Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Miliki Kualitas Bagus, Harga Buah Naga Banyuwangi di Atas Rp 10.000

Rabu, 07 Nov 2018 07:55 | editor : Ali Sodiqin

Buah Naga mulai banyak ditemui di pinggir jalan raya Banyuwangi.

Buah Naga mulai banyak ditemui di pinggir jalan raya Banyuwangi. (Dok.RaBa)

Sebelum memulai menanam buah naga, petani harus menyiapkan tiang penyangga. Tiang ini pula yang menjadi perbedaan paling mencolok tanaman buah naga dengan yang lainnya. Secara umum, petani menggunakan tiang hidup berupa batang randu atau tiang beton.

Petani buah naga Joko Midianto menuturkan, kebutuhan tersebut menjadi pokok dan harus disiapkan sejak awal. Harga tiang batang randu biasanya mulai Rp 3.000 sedangkan beton bervariasi, biasanya Rp 25 hingga Rp 50 ribu, tergantung adonan dan kekuatan beton yang dibuat.

Setelah tiang dan batang buah siap, proses penanaman bisa dilakukan. ”Yang paling penting di samping bibit, kalau untuk buah naga ya tiang,” tegasnya.

Menurutnya, penanaman buah naga jika menemui kondisi yang tepat, yakni saat pertumbuhan bagus dan harga stabil, maka tidak menunggu waktu lama untuk kembali modal. ”Asal semuanya tepat ya lumayan mudah,” jelasnya.

Untuk buah naga yang dibantu dengan lampu, harga jual saat panen harus di atas Rp 10 ribu. Sedangkan untuk yang ditanam tanpa bantuan lampu, pada harga Rp 10 ribu petani masih bisa menyisakan keuntungan. ”Banyak yang bilang patokannya Rp 10 ribu itu,” ucapnya.

Untuk masa pertumbuhan, buah naga tergolong cepat. Tujuh bulan pasca penanaman, petani sudah bisa memetik buahnya. Pada petik pertama ini, buah yang muncul belum sebanyak seperti tanaman yang sudah setahun lebih. ”Buah pertama biasanya tujuh bulan, buahnya masih sedikit,” terangnya.

Dalam rentang masa tanam hingga petik pertama tersebut, ada sejumlah perlakuan yang harus dikerjakan petani, seperti pemupukan menggunakan pupuk kandang maupun dengan pupuk urea. Selain itu, untuk meningkatkan ukuran buah petani juga memberikan hormon pembesar buah. ”Pupuk kandangnya itu kita beri dan kita semprot Gibro,” terangnya.

Pemberian Gibro pada buah tersebut dilakukan 18 hari setelah bunga naga pecah. Terkait hal ini, para petani memiliki rumus berbeda-beda. Dan masing-masing juga mempunyai hasil yang sama bagus meski acuannya tidak sama. Hal ini bisa terjadi karena berbagai hal, mulai dari kondisi tanah dan perlakuan lainnya terhadap tanaman. ”Kalau di tempat saya mulai 18 hari, petani lain bisa beda,” ungkapnya.

Selanjutnya, perlakuan ini rutin dijalankan dengan menambah takaran seiring dengan umur dan kondisi tanaman yang semakin besar. ”Kalau awal setiap dua bulan sekali satu tanaman pupuk empat genggam,” jelas Joko Midianto.

Saat ini pasar yang menjadi tumpuan para pedagang atau petani buah naga adalah Bali, Surabaya, dan Jakarta. Dalam setiap kali pengiriman, satu armada truk biasanya mampu memuat hingga enam ton.

Buah naga juga tidak bisa bertahan terlalu lama sehingga pengiriman harus cepat. ”Kalau jeruk itu bisa ditahan, kalau naga tidak,” tandas Joko.
   
Untuk menghindari kerusakan pada buah, petani menggunakan petik kayu untuk pengemasannya. Di samping demi menjaga kondisi buah, proses pengemasan menggunakan peti juga memudahkan saat harga buah kurang stabil atau persediaan tidak melimpah.

Dengan dikemas dalam peti, pengiriman menggunakan jasa ekspedisi juga lebih aman dan tidak mengkhawatirkan. ”Naga ini kan kalau lecet sedikit busuk, kita petikan,” pungkasnya.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia