Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Sports

Jaring Bibit Atlet Lewat Lomba Estafet

Selasa, 30 Oct 2018 13:15 | editor : Ali Sodiqin

ADU CEPAT: Pelari dari berbagai SD dan MI di Banyuwangi mengikuti Lomba Estafet di GOR Tawangalun, Minggu (27/10).

ADU CEPAT: Pelari dari berbagai SD dan MI di Banyuwangi mengikuti Lomba Estafet di GOR Tawangalun, Minggu (27/10). (Fredy Rizki/RaBa)

GIRI – Ratusan pelari usia Sekolah Dasar sejak Sabtu (27/10) kemarin beradu cepat di lapangan atletik GOR Tawangalun Banyuwangi. Tak asal cepat, para atlet yang masih duduk di bangku SD ini harus bisa bekerja sama dengan rekannya untuk bisa mencapai garis finis.

Yang menarik, tidak seluruh atlet yang berlari menggunakan alas kaki atau sepatu. Sebagian malah menggunakan kaki telanjang untuk berlari. Sambil membawa potongan besi yang dioper dari satu pelari ke pelari lainnya. Mereka terlihat sangat bersemangat untuk bisa menjadi yang tercepat.

Binpres Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Banyuwangi, Agus Sujiyono mengatakan, lomba lari estafet yang digelar oleh PASI Banyuwangi tersebut adalah ajang untuk mencari bibit atlet baru. Karena itu, wajar menurutnya jika satu dua dari mereka masih tidak menggunakan sepatu. Karena tidak semuanya yang ikut lari adalah atlet.

Sebagian justru para pelari alami, alias siswa yang belum pernah mendapatkan pelatihan sebagai atlet. “Ada 105 regu dari SD dan MI se Banyuwangi, satu regu terdiri dari lima orang. Ini yang sebenarnya sedikit sulit untuk dicari. Yaitu pelari yang bisa bermain di kelas estafet. Kalau untuk yang pelari Individu sudah banyak yang bagus, tapi untuk yang team ya sedang kita cari ini,” terang Agus.

Para atlet yang bertanding menurutnya bermain di kelas 5x80 meter. Jadi ada lima atlet dalam satu regu. Tiap di pelari harus berlari sejauh 80 meter sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada pelari di depanya. “Untuk kategori putra juara satu dari SDN Kepatihan D dengan catatan waktu 59 detik, di bawahnya SDN 1 Kalibaru kulon dengan catatan 59,17 detik menyusul SD 1 Mojopanggu dengan waktu satu menit, 90 milidetik. Sedangkan untuk putri juara satu diraih SDN Kepatiham kemudian SDN 2 Blimbingsari di urutan dua dan SDN 1 Bomo di urutan tiga. Nanti kita akan pantau dulu bagaimana perkembangan mereka,” paprnya.

Sementara itu, Ketua Harian Pengprov PASI Jatim, Eko Mintarto mengatakan Banyuwangi memiliki potensi luar biasa di bidang cabang olahraga atletik. Beberapa pelari Banyuwangi menurutnya sudah mengukir prestasi baik di tingkat Porprov Jatim, PON, hingga Sea Games. Karena itu dia berharap dari lomba semacam ini akan muncul bibit berkualitas baru dari Banyuwangi.

Di samping itu, dia juga menargetkan untuk bisa membuat lomba estafet dengan skala Provinsi pada tahun depan. Jadi tak hanya atlet dari Banyuwangi saja, nantinya atlet-atlet dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Timur juga bisa ikut dalam lomba tersebut. “Kita targetkan tahun 2019 mendatang bisa menggelar lomba estafet di sini dengan menggabungkan olahraga dan pariwisata. Jadi ketika melihat Tour de Ijen sebagai sport tourism, kenapa tidak mencoba dengan cabang olahraga atletik,” tegasnya.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia