Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi
Ketika Siswa Jadi ”Polantas” Dadakan

Sempat Dikira Ada Razia Polisi, Sukses Kurangi Kecelakaan

Jumat, 02 Nov 2018 09:15 | editor : Ali Sodiqin

KURANGI KECELAKAAN : Rifku Najib (di atas tong) Muklis Maulana Sobri dan Alfi Karisma Nur Diana, siswa anggota Patroli Keamanan Sekolah (PKS) tengah mengatur lalu linta di depan MTS Nahdlatul Wathon, Desa Licin, Kecamatan Licin.

KURANGI KECELAKAAN : Rifku Najib (di atas tong) Muklis Maulana Sobri dan Alfi Karisma Nur Diana, siswa anggota Patroli Keamanan Sekolah (PKS) tengah mengatur lalu linta di depan MTS Nahdlatul Wathon, Desa Licin, Kecamatan Licin. (Fredy Rizki/RaBa)

Di depan MTs Nahdlatul Wathon, Desa Licin, siswa-siswa sekolah bertugas mengatur lalu lintas layaknya Polisi Lalu Lintas (Polantas) di jalan raya. Meski masih anak-anak, aksi para siswa ini berhasil membuat jalanan yang ada di kawasan tersebut menjadi lebih tertib.

FREDY RIZKI, Licin

SUASANA lalu lintas di sebuah jalan tak jauh dari Balai Desa Licin terlihat cukup ramai pagi itu. Beberapa anak sekolah berusaha menyeberangi jalanan untuk menuju ke sekolahnya. Di sisi yang lain, beberapa orang yang pulang dari pasar juga berseliweran.

Belum lagi ada kendaraan yang berlalu-lalang dengan berbagai tujuan di tempat itu. Akibatnya, jalanan pun menjadi macet. Untung saja, ada sekelompok anak mengenakan rompi hijau dan topi mirip Polantas menggotong sebuah tong ke tengah bagian jalan paling padat.

Mereka kemudian turun ke jalan dan mengatur lalu lintas pengguna jalan. Dengan suara peluit yang tidak terlalu keras namun mantap, anak-anak yang baru duduk di bangku kelas 8 MTs itu mengarahkan para pengguna jalan untuk mengatur kecepatannya. Sehingga siswa yang menyeberang dan pengendara lain yang ingin berbelok bisa melangkah dengan tenang. Jika ada yang berani-berani tidak tertib, anak-anak ini langsung menegurnya.

Peluit ditiup dengan kencang sembari mengibas-ngibaskan tangan di hadapan pengendara yang membandel. ”Kadang orang-orang tidak mau mendengarkan, tapi tetap harus diatur supaya rapi. Latihan sabar, diomongi pelan-pelan,” ujar Alfi Karisma, salah seorang anggota Patroli Keamanan Sekolah (PKS) yang mengatur lalu lintas.

Anak-anak yang menggunakan rompi hijau dengan perlengkapan pengatur lalu lintas itu adalah anggota dari Patroli Keamanan Sekolah (PKS) dari MTs Nahdlatul Wathon. Mereka memang bertugas untuk mengatur lalu lintas di depan sekolah mereka setiap pagi dan siang hari.

Tak hanya mengatur anak-anak sekolah dari usia TK sampai Aliyah yang kebetulan melintas, anak-anak ini juga mengatur warga yang melewati jalur ramai tersebut.

Saat Jawa Pos Radar Banyuwangi mengunjungi mereka, ada sekitar lima anak yang tengah bersiap bertugas. Tiga berada di jalan, sementara dua lainnya menunggu giliran bertugas. Mereka adalah Rifku Najib, Muklis Maulana Sobri, Alfi Karisma Nur Diana, Dwi Andika Permata Febrianti, dan Septia Arfina.

Guru koordinator PKS Ediy Sugiyono mengatakan, siswa-siswi yang ditugasi mengatur lalu lintas ini dibentuk belum lama. Mereka baru mulai bertugas tepatnya saat hari Santri pada 22 Oktober kemarin. Alasan pendirian PKS lantaran pihak sekolah melihat jika kawasan di depan sekolah cukup rawan terjadi kecelakaan. Dan tugas PKS diharapkan bisa meminimalkan risiko yang dapat menimpa siswa TK hingga Aliyah yang menyeberang, maupun warga sekitar yang akan beraktivitas.

”Pihak sekolah kemudian minta tolong ke Polsek Licin untuk dibantu mendirikan PKS. Awalnya, hanya ada 20 siswa yang mau. Kemudian mereka kita kirim untuk diseleksi. Sampai akhirnya tersisa 17 anggota PKS sampai sekarang,” tuturnya.

Para siswa itu sempat mendapatkan pelatihan terkait pengaturan lalu lintas dari Polsek. Selama sepuluh hari, para siswa berlatih di Polsek untuk memahami tanda-tanda dan tata cara pengaturan lalu lintas. Setelah dirasa siap, para siswa itu kemudian mulai mengatur lalu lintas sembari didampingi anggota kepolisian.

”Hasilnya tidak mengecewakan. Mulai awal sampai hari ini tidak ada kecelakaan dan arus lancar. Cuma waktu pertama kali banyak warga yang putar balik, dikira cegatan polisi,” kisahnya.

Selain mengurangi frekuensi kecelakaan, Ediy mengatakan banyak warga sekitar yang akhirnya menjadi lebih taat menggunakan kelengkapan berkendara seperti helm. Bahkan, siswa-siswi MTs dan Aliyah yang sebelumnya jarang menggunakan helm, kini sudah tidak pernah melepas kelengkapan keamanan itu saat berkendara.

”Awalnya kedisiplinan muncul dari siswa anggota PKS, kemudian menular ke siswa lainnya. Apalagi, setelah itu siswa banyak yang ingin jadi anggota PKS,” kata Ediy sembari tersenyum.

Dia berharap PKS bisa konsisten. Selain berencana untuk terus melakukan kaderisasi, pihaknya berharap dengan adanya PKS kesadaran berkendara aman juga bisa terus dibudayakan di sekolahnya. ”Pihak polsek juga mengatakan kalau setelah ada PKS, kesadaran berkendara semakin tinggi. Berarti ada manfaatnya,” ucapnya.

Muklis Maulana Sobri, salah seorang siswa anggota PKS menjelaskan, hampir semua anggotanya malu ketika pertama kali bertugas. Apalagi yang diatur orang-orang dewasa. ”Paling yang menjengkelkan kalau ada orang yang tidak mau diatur, sudah ditegur dengan peluit tapi tidak mendengarkan,” kata siswa bertubuh tambun itu.

Untuk pembagian tugas, setiap hari ada tiga orang yang bertugas. Pagi hari mereka harus siap mulai pukul 06.15. Sedangkan untuk siang hari pukul 13.00. ”Petugas harus datang lebih pagi dari siswa lain. Terus menata tong dan menyiapkan perlengkapan. Waktu pulang sekolah kita juga pulang terakhir. Setelah semua siswa sekolah pulang baru kita pulang,” tandas siswa asal Dusun Jambu, Desa Tamansari itu.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia