Rabu, 19 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

Warga Suku Oseng Hanya Jadi Objek Penelitian Belaka

05 Desember 2018, 10: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

INTERVIEW: Bisri Efendi bersama para dosen peneliti sedang berbincang dengan Adi purwadi selaku masyarakat Oseng.

INTERVIEW: Bisri Efendi bersama para dosen peneliti sedang berbincang dengan Adi purwadi selaku masyarakat Oseng. (Shulhan Hadi/RaBa)

GALAGAH - Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, kembali menarik sejumlah akademisi untuk melakukan penelitian. Sejak sepekan lebih mereka berbaur dengan masyarakat Kemiren. Penelitian yang dilakukan pun memiliki beragam sasaran dan tema.

Salah satu peneliti, Hannah dari UIN Bandung menyebut, banyak hal menarik yang menjadi catatannya selama di Kemiren. Di luar tema penelitian yang dia kerjakan mengenai kepemimpinan perempuan, Hannah mengaku tertarik saat melihat pasar wisata. Adanya keterlibatan para perempuan tua dan gadis-gadis remaja di kawasan Oseng menurutnya unik. Sebab, dia melihat adanya kekosongan keterlibatan perempuan usia dewasa. ”Yang tua dan muda-muda ada. Lha yang di tengah mereka justru gak ada. Ini ke mana?” ucapnya penasaran.

Sementara itu, Bisri Efendi dari Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI sekaligus pendamping peneliti menyebutkan, saat ini dirinya sedang mendampingi calon peneliti dari sejumlah UIN atau IAIN dari penjuru Indonesia. Dalam kesempatan ini, dia menerangkan yang paling penting dari kegiatan penelitian ini adalah cara pandang penelitian itu sendiri.

Menurut antropolog lulusan Leiden, Belanda ini, pola penelitian harus mulai diubah. Dia mendorong agar penelitian selalu melibatkan masyarakat secara aktif dan hasilnya bisa dikembalikan kepada mereka. ”Ini istilahnya sosio epistemologi atau penelitian yang memihak yang diteliti,” ucapnya.

Selama ini masyarakat adat seperti Suku Oseng di Desa Kemiren, sering menjadi sasaran penelitian belaka. Namun, sejauh itu pula penelitian ini belum banyak memberikan manfaat secara langsung kepada warga yang diteliti. Mereka hanya menjadi objek dan setelah penelitian diterbitkan, semuanya berlalu begitu saja. ”Selama ini penelitian untuk peneliti saja. Setelah berhasil, lupa,” terangnya.

Dalam penelitian yang mereka bangun ini, dirinya berharap memunculkan subjektifikasi warga yang diteliti. Sehingga mereka memiliki kuasa terhadap penelitian dan hasil penelitian dan tidak hanya menjadi objek. Dengan demikian, ada timbal balik yang layak. Bukan pada persoalan nilai uang atau tanda terima kasih. Melainkan pada komitmen untuk melakukan penelitian yang manusiawi dengan melibatkan objek penelitian merasakan keuntungan. ”Ciri objektifikasi penelitian, dia menggali habis-habisan, tapi untuk konsumsi luar,” terangnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia