Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

IAI Ibrahimy Genteng Bahas Perbandingan Ekonomi Syariah RI-Malaysia

Selasa, 06 Nov 2018 17:55 | editor : Ali Sodiqin

SYARIAH: (dari kiri) Rektor IAI Ibrahimy Kholilur Rahman, dua nara sumber M. Mahbubi Ali, Misbahul Munir, dan Dekan FEBI Emy Hidayati

SYARIAH: (dari kiri) Rektor IAI Ibrahimy Kholilur Rahman, dua nara sumber M. Mahbubi Ali, Misbahul Munir, dan Dekan FEBI Emy Hidayati (Dhenny Eka/RaBa)

GENTENG - Untuk lebih membumikan ekonomi syariah, IAI Ibrahimy Genteng, menggelar seminar internasional dan studium general dengan tema, strategi pengembangan lembaga keuangan syariah untuk pertumbuhan ekonomi: Perbandingan antara Indonesia dan Malaysia, Sabtu (3/11).

Acara yang digelar di aula KH As’ad Syamsul Arifin IAI Ibrahimy Genteng, itu menghadirkan nara sumber pakar ekonomi syariah dari International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia, Mahbubi Ali, dan ketua Program Studi Ekonomi Syariah Pasca Sarjana IAIN Jember, Misbahul Munir.

Rektor IAI Ibrahimy Genteng, Kholilur Rahman mengatakan  fakta sejarah menunujkkan populasi penduduk muslim di Indonesia itu terbesar, aneka kekayaan alam dan tambang beraneka ragam dan mudah di dapat. Kekayaan hutan dan laut juga melimpah. “Tapi mengapa Indonesia berada pada urutan keenam yang pengeloalaan keuangan negaranya berbasis syariah,” katanya.

Dari laporan Global Islamic Finance Report (GIFR) 2018, pada Islamic Finance Country Index (IFCI), terang dia, merilis negara yang memimpin industry syariah berdasarkan peringkat itu adalah, Malaysia,  Iran, Arab Saudi, UEA, Kuwait, Indonesia, dan Pakistan. “Indonesia nomor enam sebagai Negara yang pengelolaannya berbasis syariah, mestinya Indonesia bisa menjadi pioner bagi gerakan pengembangan lembaga keuangan syariah,” ungkapnya pada para peserta yang hadir dari lembaga perbankkan syariah, perguruan tinggi (PT), dan mahasiswa.

Untuk membedah itu, terang dia, IAI Ibrahimy Genteng, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menggelar Seminar Internasional dan Stadium General ini. “Kita mengundang tokoh dan pakar di bidang keuangan syariah,” cetusnya seraya menyebut seminar ini selain kegiatan rutin juga rangkaian pekan akademik menyongsong wisuda sarjana S1ke XXIX yang akan dilaksanakan pada 22 Desember 2018.

Head of economics, finance, awqaf and zakat unit di International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia Mahbubi Ali dalam paparannya menyampaikan ekonomi syariah tidak hanya berkembang di negara Islam. “Ekonomi syariah juga mulai berkembang di negera non Islam,” katanya.

Menurut Mahbubi, Inggris, Hongkong, dan Singapur saat ini sudah menerapkan ekonomi syariah. Secara konsep, ekonomi syariah itu lebih adil dan menguntungkan. Untuk mengembangkan ekonomi syariah, harus ada kerja sama dengan tiga pihak. “Tiga pihak itu negara dengan kebijakannya, institusi yang mampu menerjemahkan kebijakan negara, dan masayarakat dengan kesadarannya,” ungkapnya.

Narasumber lain, Misbahul Munir dalam paparannya mengatakan saatnya IAI Ibrahimy Genteng ini bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah untuk menciptakan kawasan industri halal. “Kawasan industri halal ini lembaga penyaringan halal, lembaga penjaminan halal, dan desain,” katanya.(abi)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia