Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Ini Alasan Wiwin Indiarti Menyusun Ulang Penulisan Lontar Yusup

21 November 2018, 09: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PELESTARI BUDAYA: Wiwin Indiarti dan literatur pendukung penyusunan buku Lontar Yusup Banyuwangi teks pegon, transliterasi, dan  terjemahan.

PELESTARI BUDAYA: Wiwin Indiarti dan literatur pendukung penyusunan buku Lontar Yusup Banyuwangi teks pegon, transliterasi, dan terjemahan. (Shulhan Hadi/RaBa)

Lontar Yusup, karya sastra istimewa yang berisi kisah Nabi Yusuf secara turun-temurun diwarisi masyarakat Oseng. Wiwin Inidarti, 40, lare Oseng  asli Cungking ini mencoba merevitalisasi kearifan lokal dalam bentuk karya pustaka, tanpa mengurangi nilai kesakralan yang selama ini terjaga.

SHULHAN HADI, Banyuwangi

Selembar kertas salinan asli manuskrip Lontar Yusup tergeletak di atas meja bundar. Seorang perempuan tengah menuliskan transliterasi bunyi dari tulisan Arab pegon itu ke dalam huruf alfabet.    

Melalui layar laptop di teras rumahnya yang teduh, Wiwin Indiarti tampak serius menyusun satu tulisan untuk pengantar diskusi buku yang baru saja dia selesaikan. Dari rumah yang berada di Jalan KH Agus Salim 82 A Mojopanggung ini pula, satu karya yang membedah Lontar Yusup Banyuwangi lahir.

Lontar Yusup, baik artefaknya maupun tradisi mocoan yang masih terus berjalan, bukan hal baru bagi masyarakat Oseng, termasuk Wiwin Indiarti. Kampung tempat tinggal Wiwin di Lingkungan Cungking merupakan desa tua dalam sejarah Oseng. Di tempat kelahirannya itu, Wiwin  menguak lebih jauh mengenai Lontar Yusup.    

Sebagai akademisi yang mengenyam pendidikan sastra di Universitas Gajah Mada (UGM), rasa ingin tahunya tersebut semakin membuncah ketika mengetahui kampung kelahirannya tercatat dalam buku Tembang in Two Traditions, Performance and Interpretation of Javanese Literature.  Bukti tersebut ditulis Bernard Arps, akademisi sekaligus pakar Sastra Jawa dari Universitas Leiden Belanda.

Buku itu secara tidak sengaja dia temukan saat berkunjung ke rumah Adi Purwadi, salah satu pegiat kebudayaan Oseng yang tinggal di Desa Kemiren. ”Di buku ini Cungking dan Kemiren itu ada. Ini yang membuat semakin penasaran,” ujar Wiwin sembari menunjuk buku tebal ini.

Ide menulis buku ini bermula ketika menyiapkan sekolah adat untuk kalangan muda. Salah satu materi yang disiapkan adalah pembacaan Lontar Yusup. Keterlibatannya ini tidak lepas dari aktivitasnya sebagai sekretaris di BPH AMAN (Aliansi Masyarakat Adat  Nusantara).

Awalnya, dia hanya berniat menghadirkan salinan Lontar Yusup begitu saja. Tetapi, bentuk teks Arab pegon ternyata cukup menyulitkan, apalagi pegon dalam lontar sedikit berbeda. Dan bahasa yang digunakan pun lebih kuno dari bahasa Jawa yang saat ini menjadi bahasa tutur masyarakat umumnya. Akhirnya, ide menulis ulang lontar disertai transliterasi muncul.

Dari sini tantangan belum tuntas. Wiwin berpikir harus mendapatkan buku babon Lontar Yusup untuk dijadikan rujukan. Dalam pencarian tersebut, dia menemukan fakta buku Lontar Yusup yang ada di tangan warga memiliki sedikit keragaman. Tetapi, setelah dari berbagai pertimbangan dan arahan dari sesepuh adat, akhirnya lontar yang dimiliki Adi Purwadi yang menjadi rujukan. ”Lontar ini saya dapat dari Kang Pur, penulisnya dulu Carik Janah,” terangnya.

Tantangan demi tantangan teknis bermunculan. Ide awal menulis ulang teks lontar ternyata tidak jadi dia lakukan. Pertimbangan saat itu karena dia ingin menghadirkan bentuk asli Lontar Yusup. Maka, pilihan dengan metode pemindaian pun diambil. Satu per satu lembar lontar yang mulai kecokelatan itu dipindai. Wiwin mengaku beruntung karena bisa mengandalkan orang terdekatnya sebagai tenaga pemindai sekaligus editor naskah. Orang tersebut adalah Anasrullah, pria yang pernah satu fakultas dengannya di UGM dan kini menjadi suaminya. ”Ayahnya anak-anak yang bantu scan, kita potong satu per satu,” terang ibu dari Lantan Seraya Sidi, 12 dan Darras Sitala Nadim, 9 ini.

Setelah semua tulisan berhasil dipindahkan dan proses alih bahasa selesai, tantangan berikutnya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Meksi masih rutin ditembangkan dalam setiap mocoan, ternyata banyak warga Oseng tidak mengetahui arti dari teks ini.    

Hal ini pula yang menjadi keunikan Lontar Yusup beserta tradisi yang menyertainya. ”Orang-orang  banyak yang tidak mengerti, seperti mantra atau ’kitab suci’. Pegangan saya kamus Jawa tidak lepas,” kata Wiwin.

Dia menjelaskan, secara fisik Lontar Yusup memiliki banyak kekhasan. Selain karena disebut lontar padahal ditulis pada sebuah kertas, juga pada metode penulisan huruf Arabnya yang sedikit berbeda dengan tata cara pegon pada umumnya. Salah satunya huruf wawu yang bisa digandeng dengan huruf lain meski posisinya berada di tengah kata. ”Ini awalnya dikira salah, tapi kok di semua teks sama,” terangnya.

Setelah berjibaku selama empat bulan, hasil itu mulai terlihat. Tidak hanya satu karya buku yang komprehensif, sejumlah anak muda yang dulu dia libatkan belajar mocoan kini semakin mudah dalam belajar membaca. Peminatnya tidak hanya terbatas yang tinggal di kawasan desa adat Oseng, tapi juga lintas gender. Dalam rutinan yang dia gelar, sejumlah kaum hawa juga bersemangat ikut. ”Mahasiswi saya yang perempuan juga banyak yang ikut,” terang dosen Bahasa Inggris di Universitas PGRI Banyuwangi.

(bw/aif/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia