Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan

Minat Wisatawan Ke Banyuwangi Kalahkan ke Bali dan Bangka Belitung

12 November 2018, 07: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERBASIS DATA : Bupati Anas memaparkan hasil survei tentang pariwisata Banyuwangi di hadapan ratusan pelaku UMKM dan pariwisata di Pendapa Sabha Swagata

BERBASIS DATA : Bupati Anas memaparkan hasil survei tentang pariwisata Banyuwangi di hadapan ratusan pelaku UMKM dan pariwisata di Pendapa Sabha Swagata (Shulhan Hadi/RaBa)

BANYUWANGI – Peminat wisatawan ke Banyuwangi mengalahkan minat wisata ke Bali dan Bangka Belitung. Itu diketahui dari hasil survei beberapa lembaga survei yang dirilis pada November 2018.

Hasil survei dibeberkan Bupati Abdullah Azwar Anas saat bertemu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pegiat pariwisata di Pendapa Shaba Swagata Blambangan, Rabu (7/11). Anas membeberkan, salah satu indikator mengapa minat wisatawan banyak ke Banyuwangi dibanding ke Bali dan Bangka Belitung karena ke Banyuwangi biayanya murah.    

Tren grafik pariwisata Banyuwangi dalam beberapa bulan juga terus meningkat dan memiliki potensi mengalahkan pariwisata Bali dan Bangka Belitung . Fakta ini, merupakan peluang besar dan menjadi tantangan bagi pelaku pariwisata di Banyuwangi.

Peluang besar ini, harus benar-benar dimanfaatkan dengan memberikan pelayanan terbaik. Karena itu, pelaku wisata Banyuwangi harus benar-benar mengerti profil wisatawan yang datang agar tidak salah memberikan pelayanan. ”Jangan sampai saat kunjungan wisata meningkat kemudian menjadi bumerang karena memberikan pelayanan yang tidak tepat,” kata Anas.

Dari beberapa lembaga survei itu juga diketahui, bahwa mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi sebagian besar adalah wisatawan muda dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Karena itu, pegiat pariwisata hendaknya cerdas mengarahkan wisatawan untuk berbelanja suvenir atau saat melakukan wisatawan kuliner.

Anas juga berharap para pelaku wisata tidak hanya sekadar mengejar fee dari pemilik pusat suvenir, melainkan harus menghitung secara cermat untuk jangka panjang dari kesesuaian dan kepuasan wisatawan. ”Fee penting, tapi nama baik Banyuwangi jauh lebih penting,” katanya.

Kepada para pemilik hotel atau homestay, Anas meminta agar mereka melakukan pelayanan yang lebih mengena kepada para wisatawan. Anas mencontohkan, salah satu manajemen hotel memiliki perlakukan kepada wisatawan asing dengan mengajak jalan-jalan ke sekitar pasar tradisional dan pendapa.

Langkah sederhana ini ternyata menjadi daya tarik dan kepuasan para tamu. Anas mengaku menyambut baik ide ini dan membuka lebar pintu pendapa. Tidak hanya itu, Anas berharap semua hotel menyiapkan tenaga khusus untuk bisa mengantar tamunya untuk menikmati pemandangan kota. ”Silakan ajak wisatawan ke pendapa untuk jalan-jalan pagi atau sore,” pintanya.

Anas menyebutkan, semua langkah ini dipersiapkan untuk keberlangsungan pariwisata Banyuwangi hingga jangka panjang ke depan. Tidak hanya itu, saat ini pihaknya juga menyiapkan pengenalan potensi kopi sejak dini kepada pelajar.

Dengan cara ini, bisa mendekatkan anak sekolah dengan aktivitas kopi yang benar dan bernilai ekonomi, seperti memasukkan ekstrakurikuler pengetahuan kopi kepada anak sekolah. Sehingga ikon kopi Banyuwangi bisa benar-benar menjadi bagian dari warga Banyuwangi. ”Target kami 2020 akan lahir barista cilik yang mahir yang mampu menyeduh kopi,” tambahnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia