Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Dikira Penculik Bocah, Motor Pencuri Dibakar Massa

Niat Cari Utangan, Malah Bobol Rumah

Jumat, 02 Nov 2018 11:10 | editor : Ali Sodiqin

TINGGAL RANGKA: Anggota Polsek Rogojampi dibantu warga mengamankan sepeda motor milik Rahmawati yang dibakar massa di Desa Patoman, Blimbingsari, Rabu (31/10).

TINGGAL RANGKA: Anggota Polsek Rogojampi dibantu warga mengamankan sepeda motor milik Rahmawati yang dibakar massa di Desa Patoman, Blimbingsari, Rabu (31/10). (Shulhan Hadi/RaBa)

BLIMBINGSARI – Isu penculikan bocah menghebohkan warga Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari kemarin. Gara-gara termakan isu dulit (penculikan anak), sepeda motor milik pelaku pencurian dibakar warga. Massa marah karena pelaku bernama Rahmawati, 44, disebut-sebut hendak menculik bocah di Patoman.

Beruntung perempuan yang tinggal di  Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi itu tak sampai jadi bulan-bulanan warga. Hanya saja, sepeda motor yang dikendarai Rahmawati tinggal rangkanya akibat dibakar massa. Usai ditangkap, perempuan asal Jember tersebut langsung dibawa ke balai desa lalu diserahkan ke Mapolsek Rogojampi.

Keterangan yang dihimpun Jawa Pos Radar Banyuwangi menyebutkan, pukul 06.00 Rahmawati masuk ke Desa Patoman dengan mengendarai sepeda motor. Dia bermaksud mencari utangan ke rumah Riska, warga setempat. Setelah muter-muter cukup lama, muncullah ide untuk mencuri.

Maka masuklah Rahmawati ke rumah pasangan suami istri Mustaqim, 32, dan Lutfiya Diana, 32. Rumah tersebut kosong karena penghuninya sedang tidak ada di rumah. Celakanya, saat mengobrak-abrik isi kamar, datanglah pemilik rumah. Keduanya sama-sama kaget. Rahmawati pun memilih kabur.

Spontan, Lutfiya berteriak maling. Warga berdatangan mengejar pelaku pencurian. Penangkapan berlangsung dramatis. Pasalnya kejadian tersebut pertama kali diketahui langsung oleh pemilik rumah, Lutfiya. Bahkan, sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara tersangka dengan pemilik rumah.

Dari keterangan Lutfiya, pagi itu rumahnya dalam keadaan kosong. Suaminya sedang bekerja di rumah tetangga yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sedangkan dirinya sedang berada di rumah kerabat. Rumah dalam keadaan kosong, anaknya juga sedang bersama kerabatnya. ”Saat kejadian anak saya ke sungai bersama Mbakku,” ucapnya.

Begitu masuk rumah, dirinya dikagetkan saat melihat ada orang mencoba mengobrak-abrik isi kamar. Begitu mengetahui ada orang tidak dikenal di dalam rumah, dia terkaget dan secara spontan berteriak maling. Aksi kejar-kejaran pun terjadi hingga keluar rumah. Dia berlari mengejar tersangka hingga di jalan desa. Di tempat tersebut, sempat terjadi aksi tarik-menarik saat tersangka akan melarikan diri mengendarai sepeda motor. ”Saya kaget di rumah ada dia, terus lari,” jelasnya.

Saat mengejar tersebut, dia berteriak maling, bukan penculik. Tak berselang lama, warga pun mulai berkerumun melakukan penghadangan kepada tersangka. Warga yang berdatangan berkerumun di sepanjang jalan paving arah ke balai desa. ”Saya teriak ’maling-maling’, begitu,” ujarnya.

Lutfiya mengungkapkan, sebelum kejadian, pada pagi hari dia  mengingat perempuan tersebut sempat bertanya-tanya kepada Hairi (salah satu kerabat korban, Red). Dari pembicaraan yang dia dengarkan, tersangka menanyakan tempat servis kulkas. ”Pagi itu saya ingat, dia sempat tanya-tanya kepada Hairi, saya tidak omes,” terangnya.

Beruntung nasib mujur masih berpihak pada tersangka. Saat tokoh masyarakat dan petugas segera tiba di lokasi, mereka berhasil mengamankan tersangka untuk dibawa ke kantor desa. Menurut keterangan Bhabinkamtibmas Patoman Bripka I Gede Hendra Setiyanto, warga yang berdatangan juga termakan emosi karena tersulut isu penculikan anak yang beredar beberapa hari ini. Beruntung, tokoh warga setempat bersama aparat keamanan bisa mengamankan tersangka tersebut.

Sesampai di kantor desa, warga yang tersulut emosi berniat menghakimi tersangka. Beruntung, tersangka bisa diamankan petugas di salah satu ruangan kantor desa.

Tidak hanya laki-laki, massa yang berjumlah cukup banyak juga terdiri dari perempuan. Bahkan, sejumlah ibu-ibu yang emosi juga berteriak kepada tersangka. ”Ibu-ibu itu sempat ada yang bilang, Pak mau niliki,” jelasnya.

Di tengah itu, massa yang ada di luar kemudian melampiaskan emosinya dengan membakar sepeda motor milik tersangka. Hendra mengaku sempat kewalahan saat warga bersikeras meminta tersangka. ”Warga itu bilang, sepeda motor dibakar,” terang Hendra.

Sementara itu, di Mapolsek Rogojampi, tersangka terlihat sangat syok. Berkali-kali Rahmawati mengaku  bukan penculik. Saat sejumlah warga menanyakan terkait penculikan, dia tampak emosional. Sambil menutup mata,  Rahmawati mengungkapkan aksi yang dia lakukan tersebut didasari motif ekonomi. ”Saya bukan penculik,” ucapnya sambil terisak.

Tidak hanya itu, tersangka juga mengaku kondisinya memang cukup susah. Kedatangannya pagi itu untuk mencari utangan kepada salah satu warga bernama Riska. Namun, ketika tiba di lokasi, niat buruk itu pun muncul.

Saat ini dia mengaku mengidap tumor di bagian kakinya. Benjolan tersebut paling terlihat di bagian paha kiri. Kondisi ini menurut pengakuannya sudah dialami sejak setahun lebih. ”Saya punya penyakit tumor,” ujarnya.

Terkait kondisi kesehatannya, dia juga mengaku belum berobat karena keterbatasan biaya. Ketika ditanyai mengenai rencana penyembuhan, Rahmawati justru mengaku lebih tertarik berobat dengan metode alternatif. “Mau berobat ke Jogja biayanya Rp 2 juta,” ujarnya.

DEMI UTANG: Kapolsek Rogojampi AKP Suharyono merilis tersangka percobaan pencurian (menutup wajah) di Mapolsek Rogojampi, Rabu (31/10).

DEMI UTANG: Kapolsek Rogojampi AKP Suharyono merilis tersangka percobaan pencurian (menutup wajah) di Mapolsek Rogojampi, Rabu (31/10). (Shulhan Hadi/RaBa)

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia