk membentuk sarang. Langkah demi langkah dilalui. Semak belukar dibabat untuk memuluskan langkahnya mencari sarang tawon endas. Sungai pun dia seberangi. ”Setiap saya mencari sarang tawon endas ya jalan kaki,” ujarnya.

Langkahnya terhenti saat melihat di sekeliling kebun bambu, ada sarang tawon endas berbentuk setengah lingkaran dan berada di ketinggian sekitar 15 meter dari atas tanah. Satu batang rokok diambil dari wadah, dan korek pun dinyalakan. Setelah ujung rokok dibakar, ia mengambil sabut kelapa kering yang sudah dipersiapkan.

Sabut kelapa itu dibakar hingga asap pekat mengepul bercampur asap rokok yang ia embuskan. Kemudian, Herman mulai memanjat pohon mangga yang terletak di sebelah pohon bambu tersebut.

Herman begitu cekatan memanjat pohon itu, dalam sekejap dia sudah sampai di atas pohon mangga. Ia langsung mengasapi sarang tawon yang ukurannya lumayan besar. Ratusan tawon pun keluar dari sarang, dan terbang berhamburan meninggalkan sarang yang telah diasapi si pemburu tawon itu. Namun, beberapa tawon melakukan perlawanan dengan menyerang Herman melalui sengatan ke tubuhnya.

Seolah tak merasakan sengatan dari tawon-tawon tersebut, Herman dengan sigap mengayunkan golok ke arah sarang tawon. Creeesss!!! Sarang tawon terpisah dari batang pohon bambu dan langsung dibawa turun oleh Herman. ”Ini saya sudah dapat, kira-kira beratnya sekitar tiga kilogram,” terangnya.

Tangan Herman terlihat kemerah-merahan akibat sengatan tawon endas itu. Kemudian ia mengambil beberapa larva tawon dan mengusapkannya ke bekas sengatan tawon di lengan tangan kanannya. ”Ini rahasianya agar sengatan tawon tidak terasa di tubuh,” ungkapnya sembari tertawa.

Sarang tawon yang baru diambil itu, selanjutnya dibawa pulang untuk dikonsumsi sendiri. Ia mencabuti larva tawon endas dari sarangnya itu. Kemudian, larva dicuci dan diberi bumbu berupa bawang putih dan garam. Larva tawon digoreng dahulu agar rasanya gurih. Setelah setengah matang, barulah larva tawon edas itu dicampurkan ke dalam bumbu garang asem yang sudah disiapkan. ”Kalau dapat lebih dari lima kilogram, biasanya saya jual. Kalau dapat sedikit saya makan sendiri,” paparnya.

Herman biasanya menjual sarang tawon endas dengan harga Rp 25 ribu per kilogram. Jika tidak dijual, sarang tersebut dikonsumsi sendiri dengan cara dijadikan garang asem. ”Menu kesukaan saya itu garang asem. Kalau ditambah larva tawon rasanya sangat lezat,” ucapnya.

Herman mengaku tidak ada kesulitan berarti baginya dalam mencari sarang tawon endas. Selama masih ada kebun, tawon endas dengan leluasa dapat membuat sarang. ”Kalau di desa, tawon endas membuat sarang di perkebunan. Di perkotaan tawon endas membuat sarang di atap rumah yang kosong,” katanya.

Meskipun pemburu tawon tidak dapat dijadikan pekerjaan andalan, Herman mengaku senang dijuluki pemburu tawon. Julukan itu sudah melekat pada dirinya dan ayahnya yang dulu juga pemburu tawon endas. ”Mungkin karena sudah terbiasa memburu tawon dan mengonsumsinya,” pungkas pria yang bekerja sebagai buruh serabutan itu. (abi)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia