Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Sayun Sisiyanto, Pencipta Tari Punjari itu Kini Berpulang

18 November 2018, 07: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MULTITALENTA: Sayun Sisiyanto ketika memainkan alat musik tradisional di sanggar tari Damar Wangi, Desa Mangir, Rogojampi beberapa waktu lalu.

MULTITALENTA: Sayun Sisiyanto ketika memainkan alat musik tradisional di sanggar tari Damar Wangi, Desa Mangir, Rogojampi beberapa waktu lalu. (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

Kalangan budayawan Banyuwangi kembali berduka. Kali ini mereka kehilangan sosok budayawan multitalenta. Sayun Sisiyanto, 54, tutup usia pagi kemarin. Sejumlah karya unggulannya menjadi kenangan abadi untuk rakyat Bumi Blambangan.

SHULHAN HADI, Rogojampi

Tari Punjari, satu kreasi tarian yang sering ditampilkan di berbagai kesempatan ini cukup memiliki daya magis. Tari yang dibuka dengan gending Kembang Mepe ini sering menjadi pilihan di samping gandrung, dalam setiap pementasan.    

Tidak hanya diakui di Banyuwangi, keunggulan gerak ramu tari ini juga diakui secara nasional. Tepatnya pada lomba Tari Tradisional Tingkat Nasional pada 1985. Tari garapan Sayun Sisiyanto ini menyabet juara satu nasional.

Prestasi itulah yang pagi kemarin menjadi perbincangan kerabat dan kawan-kawannya di jagat seni Banyuwangi. Obrolan yang berlangsung di balai sanggarnya, RT 03 RW 06, Dusun Krajan, Desa Mangir,  Kecamatan Rogojampi pagi itu tanpa kehadiran Sayun. Pagi itu pula, kawan-kawannya memberikan penghormatan terakhir untuk sang maestro.

Ya, pagi itu, Sayun ini telah berpulang. Setelah 17 hari tergeletak melawan sakit yang dialaminya, kabar duka itu pun datang. Kepergian seniman ini menjadi awan hitam dunia seni tradisi Banyuwangi. Bagaimana tidak, Sayun tercatat salah satu seniman yang cukup  mewarnai Banyuwangi. Bakat seninya muncul sejak usia belia.

Sejak duduk di bangku SMP, darah seni yang mengalir pada putra pasangan Sabik dan Suhaena ini sudah mulai tampak. Di usia yang baru menginjak 10 tahun, dia sudah berani mengikuti lomba paju gandrung. Semakin bertambah usia, kegemarannya dalam dunia seni semakin kuat. Mulai menari hingga penabuh gamelan (wiyogo/panjak) dia kuasai.

Pada usia 12 tahun, Sayun cukup mahir memainkan kendang. Tahun 1976 dia dinobatkan sebagai penabuh kendang termuda. ”Benar dia sejak kecil sudah berkesenian,” ucap Yon DD, teman dekatnya dalam obrolan pagi kemarin.

Hingga kini, kelihaiannya dalam bermain musik diakui rekan sejawatnya. Selain belajar otodidak, keterlibatan dan pergaulannya dengan sejumlah seniman Banyuwangi seperti Soemitro Hadi, Sahuni, dan juga Andang CY dan Basier Nurdian cukup menguatkan karakternya berkesenian. ”Pak Sayun belajar seni secara  otodidak dari seniman senior,” ucap Budianto, penggagas Gandrung Sewu yang pagi kemarin melayat ke rumah duka.

Sayun merupakan seniman kaya inovasi.  Berkat pengalaman dan bakat seninya, dia melanglang buana ke belahan dunia. Tahun 1997, Sayun menjelajah Asia hingga Finlandia. Selama hidupnya, sejumlah kreasi untuk mengangkat dan melekatkan kesenian kepada masyarakat muncul darinya. Dan hampir semua yang dia bawa sukses menyapa masyarakat. Mulai dari menjadi pemrakarsa seni jinggoan tembang Damar Wulan ”Janger Berdendang”.

Kesenian ini sangat popular di masyarakat pencinta lagu-lagu Banyuwangi. Rekaman dalam bentuk VCD tersebar di seantero Nusantara. Empat tahun setelah itu, tepatnya pada 2006, Sayun juga dilibatkan dalam Misi Kesenian untuk mempromosikan budaya Indonesia di Midosuji Avenue, Osaka, Jepang. ”Beliau ini kalau ke Asia Tenggara ke mana-mana, ke Jepang iya ke Finlandia juga pernah,” imbuh Budianto.

Saat ini kalangan seniman menunggu album yang akan diluncurkan Sayun. Penggarapan dua album tersebut melibatkan penyanyi Lalare Orchestra. Selain itu, keterlibatan Dewan Kesenian Blambangan juga ada di dalamnya. ”Dua album mau dirilis, Pantai Boom dan Jebeng Thulik,” ucap Budianto

Gigih mengembangkan kesenian Banyuwangi hingga akhir hayat, setidaknya itu yang diceritakan Idarosidayani, 31, salah satu menantunya. Sayun merupakan bapak dan mertua yang baik. Kepada keluarganya, Sayun juga masih sempat berpesan untuk terus melestarikan kesenian Banyuwangi. ”Bapak pesan kesenian ini harus terus diteruskan,” terangnya.

Dari pernikahan terdahulunya dengan Sri Rahayu, dia dikaruniai seorang putra bernama Aris Charisma Eko Utomo. Selanjutnya dengan pernikahan keduanya, bersama Niswati, Sayun  dikaruniai seorang putra bernama Adi Setio Utomo.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia