Rabu, 27 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

Kampung Petak 56 Masih Tergenang Air Sisa Banjir

02 Desember 2018, 14: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MENYEBERANG: Kaminah menggendong anaknya melewati genangan air di Kampung Petak 56, Dusun Wringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Jumat (30/11).

MENYEBERANG: Kaminah menggendong anaknya melewati genangan air di Kampung Petak 56, Dusun Wringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Jumat (30/11). (Krida Herbayu/RaBa)

Sebanyak 17 rumah milik warga di Kampung Petak 56, Dusun Wringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran yang terendam saat banjir pertama pada Senin (26/11) dan Rabu (28/11), hingga kemarin (30/11) masih tergenang. Meski ketinggian air sudah turun, tapi warga masih waswas dengan datangnya banjir susulan.

Kaminah, 48, salah satu warga Petak 56, Dusun Wringinagung, Desa Pesanggaran mengatakan, hujan yang mengguyur sejak Senin malam (26/11) membuat rumahnya terendam air hingga ketinggian sepinggang orang dewasa. Hampir semua perabotan rumah seperti kasur, televisi, kursi, dan lainnya terendam banjir. ”Untung tidak sampai hanyut. Saat banjir datang, saya langsung menggendong anak saya dan naik ke atas lemari,” ujarnya.

Menurut Kaminah, saat ini air sudah tidak lagi masuk ke dalam rumah. Tapi luapan air Sungai Gonggo itu masih menggenangi jalan desa dan juga puluhan hektare sawah milik warga. ”Jalan desa masih tergenang air setinggi setengah meter,” ungkapnya.

Meskipun sudah mendapatkan bantuan berupa sembako dan perlengkapan lainnya, ia mengaku masih waswas. Sungai yang berada tidak jauh dari rumahnya itu masih mengancam keselamatan jiwanya. ”Jika hujan datang lagi, mungkin saya akan mengungsi ke rumah kerabat,” katanya.

Sekretaris Camat Pesanggaran Sunarto mengatakan  bahwa penyebab daerah di Kampung Petak 56, Dusun Wringinagung, Desa Pesanggaran itu terendam banjir yakni lantaran muara Sungai Gonggo dipenuhi tumpukan sampah dan material longsor. Aliran sungai yang tersumbat tersebut, ditambah intensitas hujan yang tinggi, akhirnya menyebabkan air sungai meluap. ”Untuk sampah yang mengalir dari Sungai Kaliulo menuju Sungai Gonggo sudah dikeruk,” ujarnya.

Yang menjadi masalah, imbuh Sunarto, pemerintah kecamatan tidak dapat mengeruk sampah dan tumpukan material di muara sungai. Sebab, tidak ada akses jalan untuk ekskavator menuju ke muara sungai tersebut. ”Lahan itu milik Perhutani, dan kami tidak dapat membuka jalan tanpa izin dari Perhutani,” dalihnya. (abi)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia