Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Kapal Nelayan Minim Alat Keselamatan, Ini yang Dilakukan Dishub

Kamis, 08 Nov 2018 09:35 | editor : Ali Sodiqin

CEK PERAHU: Tim dari KSOP dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur melakukan pengukuran kapal nelayan di Pantai Cemara, Banyuwangi.

CEK PERAHU: Tim dari KSOP dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur melakukan pengukuran kapal nelayan di Pantai Cemara, Banyuwangi. (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

BANYUWANGI – Sebagai wujud antisipasi keselamatan pelayaran, 68 perahu nelayan di Banyuwangi diperiksa dan diukur oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi, bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur dan Dishub Banyuwangi, Senin (5/11).

Pengukuran perahu tersebut merupakan penertiban administrasi dan langkah untuk keselamatan pelayaran di Banyuwangi. Tidak hanya mengukur perahu, tim KSOP bersama Dishub Provinsi Jatim dan Dishub Banyuwangi juga memeriksa alat-alat keselamatan pelayaran yang dimiliki para nelayan.

Satu per satu perahu milik nelayan diukur mulai panjang dan lebarnya dan akan diketahui volume perahu. Tidak hanya itu, tim ukur dari marine inspektur, KSOP, serta Dari Dishub Jatim dan Dishub Banyuwangi juga memeriksa alat-alat keselamatan pelayaran seperti rompi pelampung (life jacket) dan life buoy serta alat keselamatan lainnya.

Pengukuran dan pemeriksaan perahu tersebut dilakukan di tiga wilayah, di antaranya di Pantai Kampe dan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo; Pantai Bulusan, Kecamatan Kalipuro; serta di Pantai Cemara, Kecamatan Banyuwangi.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Pengumpan Regional Banyuwangi Septiantya Asmoro mengatakan, pelaksanaan pengukuran perahu tersebut dilakukan selama dua hari. Sebelum turun, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan kelompok masyarakat (pokmas) nelayan setempat. ”Saat kita turun juga kami berikan wawasan seputar keselamatan pelayaran,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut Septian, di Banyuwangi juga sudah mulai marak perahu wisata yang beroperasi untuk keperluan mengangkut penumpang (wisatawan). Dengan dilakukan pengukuran dan pemeriksaan alat-alat keselamatan pelayaran tersebut, para nelayan akan lebih waspada saat berlayar di tengah laut.

Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Keselamatan Pelayaran Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur Ninik Rosnani mengatakan, pelaksanaan pengukuran perahu tersebut adalah bentuk keseriusan Kementerian Perhubungan dalam membantu dan mempermudah para pemilik perahu dalam memperoleh legalisasi hak kepemilikan kapal.

”Perahu yang diukur adalah perahu yang di bawah 7 Gross Tonnage (GT). Usai diukur, para pemilik perahu akan mendapatkan pas kecil yang merupakan legalisasi hak kepemilikan yang sah bagi para pemilik perahu. Jadi, jika motor ada surat tanda nomor kendaraan (STNK), kalau perahu itu pas kecil ini,” ungkapnya.

Perahu yang diukur tersebut tidak hanya perahu milik nelayan yang dipergunakan mencari ikan. Melainkan juga perahu wisata yang digunakan untuk mengangkut orang (penumpang). Melalui pengukuran tersebut, perahu nelayan dan perahu wisata di Banyuwangi akan lebih tertib dalam administrasi dan operasional.

Selama pelaksanaan pengukuran tersebut, tim akan menanyakan nama perahu, asal usul perahu, berikut nama pemiliknya serta kelengkapan lainnya. Setelah diukur baru akan diterbitkan pas kecil sebagai bukti kepemilikan sah perahu. Dengan demikian, jika kemungkinan terburuk terjadi kehilangan perahu serta kecelakaan laut maka akan diketahui secara otomatis nama pemilik perahu. Karena nama perahu dan kapal tidak akan sama antara satu dengan yang lain.

Pengukuran perahu itu sengaja dilakukan dengan sistem ”jemput bola” untuk mempermudah para nelayan dalam pengurusan dokumen kapalnya, serta mempercepat proses pengukuran dan pendaftaran kapal yang merupakan persyaratan wajib dipenuhi ketika kapal akan digunakan untuk berlayar di laut.

”Setelah ini, kami juga akan memberikan surat keterangan kecakapan (SKK) kepada para nelayan atau pemilik perahu. Sehingga, para nelayan benar-benar memiliki surat yang sah sesuai kompetensi kecakapan dalam mengemudi perahu,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pokmaswas Pantai Rejo Muhyi mengaku bersyukur dengan adanya pelaksanaan pengukuran dan pemeriksaan alat-alat keselamatan pelayaran yang dilakukan oleh tim dari Dishub Jatim, Dishub Banyuwangi, dan KSOP Tanjung Wangi tersebut. Dengan kedatangan tim tersebut, para nelayan merasa terayomi dan mendapat perhatian.

”Dari 21 anggota kami, hanya 12 orang yang mempunyai perahu, dan semuanya masih belum memiliki pas kecil sebagai surat resmi kepemilikan perahu. Karena sementara ini kami kesulitan untuk mengurus pas kapal ini. Maka dengan pengukuran ini kami sangat bersyukur, apalagi juga tidak dipungut biaya alias gratis,” tandasnya.

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia