Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi
Ketika Untag dan PTS Nasionalis Berkumpul

Deklarasi Perhimpunan Perguruan Tinggi Swasta Nasionalis Indonesia

13 November 2018, 17: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TEKEN: Rektor Untag Banyuwangi Drs Andang Subaharianto, MHum menyaksikan penandatanganan deklarasi P2TSNI di auditorium Untag Banyuwangi, Sabtu siang (10/11).

TEKEN: Rektor Untag Banyuwangi Drs Andang Subaharianto, MHum menyaksikan penandatanganan deklarasi P2TSNI di auditorium Untag Banyuwangi, Sabtu siang (10/11). (Humas Untag 45 For RaBa)

Perhimpunan Perguruan Tinggi Swasta Nasionalis Indonesia (P2TSNI) dideklarasikan di auditorium Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, pada Sabtu (10/11),  pukul 11.00. Sebanyak 16 pimpinan PTS menandatangani naskah deklarasi tersebut. Mereka terdiri enam pimpinan Untag di Indonesia dan sepuluh PTSNI lain.

Deklarasi P2TSNI tersebut sebagai bagian dari hasil  kegiatan rapat kerja (Raker) dan workshop di Untag Banyuwangi. Raker yang diikuti Untag se Indonesia dan PTSN itu dibuka oleh Wakil Ketua MPR RI,  Dr  Ahmad Basarah, pada  Jumat malam (9/11). Tema yang diangkat adalah “Kampus Nasionalis,  Bersinergi Untuk Negeri”.

P2TSNI bersifat terbuka bagi perguruan tinggi swasta lain yang belum bergabung. Syaratnya memiliki semangat, jiwa, dan visi yang sama. “Hari ini, 16 perguruan tinggi,  insya Allah nanti akan bertambah. Dengan catatan kehadiran P2TSNI bermanfaat,” kata Rektor Untag Banyuwangi Drs Andang Subaharianto, MHum.

P2TSNI didirikan sebagai wadah PTS yang dulu didirikan oleh orang-orang nasionalis. Di antaranya, Untag dan perguruan tinggi swasta lain, seperti Universitas Pancasakti Tegal. “Di Indonesia sebenarnya banyak,  tapi belum terkoordinasikan dengan baik,” imbuhnya.

Di samping untuk memudahkan koordinasi dan kerjasama antar lembaga terkait tugas pokok dan fungsi perguruan tinggi, lanjut dia, P2TSNI diharapkan juga dapat meningkatkan daya tawar. “Baik dalam hubungannya dengan pemerintah maupun masyarakat luas,” ujarnya.

Yang lebih utama, imbuh dia, P2TSNI dapat menyatukan cara kaum nasionalis memperjuangkan terwujudnya cita-cita kemerdekaan RI melalui jalan pendidikan. “P2TSNI harus melahirkan generasi baru yang bukan hanya cerdas secara intelektual,  tapi juga berkarakter kebangsaan Indonesia, mencintai negerinya yang beraneka ragam dari sudut agama, suku,  budaya, memahami Pancasila, baik sebagai dasar negara maupun ideologi bangsa,  senantiasa memedomaninya dalam aktivitas bermasyarakat,  berbangsa,  bernegara,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, tim formatur akan segera menyelesaikan kelengkapan organisasi. Tim formatur diketuai oleh Rektor Untag Surabaya, sekretaris dijabat Rektor Untag Banyuwangi, dan anggota dari Rektor Universitas Tribhuana Tunggadewi (Unitri) Malang, Rektor Universitas Pancasila Tegal, serta Ketua Stikes Kendedes Malang.  

Sementara itu, naskah deklarasi PTSNI ditandatangani oleh Rektor Untag Banyuwangi, Rektor Untag Surabaya Mulyanto Nugroho, Rektor Untag Semarang Suparno, dan Rektor Untag Cirebon HM Guntoro. Selain itu, Wagiman mewakili Rektor Untag Jakarta dan Wakil Rektor II Untag Samarinda FL Sudiran. Dr Agung Suprojo, MAR dari Unitri dan Dr Edi Murwani, AmdKeb, MMRS, ketua Stikes Kendedes Malang, dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Jember Dr HRA Wisnu Murti, MM. Kemudian,  Institut Teknologi Nasional, STIE Darma Nasional Jember, dan STIA Pembangunan Jember. Ditambah lagi Rektor Universitas Pancasakti Tegal Dr Burhan Eko Purwanto, MHum, dan Pembantu Rektor II Universitas Wisnuwardhana Malang Marsudi Dedi Putra, MH. Tak ketinggalan, Universitas Kanjuruhan Malang dan Universitas Narotama Surabaya. “Kami sengaja memilih tanggal 10 November karena dengan semangat Hari Pahlawan,” cetus Andang.

Sebelum deklarasi dilakukan, peserta raker dan workshop sempat mendengarkan paparan dari Pelaksana Tugas Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Dr Hariyono, MPd. Hariyono menjelaskan materi tentang pendidikan Pancasila. Usai menyimak paparan, peserta melakukan sidang komisi-komisi untuk membahas rekonstruksi kurikulum mata kuliah Pancasila.

Sementara itu, hasil sidang komisi II yang diikuti tim rekonstruksi kurikulum pendidikan Pancasila adalah setiap anggota P2TSNI menyepakati pembentukan mata kuliah penciri yang mendukung Pendidikan Pancasila. Pemberlakuan standarisasi Pendidikan Pancasila. Pelaksanaan diktum kedua mulai diberlakukan selambat – lambatnya pada tahun akademik 2019 / 2020. Naskah rekonstruksi kurikulum Pendidikan Pancasila yang dibuat Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi menjadi rintisan materi ajar Pendidikan Pancasila.

Pada Sabtu sore (10/11), peserta workshop juga mendengarkan paparan dari Prof Dr Widodo Ekotjahjana, SH, MH. Pencerahan tentang nilai-nilai Pancasila dari sisi hukum ketatanegaraan disampaikan kepada para perwakilan P2TSNI.

Nah, pada malam harinya para delegasi mengikut jamuan makan malam di Pendapa Sabha Swagata Blambangan. Jamuan yang difasilitasi Pemkab Banyuwangi itu dihadiri Kepala Bakesbangpol Banyuwangi Drs Wiyono, MH. Rombongan juga sempat diajak berkeliling menikmati keindangan bangunan pendapa di waktu malam.

Dari pendapa, peserta raker diantar melihat blue fire atau api biru di Kawah Gunung Ijen. Kemudian pada pagi harinya, Minggu (11/11), mereka masih diajak berwisata bahari menikmati pemandangan bawah laut di wahana Bangsring Under Water.(*)

Judul foto sambungan;
Humas45 for RaBa

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia