Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling

Walah, Penambang Belerang Sepakat Tidak Mengangkut Wisatawan Ijen

Kamis, 01 Nov 2018 12:15 | editor : Ali Sodiqin

PAKAI TROLI: Para penambang membawa belerang dari Kawah Ijen untuk diangkut ke Pos Paltuding. Mereka sepakat hanya mengangkut belerang, bukan membawa wisatawan.

PAKAI TROLI: Para penambang membawa belerang dari Kawah Ijen untuk diangkut ke Pos Paltuding. Mereka sepakat hanya mengangkut belerang, bukan membawa wisatawan. (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

LICIN -  Puluhan penambang belerang kemarin berkumpul di dekat penampungan belerang PT Candri Ngrimbi. Mereka menegaskan kembali untuk tidak bekerja sebagai ”tukang ojek” bagi wisatawan menggunakan troli. Sebagai penambang, mereka sepakat hanya bekerja mengambil belerang dari Kawah Ijen.

Pernyataan para penambang itu muncul pasca-meninggalnya Akso, 60, ”tukang ojek” pengangkut wisatawan tiga hari lalu akibat kelelahan. Warga Tamansari, Licin itu meninggal saat mendorong troli berisi wisatawan. ”Yang meninggal itu bukan penambang belerang. Pak Akso itu bekerja sebagai pendorong troli berisi wisatawan. Sejak awal, penambang belerang dilarang mengangkut wisatawan,” tegas Cung Lianto, pimpinan PT Candi Ngrimbi yang kemarin mengumpulkan para penambang belerang.

Surat pernyataan tidak nyambi ”ngojek” itu dituangkan dalam tanda tangan di atas kertas bermeterai. Sedikitnya ada seratus penambang yang meneken pernyataan tanggal 26 Agustus 2016 tersebut. Pernyataan juga disaksikan empat manajemen PT Candi Ngrimbi, yakni Firga, Budyo Prawito, Sarjono, dan Imam Hariyono. ”Para penambang sudah menaati pernyataan tersebut. Sekali lagi saya tegaskan, yang meninggal bukan penambang belerang,” tandas Cung.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi menyebutkan, kehadiran para ”tukang ojek” wisatawan menggunakan troli memang cukup marak. Jika pengunjung Ijen padat, mereka bisa dapat berkahnya. Tak sedikit para pendaki memanfaatkan jasa ”tukang ojek” tersebut untuk naik atau turun dari puncak Ijen.

Komunitas ini biasanya berkumpul di dekat pintu masuk Ijen. Belum diketahui secara pasti siapa penanggung jawab dari komunitas ini. Yang pasti, mereka bukan penambang belerang.

Cung Lianto menegaskan, para penambang tidak boleh  mencari alasan untuk mengangkut wisatawan, baik lokal maupun asing. Dia mengungkapkan, dalam sehari para penambang mampu mengumpulkan sepuluh ton belerang. Namun, dalam beberapa hari belakangan ini, mereka hanya mampu mengumpulkan 7 ton belerang sehari. ”Menurut pengakuan penambang, menurunnya belerang ini akibat angin kencang sehingga hasil yang didapat tipis,” tegas Cung dibenarkan para penambang.

Diberitakan sebelumnya, pendakian Gunung Ijen kembali memakan korban jiwa. Korbannya bukan wisatawan asing maupun domestik. Kali ini menimpa seorang pengojek troli wisatawan yang terbiasa naik-turun Ijen.

Penambang nahas itu adalah Akso, 60. Pria tersebut tewas ketika mendorong troli dengan muatan seorang wisatawan. Ceritanya, Akso bersama dua temannya, Sudiyono, 47, dan Slamet, 45, tengah mendorong troli yang berisi wisatawan. Start dari gerbang pintu masuk menuju Kawah Ijen.

Baru melangkah 400 meter dari gerbang, pria yang tinggal di Dusun Tanah Los, Desa Tamansari, Kecamatan Licin itu mengeluh pusing kepada kedua temanya. Melihat hal itu, Sudiyono dan Slamet langsung menghentikan perjalanan. Tak lama kemudian, Akso sudah didapati dalam posisi sujud ke tanah, dan meninggal dunia.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia