Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling

Wow, Dalam Sehari Penambang Ini Bisa Mengangkut 200 Kg Belerang

Rabu, 31 Oct 2018 15:15 | editor : Ali Sodiqin

BERHARAP HARGA NAIK:  Penambang belerang di Gunung Ijen mengemas belerang ke dalam karung plastik.

BERHARAP HARGA NAIK: Penambang belerang di Gunung Ijen mengemas belerang ke dalam karung plastik. (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

LICIN – Para penambang belerang di Gunung Ijen berharap harga belerang bisa naik. Ini seiring dengan naiknya sejumlah kebutuhan pokok akhir-akhir ini.

Salah seorang penambang belerang Misnawi, 50 mengatakan, saat ini harga beli belerang cenderung turun dibanding beberapa bulan lalu.

Bulan lalu harga belerang sempat naik di kisaran harga Rp 1.500 per kilogram. Namun saat ini, harga belerang justru berada di kisaran Rp 1.250 per kilogram. Penurunan harga tersebut, kata Misnawi, diduga karena banyaknya warga yang melakukan aktivitas penambangan belerang di gunung yang berada di perbatasan  Banyuwangi dan Bondowoso tersebut.

Para penambang biasanya menjual belerang tersebut kepada PT Candi Ngrimbi yang berada di Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Misnawi mengaku, dalam sehari dia bisa mengantongi uang hingga Rp 250 ribu. Itu pun jika belerang yang didapatkan bisa mencapai 200 kilogram sekali angkut.

Uang sebanyak itu masih belum dipotong untuk kebutuhan makan, minum, dan operasional lainnya. ”Sejak harga bahan bakar minyak naik, kebutuhan hidup naik. Kalau bisa ya dinaikkan,” harapnya.

Misnawi menjelaskan, penambang belerang biasanya mengangkut 65 kg–70 kg belerang dari bawah kawah untuk diangkut ke atas bibir kawah. Dia biasanya bisa bolak-balik turun ke kawah untuk menambang belerang.

Setelah semua terkumpul, barulah belerang akan dikemas dan dimasukkan ke dalam karung plastik dan siap dibawa turun gunung menggunakan troli yang sudah banyak tersedia. ”Tergantung orangnya, jika kuat bisa membawa hingga 2 kuintal belerang ke Pos Paltuding untuk dijual kepada pengepul,” jelasnya.

Penghasilan sebanyak itu, kata dia, hanya cukup untuk makan dan untuk kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan putra-putrinya. ”Kalau tidak menambang, ya tidak dapat penghasilan,” jelas warga Kecamatan Licin ini.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Mukhlis, salah seorang penambang belerang di Gunung Ijen. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, selain menjadi penambang belerang, Mukhlis nyambi sebagai tukang dorong troli bagi wisatawan yang naik dan turun ke Gunung Ijen.

Pekerjaan itu dilakoni oleh Muhklis sejak setahun terakhir. Menjadi ojek troli tersebut merupakan salah satu cara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, selain sebagai penambang belerang. Namun demikian, tidak setiap hari ada wisatawan atau pengunjung yang menggunakan jasa ojek troli.

Sebab, sebagian besar pengunjung justru ingin menikmati suasana perjalanan pendakian Gunung Ijen dengan berjalan kaki. Untuk jasa ojek troli tersebut, sekali naik untuk satu orang pengunjung dikenakan tarif Rp 200 ribu. Namun demikian, untuk memudahkan biasanya dibantu oleh dua orang temannya. ”Jadi uangnya dibagi bertiga. Yang ngojek ada saja tapi juga kadang-kadang, lumayan bisa bantu-bantu untuk kebutuhan belanja istri di rumah,” tandasnya.

(bw/aif/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia