Selasa, 18 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Enam Senjata Guru

Oleh: Samsudin Adlawi

28 November 2018, 13: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Enam Senjata Guru

PARA guru sedang bahagia. Mereka baru saja merayakan hari kebesarannya: Hari Guru Nasional (HGN). Yang diperingati setiap 25 November. Sesuai Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Bicara guru, rasanya semua orang pasti punya kenangan. Terutama mereka yang pernah ’makan’ bangku sekolah. Maaf. Silakan pembaca berhenti sejak. Jangan lanjutkan membaca tulisan ini. Sepuluh menit saja. Putar kembali pita ingatan dalam otak. Fokuskan pikiran pada wajah-wajah guru Anda. Yang pernah mengajar Anda di bangku SD/MI sampai SMA/MA. Bahkan, guru TK dan PT juga. Saya yakin, para guru itu telah meninggalkan kesan. Dalam lubuk hati. Dan sulit dilupakan.

Saya juga merasakan seperti itu. Sampai sekarang. Saya masih ingat para guru yang ngajar-nya text book. Saya masih bisa membayangkan guru yang ngajar-nya kreatif.     Mengaitkan pelajaran dengan kekinian. Bahkan, selalu ada yang baru. Meski materi pelajarannya sudah ada dalam buku. Masih juga terlintas bayangan guru yang menjelaskan dengan intonasi mantap. Apalagi guru yang ’ngemong’. Selalu memotivasi murid-muridnya. Bahwa gunung setinggi apa pun bisa ditaklukkan. Asal ada usaha.
   
Semua itu terekam dengan baik. Dalam bilik ingatan. Ketika mengingat-ingatnya, di waktu senggang, saya tersenyum sendiri. Sering malah tertawa. Sampai terbahak, kadang. Saat tiba-tiba teringat kelucuan yang dibuat guru sekolah dulu. Untuk menghibur murid-muridnya. Yang tampak stres usai ulangan matematika.

Maka, bagaimanapun cara mengajarnya, yang pasti guru telah melahirkan banyak sekali orang sukses. Ilmu dari gurulah yang mengantarkan keberhasilan seseorang. Sedikit atau banyak. Dari gurulah kita bisa berhitung. Bisa membaca. Bisa menilai. Bisa mengembangkan ide. Bisa menjadi orang baik.     Yang tumbuh menjadi orang tidak baik, saya yakin saat sekolah tidak berbakti sama gurunya. Tidak menyerap ilmu yang diajarkan gurunya. Tidak menjaga nasihat-nasihat gurunya.

Maka, meski HGN harinya guru, tak ada salahnya kita (bekas muridnya) juga ikut merayakannya. Bukan dengan upacara. Tapi cukup dengan mengingat-ingat kebaikannya. Menghadirkan kembali sosoknya saat mengajar dulu. Di hadapan kita. Seraya tak lupa: mendoakan bapak ibu guru kita. Semoga mereka menerima balasan surga. Atas amal jariyahnya. Berupa ilmu yang mengalir di otak dan darah kita. Di mana pun kini mereka berada. Masih hidup atau sudah meninggal. Harus dihadirkan dalam setiap doa-doa kita. Aamiiin.

Sementara itu, HGN bagi guru jangan menjadi momentum perayaan tahunan belaka. Tanpa makna. Seyogianya –maaf, bukan bermaksud menggurui guru– HGN menjadi momentum untuk merenung. Media muhasabah.  Menghitung-hitung ulang. Apakah amanat sebagai guru sudah dijalankan dengan benar. Sudah pada taraf mana keikhlasannya saat mengajar. Apakah selama ini sudah mengajar karena kecintaan. Atau baru sekadar karena menggugurkan kewajiban sebagai guru. Mengajar karena digaji semata. Bukan mengajar karena cinta kasih. Kepada para muridnya. Mudah-mudahan guru-guru kita punya prinsip: karena digaji saya mengajar penuh cinta kasih.

Wa ba’du. Setelah merenung mudah-mudahan para guru segera bangkit. Meningkatkan kapasitas keilmuanya. Menaikkan kompetensinya. Kompetensi apa saja? Setidaknya ada enam. Seperti dikatakan  Sayidina Ali ibn Abi Thalib karamallahu wajhah. Pertama, guru harus terus berusaha menumbuhkan berbagai kecerdasan anak didiknya. Bukan hanya IQ (Intelligence Quotient). Atau nilai kecerdasan seseorang. Tapi juga kecerdasan emosional (EQ/Emotional Quotient). Yakni kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Satu lagi. Kecerdasan spiritual (SQ/Spiritual Quotient). Itu erat kaitannya dengan keadaan jiwa, batin, dan rohani seseorang. Kecerdasan spiritual dianggap sebagai kecerdasan tertinggi. Dibanding kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

Kedua, guru harus terus menumbuhkan keingintahuan anak didiknya. Jangan malah sebaliknya. Mematahkan keingintahuan muridnya. Dengan melarangnya banyak bertanya. Padahal murid yang cerdas selalu ingin bertanya. Guru harus terus belajar. Banyak membaca. Mengikuti perkembangan zaman. Agar tidak gelagapan meladeni pertanyaan muridnya. Agar bisa menerangkan keingintahuan muridnya.

Ketiga, guru harus kreatif. Ia harus mampu mengembangkan prosedur, tahapan, atau metode yang efektif. Dalam mengembangkan proses belajar mengajar. Dengan begitu, kegiatan belajar mengajar berjalan dinamis. Variatif. Tidak membosankan. Dan gol tertingginya: murid merasa nyaman dan senang. Kondisi psikologis seperti itu akan memudahkan siswa menyerap pelajaran.

Keempat, kompetensi yang ketiga itu akan berjalan manakala guru mampu dan terus mengembangkan sumber, media, dan alat mengajar yang memadai. Adapun yang kelima merupakan harga mati. Guru harus menjadi teladan dan penunjuk bagi siswa. Kalau tidak ingin melihat muridnya kencing berlari, maka guru jangan kencing berdiri. Guru harus mengatakan ”A” tersebab sudah melakukan ”A”. Bukan sebaliknya. Mengatakan ”A” padahal ia melakukan ”B”. Guru yang seperti itu hanya akan melahirkan generasi munafikun. Pembohong. Dan puncak prestasinya adalah menjadi abdi KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Akhirnya, kompetensi yang keenam ini rasanya mutlak dimiliki oleh guru. Yakni, guru harus selalu menggairahkan muridnya. Bukan untuk hal yang tak berguna. Dan sia-sia. Melainkan agar si murid menjadi pembelajar sepanjang hayat. Terus belajar, belajar, dan belajar. Di mana pun. Dalam kondisi bagaimana pun.

Bila enam kompetensi yang dinukil dari kitab Ta’lim Muta’allim itu dimiliki guru, beruntunglah murid-muridnya. Mereka akan tumbuh menjadi generasi unggul. Insya Allah.

Tapi, fakta berkata, murid unggul bukan karena guru yang unggul semata. Melainkan karena orang tua yang unggul pula. Yakni, orang tua yang peduli terhadap perkembangan IQ, EQ, dan terutama SQ anaknya. Seperti dawuh Ki Hadjar Dewantara: setiap orang menjadi guru. Setiap rumah menjadi sekolah.

Akhirnya, saya ucapkan ”selamat Hari Guru tahun 2018”. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia