Sabtu, 23 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kesehatan

Antar Obat ke Rumah Pasien Kalahkan 3.024 Inovasi di Indonesia

14 November 2018, 13: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

INOVASI GANCANG ARON: Direktur RSUD Blambangan dr Taufik Hidayat SpAnd memegang penghargaan Top 40 Inovasi Layanan Publik Nasional dari Kemenpan-RB.

INOVASI GANCANG ARON: Direktur RSUD Blambangan dr Taufik Hidayat SpAnd memegang penghargaan Top 40 Inovasi Layanan Publik Nasional dari Kemenpan-RB. (Humas RSUD Blambangan For RaBa)

Inovasi Gancang Aron telah mengantarkan Pemkab Banyuwangi menyabet penghargaan tingkat nasional. Program inovatif RSUD Blambangan tersebut terpilih masuk dalam Top 40 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) atau Sistem Informasi Pelayanan Publik (Sinovik) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) RI mengalahkan 3.024 inovasi asal seantero tanah air.

Penghargaan tersebut bukanlah segalanya. Bagi pihak RSUD Blambangan, yang paling penting adalah peningkatan kualitas layanan kepada pasien yang berhasil dicapai –salah satunya lewat inovasi Gancang Aron– tersebut.

Sekadar diketahui, Gancang Aron merupakan akronim dari Gugus Antisipasi Cegah Antrean Panjang dengan Antar Obat ke Rumah Pasien. Dalam bahasa Indonesia, gancang aron berarti ’lekas sembuh’.

Diperoleh keterangan, program ini sebenarnya mulai dilaksanakan sejak 7 Juni tahun lalu. Inovasi ini muncul menyusul banyaknya keluhan masyarakat tentang waktu tunggu layanan obat yang terlalu lama, rata-rata di atas satu jam, bahkan kadang sampai empat jam.

Di sisi lain, Bupati Abdullah Azwar Anas menerapkan standar pengaduan masyarakat yang diterima pemkab harus ditangani maksimal dalam kurun empat jam. Karena itu, pihak rumah sakit (RS) pelat merah tersebut mencari cara agar pasien tidak terlalu lama menunggu pelayanan obat. Salah satunya dengan memberikan layanan farmasi di rumah alias home pharmacy care bertajuk Gancang Aron tersebut.

Sejak diberlakukan pada 7 Juni, program ini terus disempurnakan. Selanjutnya, soft launching dilakukan oleh Bupati Abdullah Azwar Anas pada 10 Oktober 2017. Pada tahap awal, jangkauan layanan ini masih sangat terbatas, yakni di wilayah Kecamatan Banyuwangi dan Kecamatan Giri, serta di desa tempat tinggal apoteker yang bekerja di RSUD Blambangan.

Direktur RSUD Blambangan dr Taufik Hidayat SpAnd mengatakan, jangkauan layanan Gancang Aron yang masih terbatas itu menuai keluhan masyarakat. Khususnya oleh mereka yang tempat tinggalnya tidak terjangkau layanan tersebut. ”Karena itu, kami membuat sistem pelayanan di RS dengan melibatkan pihak ketiga,” ujarnya.

Hanya saja, kata Taufik, pihaknya tidak bisa langsung memperluas jangkauan layanan Gancang Aron dengan melibatkan pihak ketiga lantaran terbentur regulasi. Misalnya Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2019 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 2009 tentang Praktik Farmasi, serta Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Layanan Kefarmasian di RS.

Sebelum diimplementasikan, sistem tersebut dipresentasikan pada berbagai forum. Seperti pada sarasehan masyarakat farmasi yang diikuti dekan farmasi asal seluruh Indonesia, seluruh pimpinan pusat, dan daerah ikatan apoteker Indonesia, dan lain sebagainya. ”Hingga akhirnya sistem itu bisa diterima sehingga kami punya standar prosedur operasional (SPO) tentang pengantaran obat melalui pihak ketiga,” kata Taufik.

Hingga akhirnya, Pemkab Banyuwangi menggandeng Go-Jek. Peluncuran shelter khusus Go-Jek untuk driver pengantar obat ke rumah pasien tersebut diluncurkan pada 15 Desember tahun lalu. Mulai saat itu, layanan antar obat ke ruah pasien semakin luas hingga ke seantero Banyuwangi.

Menurut Taufik, dengan program Gancang Aron, pihak RSUD Blambangan berhasil mewujudkan standar pelayanan minimal (SPM) obat harus sudah diterima pasien paling lambat satu jam. Apabila pasien antre mendapatkan obat lebih dari satu jam, maka pasien tersebut bisa meninggalkan RSUD dan obatnya akan diantar ke rumah pasien tersebut secara cuma-cuma alias gratis.

Selain pengantaran obat kepada mereka yang menunggu lebih dari satu jam, layanan tersebut juga bisa diakses langsung. Pasien bisa langsung memanfaatkan program Gancang Aron tanpa harus menunggu di RS. ”Misalnya karena terburu-buru ada urusan sangat penting. Pasien bisa memanfaatkan pengantaran obat ini langsung ke rumahnya dengan cara membayar ongkos pengantaran obat tersebut kepada mitra Go-Jek,” tuturnya.

Taufik menambahkan, keberhasilan Gancang Aron menembus Top 40 Sinovik tersebut melengkapi berbagai torehan manis RSUD Blambangan. Baru-baru ini, RSUD Blambangan meraih Juara I Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Award dan Juara Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Award.

Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, munculnya inovasi ini berawal dari keluhan masyarakat terkait lamanya antrean dalam pelayanan obat. Dalam beberapa kasus penyakit, penyiapan obat memang membutuhkan waktu karena harus diracik terlebih dahulu oleh apoteker. ”Kasihan pasiennya. Sudah sakit, masih disuruh menunggu obat. Lalu kami coba atur strategi sampai lahir inovasi ini. Setelah berobat, pasiennya bisa langsung pulang beristirahat di rumah. Obatnya nanti diantar setelah disiapkan apoteker. Gratis,” kata dia.

Di sisi lain, keberhasilan Program Gancang Aron menembus Top 40 Sinovik tersebut berbuah reward berupa dana insentif daerah (DID) dari Pemerintah RI. Tidak tanggung-tanggung, nilainya mencapai Rp 9 miliar lebih.

Sementara itu, Kepala Instalasi Farmasi RSUD Blambangan Ari Kurnianingsih MFarm Klin Apt mengatakan, obat merupakan komoditas khusus yang apabila terjadi kesalahan penggunaan, bisa berdampak fatal. Bahkan bisa berujung kematian.

Karena itu, kata Ari, dalam SPO RSUD Blambangan, petugas yang boleh mengantar obat hanya petugas yang sudah lulus pelatihan. Materi pelatihan yang dimaksud antara lain menjelaskan dan memahamkan batasan yang boleh dilakukan dan tidak, serta risikonya.

Selain itu, obat dikemas dalam kemasan khusus, yakni plastik hitam yang tidak tembus pandang yang disegel. ”Sehingga petugas yang mengantarkan obat itu tidak tahu apa isinya dan meminimalkan risiko disalahgunakan,” kata Ari.

Bukan itu saja, RSUD Blambangan juga menerapkan prosedur pelaporan berupa foto driver dengan pasien dan share lokasi untuk memastikan tidak salah pasien dan tidak salah obat. ”Kami juga melakukan evaluasi dengan cara menelepon pasien secara random untuk meminta penjelasan bagaimana kondisi obat yang sampai kepadanya,” tuturnya.

Masih menurut Ari, saat ini sudah ada 143 driver Go-Jek yang lolos pelatihan pengantaran obat. Sedangkan jumlah pengantaran obat yang sudah dilakukan mencapai lebih dari 5 ribu kali dengan jumlah pasien sebanyak sekitar 500 orang.

(bw/sgt/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia