Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Cara FKUB Jaga Kerukunan Antarumat Beragama

Beda-Beda Agama Tetap Bernaung dalam Satu Tenda

Senin, 29 Oct 2018 11:00 | editor : Ali Sodiqin

RUKUN: Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi H Muhamad Yamin saat membuka acara kemah pemuda lintas agama, Sabtu (27/10).

RUKUN: Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi H Muhamad Yamin saat membuka acara kemah pemuda lintas agama, Sabtu (27/10). (Untung For RaBa)

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) punya cara tersendiri untuk menjaga dan merawat kerukunan antarumat beragama di Banyuwangi. Salah satunya dengan menggelar kemah pemuda lintas agama di alam terbuka.

DEDY JUMHARDIYANTO, Cluring

Suasana tempat wisata De Djawatan yang berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, mendadak ramai. Tak seperti biasa, lokasi destinasi wisata yang dikenal dengan pesona pohon trembesi-nya tersebut dipenuhi dengan para pemuda dari berbagai lintas agama.

Nampak jelas untuk membedakan selain dari warna kulit, juga dari identitas seragam yang dikenakan para pemuda tersebut. Ada yang mengenakan udeng Bali, ada juga yang mengenakan seragam organisasi kepemudaan. Mereka tampak kompak dan rukun, seolah sudah saling mengenal sebelumnya.

Para pemuda lintas agama tersebut sedang mengikuti kemah pemuda lintas agama yang diselenggarakan oleh FKUB Banyuwangi. Kegiatan kemah pemuda lintas agama tersebut sengaja dibarengkan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda (28/10).

Ketua FKUB Banyuwangi H Muhamad Yamin mengatakan, kegiatan kemah pemuda lintas agama tersebut sengaja digelar bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. ”Ini merupakan salah satu cara kami memberikan wawasan kebangsaan kepada para pemuda generasi penerus bangsa di Banyuwangi,” ungkapnya.

Kemah kebangsaan itu akan digelar selama dua hari satu malam. Selama itu, para peserta dari pemuda lintas agama diminta untuk mandiri, mulai dari mendirikan tenda hingga yang lainnya. Dalam satu tenda juga diisi oleh peserta dari agama yang berbeda-beda. Ada empat tenda besar. Setiap tenda diisi perwakilan dari enam agama, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Peserta berasal dari pemuda perwakilan setiap agama. Bukan hanya aktivitas berkemah yang akan dilakukan, selama dua hari mereka berdiskusi tentang kebangsaan, keagamaan, dan kerukunan umat beragama. Aktivitas yang dijalankan selama kemah juga disesuaikan aktivitas enam agama tersebut. ”Para peserta juga akan kita beri waktu untuk out bond bersama,” jelasnya.

Para peserta juga akan diberikan materi seputar wawasan kebangsaan oleh narasumber yang dihadirkan mulai dari TNI, Polri, dan sejumlah tokoh. Tujuannya tak lain adalah memberikan fondasi dan memperkuat karakter kebangsaan untuk saling menghargai satu sama lain.

Melalui kemah pemuda lintas agama itu, lanjut Yamin, para pemuda lintas agama akan terbangun kerja sama, tidak sekadar saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi setelah saling bertemu itulah, mereka akan saling bersosialisasi dan berdiskusi satu dengan lainnya.

”Jadi mereka akan kami berikan arahan tentang nilai-nilai UUD 45 dan Pancasila. Termasuk kembali mengingatkan pentingnya kerukunan, saling menghormati, toleransi, tenggang rasa, dan saling menjaga kesetaraan. Termasuk dalam menjalankan kewajiban agama masing-masing, juga kita beri waktu untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Jika tiba waktu salat juga kita beri waktu salat, termasuk yang kristiani kita beri waktu untuk beribadah ke gereja,” terang Yamin.

Dalam kemah persaudaraan forum pemuda lintas agama bersatu kali ini diikuti sebanyak 150 pemuda lintas agama. Mereka melakukan interaksi untuk membangun semangat kebangsaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Kemah kebangsaan tersebut sangat penting dilakukan mengingat akhir-akhir ini marak berita hoaks dan provokatif yang mengarah pada isu SARA yang tersebar di media sosial. Apalagi juga bersamaan dengan tahun-tahun politik. Sehingga, perlu ketelitian untuk menelaah agar para pemuda tidak mudah terseret pada konflik horizontal justru yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa.

”Melalui kegiatan kaum muda lintas agama ini, harapan kami akan terbangun spirit kebangsaan dan mereka mampu menjadi perekat agar ke depan masyarakat semakin kompak membangun daerah. Selain itu juga bisa ikut berkontribusi dalam permasalahan-permasalahan kemasyarakatan,” imbuhnya.

Para pemuda lintas agama tersebut juga akan melakukan kegiatan pelestarian alam dengan gotong royong bersih-bersih di sekitar lokasi kemah. Termasuk melakukan kegiatan sosial lainnya seperti penanaman pohon dan kegiatan sosial lainnya. ”Kegiatan ini bagian dari upaya dan ikhtiar dalam menjaga merawat semangat pluralisme. Karena masa depan bangsa dan negara terletak pada pundak para pemuda ini,” tandasnya.

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia