Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Ide Kreatif Warga Menyulap Sampah Anorganik Jadi Kerajinan Cantik

17 November 2018, 14: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DIGANDRUNGI: Inilah sebagian hasil kerajinan decoupage made in Novina dan dr Bintari Wuryaningsih di Perumahan Agus Salim Residence Banyuwangi.

DIGANDRUNGI: Inilah sebagian hasil kerajinan decoupage made in Novina dan dr Bintari Wuryaningsih di Perumahan Agus Salim Residence Banyuwangi. (Sigit Hariyadi/RaBa)

Sampah. Awalnya bikin resah. Namun, kini jadi berkah. Dengan sentuhan kreativitas, Novina Puspita Hati menyulap barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi karya seni decoupage yang bernilai ekonomis cukup tinggi.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

BERAWAL dari keprihatinan terhadap banyaknya sampah, terutama sampah anorganik, ibu-ibu di Perumahan Agus Salim Residence, Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi, berkreasi. Mereka memanfaatkan waktu luang untuk membuat barang kerajinan berbahan dasar benda-benda yang tak terpakai.

Botol bekas, kaleng bekas, hingga limbah kayu bekas bangunan, ”disulap” menjadi benda kerajinan cantik. Barang yang oleh sebagian orang dianggap sampah, itu ditempeli tisu khusus yang sudah dipotong sedemikian rupa. Sesuai motif tisu tersebut.

Barang kerajinan itu disebut decoupage. Decoupage berasal dari bahasa Prancis découper atau berarti ’memotong’. Decoupage merupakan kerajinan atau bentuk seni yang memerlukan potongan-potongan bahan (biasanya kertas) yang ditempel pada berbagai objek dan kemudian dilapisi dengan pernis atau pelitur.

Nah, sebelum mulai membuat kerajinan decoupage siang itu (12/11), Novina Puspita Hati dan Bintari Wuryaningsih menyiapkan botol dan kaleng bekas yang sudah dikumpulkan di penampungan di halaman sebuah rumah. Setelah bahan dasar siap, dua perempuan itu lantas menyiapkan bahan-bahan lainnya. Seperti lem, cat cair, gunting, serta tisu khusus yang memiliki beragam aneka motif, mulai bunga, gambar binatang, dan lain-lain.

Untuk membuat kerajinan decoupage, langkah pertama yang dilakukan adalah mengecat botol atau kaleng bekas yang dijadikan media dasar karya seni tersebut. Pengecatan tidak dilakukan dengan kuas, melainkan dengan mengenakan busa pencuci piring. Pengecatan menggunakan busa tersebut akan menimbulkan efek menyerupai kulit jeruk.

Selanjutnya, botol bekas yang sudah dicat tersebut dijemur hingga benar-benar kering. Sembari menunggu kering, mereka memotong tisu bermotif sesuai bentuk yang diinginkan. Kertas tisu itu ditempelkan menggunakan lem khusus.

Setelah tisu menempel sempurna, dilakukan penjemuran sekitar 15 menit hingga lem benar-benar kering. Selanjutnya, botol atau kaleng yang telah ditempeli napkin dipernis. Hasilnya, meski sekadar ditempel, motif bunga pada tisu tersebut benar-benar menyatu dengan kaleng.

Novina mengatakan, ide menekuni kerajinan decoupage itu diawali dari kegelisahan terhadap banyaknya sampah. Kebetulan, suaminya memiliki bank sampah. ”Akhirnya kami melakukan pemanfaatan sampah dengan membuat kerajinan decoupage ini,” ujarnya.

Alhasil, botol atau kaleng bekas tersebut berubah menjadi barang kerajinan yang indah. Tak ayal, banyak warga perumahan tersebut yang tertarik belajar dan menggeluti kesenian decoupage tersebut. ”Kreasi ini juga bisa menambah penghasilan. Tidak membutuhkan modal besar untuk menekuni kreasi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Bintari Wuryaningih yang kala itu juga membuat kerajinan decoupage mengatakan, ketertarikannya pada karya seni tersebut bermula ketika dirinya bertamu di rumah Novina. ”Waktu itu saya bertamu ke rumah Mbak Vina. Saya melihat ada kerajinan bagus sekali, ada botol-botol cantik beraneka motif,” kata dia.

Ketertarikan itu menimbulkan keinginan Bintari untuk belajar membuat kerajinan serupa. ”Saya minta diajari dan saya praktikkan di rumah. Untuk alat dan bahannya saya beli ke Mbak Vina. Alhamdulillah, saya sudah bisa dan lancar membikin kerajinan ini,” tutur perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter tersebut.

Selain mengurangi sampah, karya seni decoupage ini juga bisa menambah pundi-pundi rupiah. Selain dijual di beberapa outlet, ibu-ibu tersebut memasarkan kerajinan itu lewat berbagai media sosial. Barang kerajinan yang indah itu dibanderol sebesar Rp 20 ribu sampai Rp 70 ribu. ”Pembeli tidak hanya dari Banyuwangi. Ada yang dari Malang, Surabaya, dan lain-lain. Biasanya mereka beli untuk suvenir pernikahan,” pungkas Novina.

(bw/sgt/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia