Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

BKSDA Tegaskan Penambang Tak Boleh Ngojek

Jumat, 02 Nov 2018 14:05 | editor : Ali Sodiqin

TAK BOLEH NYAMBI: Troli milik penambang belerang parkir di sekitar Paltuding, Kawah Ijen.

TAK BOLEH NYAMBI: Troli milik penambang belerang parkir di sekitar Paltuding, Kawah Ijen. (Fredy Rizki/RaBa)

LICIN – Penambang belerang yang beroperasi di Tempat Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen selama ini sering kali susah dibedakan dengan penyewa troli wisata, atau pemandu wisata. Rupanya, BKSDA sudah menetapkan setiap pekerja tidak boleh merangkap lebih dari satu pekerjaan.

Kepala BKSDA Wilayah V Banyuwangi Sumpena mengatakan, sejak tiga bulan lalu pihaknya mengatur pemetaan pekerjaan untuk penambang belerang, pekerja troli wisata, dan guide, serta pekerja lainnya yang ada di sekitar TWA Ijen. Dia menambahkan, hal itu dilakukan untuk mempermudah proses pendataan dari setiap pekerja yang ada di Ijen.

”Sudah diatur untuk masing-masing pekerjaannya. Untuk penambang belerang berada di bawah PT Candi Ngrimbi. Sedangkan untuk guide dan troli sudah diatur paguyubannya masing-masing,” terang Sumpena.

Dia juga mengatakan, sekilas peralatan yang digunakan para penambang maupun pekerja penyedia jasa troli wisata nyaris sama. Mereka sama-sama membawa troli yang dikerek ke Kawah Ijen. Namun, berdasar fungsinya troli untuk belerang dan untuk penumpang memiliki perbedaan.

Untuk troli penumpang biasanya ditarik dan didorong oleh tiga sampai empat orang. Sedangkan untuk troli belerang biasanya dibawa sendiri oleh penambang.

”Kalau pekerja belerang, mereka mendapatkan ongkos sendiri dari belerang yang dibawa, per kilogramnya dihargai sekitar Rp 1.250 oleh PT Candi Ngrimbi. Kalau untuk penyedia jasa troli bervariasi, mulai dari Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu,” imbuhnya.

Sumpena juga menegaskan, usai kesepakatan itu, untuk pendataan dan pengawasan setiap pekerja menjadi tanggung jawab perusahaan dan masing-masing paguyuban.

Dia juga mencontohkan seperti kejadian kematian salah seorang penyedia jasa troli tiga hari lalu, petugas akan dengan mudah mendata. Sekaligus memberikan teguran atau imbauan kepada paguyuban.

”Yang jelas untuk penambang, penyedia jasa troli dan guide ini berbeda. Kalau dulu kan bisa penambang jadi guide atau pendorong troli. Usai kejadian kemarin kita juga mengimbau agar para pekerja ini bisa melakukan cek kesehatan berkala. Kita sudah sampaikan ke Puskesmas Licin untuk membantu,” tandasnya.

Sementara itu, untuk jumlah penambang sendiri BKSDA mencatat saat ini jumlahnya mencapai 120 orang. Kemudian untuk penyedia jasa troli ada 140 orang dan untuk guide ada 74 orang.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia