Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan

Mantap! Kinerja Pertanian Banyuwangi Terbaik se-Jatim

Rabu, 07 Nov 2018 13:45 | editor : Ali Sodiqin

PENGHARGAAN: Bupati Anas menerima piagam penghargaan bidang pertanian dari Gubernur Soekarwo di Surabaya, Senin (5/11).

PENGHARGAAN: Bupati Anas menerima piagam penghargaan bidang pertanian dari Gubernur Soekarwo di Surabaya, Senin (5/11). (Humas Pemkab BWI For RaBa)

BANYUWANGI – Banyuwangi terus memantapkan posisi sebagai salah satu sentra pertanian nasional. Setidaknya itu terbukti dari raihan penghargaan bidang pertanian yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia di Surabaya, Senin (5/11).

Gubernur Jatim Soekarwo memberikan langsung penghargaan tersebut kepada Bupati Abdullah Azwar Anas. Penghargaan seiring kinerja pertanian Banyuwangi yang sangat moncer. Termasuk mampu mendistribusikan berbagai hasil pertanian ke daerah lain.

Bupati Anas mengatakan, pihaknya mengapresiasi para petani di Banyuwangi atas keberhasilan menjaga produksi pertanian di tengah tantangan perubahan iklim. ”Alhamdulillah para petani di Banyuwangi luar biasa kinerjanya. Sektor pangan Banyuwangi surplus semua, baik itu padi, jagung, maupun kedelai,” ujarnya.

Penghargaan dari Gubernur Jatim Soekarwo tersebut melengkapi kinerja sektor pertanian kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini. Sebelumnya, Banyuwangi juga diganjar penghargaan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden Jokowi.

Anas mengatakan, hampir 65 persen produksi pangan Banyuwangi dipasok ke daerah lain. Dengan surplus itu, Banyuwangi ikut menopang ketahanan pangan Jatim dan nasional. ”Produk pangan kami dikirim ke Bali, Lombok, Kaltim, Aceh, Surabaya, dan Jakarta. Bahkan, beras organik sudah diekspor ke luar negeri. Demikian pula produk hortikultura seperti manggis yang sudah ekspor,” jelasnya.

Produksi padi di Banyuwangi sendiri terus tumbuh, dari 772.109 ton pada 2014 menjadi 817.478 ton pada 2017. Sedangkan produksi jagung tumbuh dari 142.915 ton pada 2014 menjadi 218.409 pada 2017. Sedangkan kedelai cukup fluktuatif, yakni dari 51.021 pada 2014 menurun menjadi 45.738 pada 2017. Meskipun produksi turun, produksi jagung tetap surplus dibandingkan kebutuhan masyarakat.

Saat ini, sambung Anas, Banyuwangi juga sudah mulai mengembangkan bawang putih untuk membantu mengurangi impor. Sejak 2017, 130 hektare lahan di Banyuwangi mulai ditanami bawang putih dan telah dipanen perdana bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada Maret 2018 lalu. ”Selain terus berupaya meningkatkan produktivitas, Banyuwangi juga menetapkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan atau LP2B seluas 55.023 hektare yang tidak boleh dialihfungsikan,” pungkasnya.

(bw/sgt/ics/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia