Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Menyambung Usaha Yu Nah

Oleh: Samsudin Adlawi

14 November 2018, 16: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Menyambung Usaha Yu Nah

JUMAT kemarin tak bisa saya lupakan. Itu momen sangat langka. Berkumpul bersama para pengusaha. Hebat-hebat. Tangguh. Jujur. Dan ikhlas. Dua yang terakhir itu kini langka. Sulit dijumpai di zaman serba edan ini.

Eit, tunggu dulu. Jangan keburu membayangkan yang serba wah. Para pengusaha itu datang ke tempat acara naik biskil (bis sikil). Alias jalan kaki. Tempat pertemuannya juga bukan hotel, restoran, atau rumah makan. Tapi di sekretariat Yayasan At-Ta’awun. Yang ndempel pagar Masjid Al Ikhlas. Di Kecamatan Glagah.

Tidak ada yang berpakaian perlente. Tapi, bagi saya, mereka tetaplah pengusaha. Buktinya mereka punya usaha. Meski usahanya keciiiiilll sekali. Pengusaha mikro. Kata Pak Astorik. Camat Glagah. Yang juga hadir dalam pertemuan itu. Saya lebih suka menyebutnya pengusaha supermikro.

Saya punya alasan khusus menyebutnya begitu. Dari profil usahanya. Selain itu, juga dari modal usahanya. Modal usahanya cukup untuk jualan hari ini. Juga hasilnya. Habis untuk makan keluarga hari ini juga. Begitu seterusnya. Setiap hari. Tidak sempat menabung. Karena memang tidak ada yang bisa ditabung!

Begitulah nasib pengusaha supermikro. Seperti yang saya jumpai Jumat lalu itu. Jumlahnya 30 orang. Laki-laki dan perempuan. Tua dan muda. Usahanya macam-macam. Tapi sangat familiar di telinga kita. Ada yang jualan nasi. Peracangan. Jualan kue. Jualan mie. Jualan nasi bungkus (bahasa kerennya: nasi bodrek). Ada juga yang jualan rujak. Penjual sayur. Penjual tahu keliling. Jual bakso. Sate. Nasi goreng. Ketan. Martabak. Lalu penjual bumbu keliling. Es campur. Dan kacang goreng. Radius jualan mereka juga tidak jauh. Hanya sekitar Pasar Glagah.

Pertemuan dengan mereka seperti nostalgia. Memutar ulang kaset usang. Yang terekam apik di otak. Momen nostalgik itu pun berubah melankolis. Tiba-tiba saya teringat kenangan masa lalu. Saat masih kecil. Hidup dalam keluarga sangat sederhana. Seperti mereka. Bahkan lebih nelangsa, bisa jadi. Untuk menghidupi saya dan kakak saya, orang tua berusaha apa saja. Bapak buka peracangan. Ibu jualan rujak. Membuka lapak di tanah tetangga. Nempel tembok toko besar. Milik tetangga yang baik hati. Hasil jualan sehari hanya cukup untuk makan sehari. Dengan menu favorit: tempe dan tahu. Untuk meningkatkan gizi saya, bapak mancing ke Muncar. Naik perahu. Nunut temannya. Berangkat habis isya. Baru pulang menjelang subuh. Jika hasil mancing banyak, yang digoreng tetap satu. Sisanya dijemur. Setelah dilumuri garam. Agar bisa disimpan dalam beberapa hari. Untuk lauk.

Kala itu, saya ingat betul kesulitan yang dialami ibu saya. Terutama untuk biasa sekolah saya. Mengurangi modal jualan jelas tidak mungkin. Bisa tidak jualan dalam beberapa hari. Sementara hasil jualan tidak cukup. Meski sudah memecah celengan di cagak rumah. Jurus pamungkas dikeluarkan ibu: cari pinjaman ke tetangga. Kondisi itulah yang memaksa saya saat kuliah pulang setahun sekali. Saat Lebaran. Sering pulang berarti hanya menambah tumpukan utang orang tua ke tetangga!

Saat senggang kuliah pun saya manfaatkan. Membantu mengetik di rumah dosen. Ikut menyablon teman seni rupa. Dan menggarap koran kampus. Semua saya lakukan. Demi mendapat uang. Untuk bayar kuliah dan indekos.

Saya yakin, perasaan 30 pengusaha supermikro di Glagah itu idem ditto dengan ibu-bapak saya dulu. Berjuang mati-matian. Jualan apa saja. Untuk menghidupi keluarga. Untuk menyekolahkan anak-anaknya. Itu sebabnya, ketika mereka mengajukan bantuan modal usaha ke Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Banyuwangi saya langsung OK. Para komisioner Baznas juga OK. Apalagi, mereka bukan pemohon bantuan modal usaha yang pertama. Sebelumnya Baznas Bumi Blambangan sudah membantu modal usaha 100 pedagang di pasar Rogojampi.

Sebagai Ketua Baznas dan pemegang amanah para muzaki, saya mengajak para komisioner Baznas untuk peduli terhadap para pedagang kecil. Kasihan mereka. Kesulitan modal yang dialaminya dimanfaatkan oleh oknum bank thithil. Bank harian. Mereka dicekik dengan bunga tinggi. Lebih dari itu. Baznas ingin menyelamatkan mereka dari praktik riba. Apa pun namanya. Bagaimana pun modusnya, riba tidak  membawa berkah. Sebaliknya, membuka jalan ke neraka.

Alhamdulillah. Pengusaha supermikro menyambut baik niat baik Baznas. Mereka senang karena modal usaha Baznas tidak pakai jaminan, Juga tidak ada bunga. Sepeser pun. Tidak ada biaya-biaya lainnya. Malah kalau mengangsur dengan baik mendapat reward. Cicilan yang masuk tidak diambil lagi oleh Baznas. Tapi oleh pengelolanya digunakan meminjami pedagang lain yang membutuhkan. Pengelolanya bisa remaja masjid (di Rogojampi), juga bisa yayasan sekitar masjid seperti di Glagah.

Wa ba’du. Masih banyak saudara kita, pedang kecil, pengusaha supermikro membutuhkan uluran tangan. Yu Nah, Yu Tun, da Kang Ju itu butuh modal usaha. Umumnya mereka jualan di pasar dan sekitarnya. Siapa lagi yang bisa membantu mereka. Kalau bukan kita. Menunggu pemerintah terlalu panjang birokrasinya. Juga jelimet syarat-syaratnya. Ayo para mengelola LAZ (Lembaga Amil Zakat). Kita bergerak bersama. Menyelamatkan umat. Dari jerat praktik riba. Allahu ma’ana. Insya Allah. (@AdlawiSamsudin).

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia