Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Ditinggal Tiga Maestro

Oleh: Samsudin Adlawi

21 November 2018, 11: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Ditinggal Tiga Maestro

TIDAK sampai tiga tahun, Banyuwangi kehilangan putra terbaiknya. Mereka bukan orang sembarangan. Tapi maestro. Di bidang seni. Musik tradisional dan lagu. Satu demi satu mereka wafat. Meninggalkan nama dan karya. Yang pertama meninggal H Sutedjo. Gurunya para guru angklung. Bukan hanya pemain angklung, para pemain musik tradisional Bumi Blambangan mengenalnya penuh takzim. Ilmu angklungnya tak tertandingi. Main angklungnya juga. Meski sudah sepuh gerakan tangannya masih lincah. Menari-nari di atas bilah-bilah angklung. Sebutan ”Bapak Angklung” Banyuwangi pun disematkan kepadanya.

Saya bersyukur bisa bergaul dengan beliau. Saat menjabat ketua DKB dulu, tanpa ragu saya masukkan Haji Tedjo dalam jajaran pengurus. Dia terus memberi motivasi. Memberi ide-ide untuk memajukan musik tradisional Banyuwangi. Makanya, beliau girang ketika saya minta membantu mengaransemen musik BEC (Banyuwangi Ethno Carnival). Awal-awal dulu, saya dan Haji Tedjo dibantu Jayus yang menyiapkan musik BEC. Dalam bentuk master. Lembur sampai pukul 01.00.  Di studionya Viktor. Itu kami lakukan untuk memastikan: musik BEC tidak sampai keluar pakem. Tetap berakar pada musik tradisional Banyuwangi. Meski kemasan karnavalnya modern.

Maestro kedua yang meninggalkan kami, kalangan seniman Banyuwangi, adalah H Andang CY. Pencipta lagu-lagu kendang kempul itu wafat sekitar setahun lalu. Harus diakui belum ada yang bisa menandingi lagu-lagu ciptaan Andang. Apalagi, lagu-lagu sekarang. Syair lagu-lagu karya Andang punya dua kekuatan. Pertama pesan moralnya sangat kuat. Semua lagu ciptaan Andang punya pesan-pesan kehidupan. Mulai pesan kepada anak-anak, remaja, sampai orang tua. Bahkan, lagu Umbul-Umbul Blambangan karyanya sangat heroik. Menjadi lagu kebangsaan Banyuwangi. Zaman Bupati Samsul Hadi, Umbul-Umbul Blambangan menjadi lagi wajib. Harus dinyanyikan dalam semua acara.

Kedua, syair-syair lagu Andang sangat indah. Puitis. Punya nilai sastra kelas atas. Itu bisa dipahami. Saya mendengar sendiri cerita Andang saat menggubah syair lagu. Proses kreatifnya cukup panjang. Melalui pengamatan dan studi yang memakan waktu. Berhari-hari. Bahkan, sampai berbulan-bulan. Diendapkan dulu. Sampai menemukan metafor yang cocok. Untuk mewakili pesan yang akan disampaikan. Lewat syair lagu. Saya merasa tersanjung ketika Andang mengapresiasi buku puisi saya ”Jarang Goyang”. Kata-kata pujiannya tidak usah saya ungkapkan di sini. Nanti dikira memuji diri sendiri.

Belum hilang rasa duka kehilangan Andang, Jumat kemarin berita duka kembali datang. Kali ini lebih menguras air mata. Maestro musik tradisional dan tari Banyuwangi dipanggil Ilahi. Drs Sayun Sisiyanto MPd meninggalkan gemerlap kesenian untuk selama-lamanya. Kepergian seniman kelahiran 20 Januari 1964 itu meninggalkan duka sangat mendalam. Betapa tidak. Meninggalnya pria asli Desa Mangir, Rogojampi, itu begitu cepat. Ketika belum tampak kader-kader calon penggantinya.

Sayun adalah seniman multitalenta. Dia bisa memainkan semua alat musik tradisional Banyuwangi. Tanpa kecuali. Mulai saron, angklung, kendang, seruling, biola, dll. Bahkan, dia juga mahir menari. ”|Kang Sayun itu pelatih saya. Saya bisa menari seperti sekarang setelah digembleng oleh beliau,” kata Julaidi, seniman tari.

Menjelang meninggal, Sayun mengungkapkan isi hatinya kepada Julaidi. ”Aku sekarang bahagia. Lalare Orkestra sekarang sudah diakui,” kata Sayun kepada Julaidi dalam bahasa Oseng. Sayun sebenarnya ingin mendampingi siswa Akademi Lalare Orkestra. Konser di Bulukumba, Sulawesi. Pada 15–17 Desember mendatang. Tapi, sayang sekali, setelah peresmian Akademi Lalare Orkestra tiga pekan lalu, kondisi kesehatannya drop. ”Sampaikan ke Pak Saiful sama Edy agar mempersiapkan anak-anak Lalare dengan baik. Agar tampil maksimal di Bulumkumba nanti,” pesan Sayun, sekali lagi, kepada Julaidi.

Sayun memang unik. Dia termasuk sedikit seniman Banyuwangi yang mengenyam pendidikan sampai S2. Belajar kesenian sejak usia 12 tahun. Pada 1985 buah kreasi tarinya berjudul ”Tari Punjari” menjuarai lomba ”Tari Tradisional Tingkat Nasional”. Tahun 1994 mengikuti event seni tradisional di Hongkong. Dan pada 1997 ke Finlandia.  Untuk event yang sama.

Saya sangat beruntung bisa bekerja bersama Haji Tedjo, Andang, dan Sayun. Dalam memajukan kesenian Banyuwangi. Mereka sangat idealis. Berkesenian dengan ikhlas. Mungkin itu yang membuat saya cocok bekerja sama bersama mereka.

Khusus Pak Sayun, dialah yang menginspirasi lahirnya Lalare Orkestra. Dari keresahannya terhadap perkembangan seni musik Banyuwangi yang disampaikan Pak Sayun, saya mendapat ide untuk membuat orkestra. Hanya dengan konser besar berbentuk orkestra musik Banyuwangi akan naik kelas. Pikir saya saat itu. Dan agar beda dengan konser-konser musik klasik di luar negeri, konser Lalare Orkestra harus dimainkan oleh anak-anak. Toh anak-anak Banyuwangi punya bakat bermusik sejak dalam kandungan ibunya. Ide itu langsung diamini Pak Sayun. Untuk mewujudkan ide besar itu Pak Sayun rela meluangkan waktu sampai berbulan-bulan. Di awal-awal konser Lalare Orkestra, latihannya dilakukan selama setengah tahun! Di tempat yang berpindah-pindah. Yang terlama di sanggarnya Pak Sayun di Mangir.

Alhamdulillah, Lalare Orkestra sukses. Konser pertamanya langsung mendapat penghargaan emas dari PATA (Pacific Asia Tourism Association) untuk kategori pelestarian heritage dan budaya. Beberapa waktu lalu, Lalare Orkestra resmi menjadi Akademi Lalare Orkestra. Itu yang membuat bahagia Pak Sayun. Sehingga beliau meninggalkan kita semua dengan tenang. Nama dan fotonya layak diabadikan di kampus Akademi Lalare Orkestra. Selamat jalan Pak Sayun. (@AdlawiSamsudin)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia