Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Profesor Bau

Oleh: Samsudin Adlawi

Rabu, 24 Oct 2018 16:30 | editor : Ali Sodiqin

Profesor Bau

BERMAIN api terbakar. Bermain kotoran bau. Dua-duanya tidak baik. Yang pertama bahaya. Berisiko. Yang kedua relatif. Lebih ringan risikonya. Tapi tetap saja. Dijauhi oleh banyak orang. Kecuali satu: bau khas air besar. Alias eek. Yang menusuk-nusuk hidung. Saban hari. Saat buang hajat (BAB). Karena membau setiap hari, bau eek jadi ngangenin. Tidak ada yang tidak kangen. Pada eek-nya. kalau tidak percaya jangan eek tiga hari saja. Dijamin blingsatan. Cepat-cepat cari obat. Mencari dokter. Untuk mengeluarkannya. Makanya jangan macam-macam dengan eek.
Ah, kok larut bahas eek ya. Maaf, kalau ada yang jijik. Memang saya sengaja. Tulisan ini dibuka dengan hal yang menjijikkan. Tentang eek. Tentang bau pada umumnya.

Edisi hari ini saya sengaja membahas tentang bau. Terinspirasi dengan ’profesor’ bau. Sehari-hari dia bergumul dengan bau. Menggauli bau. Bau apa saja. Dari yang ringan sampai yang menyengat. Semua diakrabinya. Diajak bercakap-cakap. Profesor memang begitu. Demi menghasilkan temuan baru, dia mau melakukan apa saja. Termasuk menyiapkan tubuhnya. Untuk media uji coba (calon) temuannya. Sebelum diujicobakan ke orang lain. Masyarakat.

”Sehari-hari saya bergaul dengan bau,” kata dia.

Saya bertemu dengannya tiga pekan lalu. Bersama timnya. Di kantor lama Jawa Pos Radar Banyuwangi. Yang semrawut. Acak-acakan. Karena dalam proses boyongan. Ke kantor baru. Di west ring road Banyuwangi: Jalan Brawijaya 77 Kebalenan, Banyuwangi. Namanya keren. Seperti tokoh muslim terkenal: Imam Baehaqi. Usianya baru 52 tahun. Orang Banyuwangi harus bangga padanya. Dia asli putra daerah. Lahir dan besar di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Tapi temuannya sangat luar biasa. Sekelas orang kampus.

Imam tidak bisa meninggalkan kesahajaannya. Meski sudah berkali-kali ke luar negeri, Imam tetap tampil sederhana. Khas orang desa. Perjalanan pendidikannya unik. SD di Jambewangi. Tsanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMA) di Ponorogo. Lanjut kuliah di Unsuri. Tidak tamat. Pilih balik ke kampung halaman: Jambewangi, Banyuwangi. Pada 1989 ikut pelatihan pertanian di Hiroshima, Jepang. Sampai 1990. Kemudian balik lagi ke Jepang pada 1993. Kali ini lebih lama. Sampai 1996. Meneruskan program pelatihan JAEC (Japan Agricultural Exchange Council). Di Tochigi.

Selama di Jepang, Imam belajar tekun. Banyak ilmu dia dapatkan. Khususnya ilmu pertanian. Termasuk pupuknya. Sepulang dari Jepang, Imam seperti ilmuwan. Beberapa kali dia diundang ke forum internasional. Antara lain, ikut pertemuan 10 negara di Thailand. Lalu diminta pemerintah Kerajaan Brunei Darussalam. Mengajarkan pertanian ramah lingkungan. Imam juga terus melakukan pendampingan. Mengenalkan teknologi pertanian. Kepada masyarakat. Tidak hanya di desanya. Tapi seluruh Banyuwangi. Kesibukan itu tak lantas membuat Imam lupa kebiasaan lamanya: melakukan penelitian. Seperti yang diajarkan mentornya di Jepang.

Ketekunan dan keuletannya membuah hasil. Dia berhasil menemukan formula ampuh. Untuk menghilangkan bau. Hanya dalam sekejap. Tidak pakai hitungan menit. Bau apa pun. Bau toilet, kamar mandi, amis ikan, atau bau menyengat lainnya. Langsung lenyap. Begitu disiram dengan tetesan formula temuan Imam.

Saking cepatnya proses formula itu bekerja, Imam pun menamai temuannya dengan formula 123 (Tuwaga). ”Bekerjanya hanya dalam hitungan detik. Ini bakteri yang ditidurkan. Begitu dihidupkan lagi langsung bekerja dengan cepat. Secepat kilat,” jelas Imam. Awalnya saya tak percaya. Tapi, sehari setelah kedatangan Imam, saya mencoba formula Tuwaga. Kebetulan pagi itu seisi kantor geger. Ada bau menyengat yang luar biasa. Setelah dicari-cari akhirnya ketemu. Biangnya ternyata dari sepatu boot. Milik Nur Awalin. Petugas kebersihan kantor. Dia lupa membersihkan boot plastiknya. Saya langsung tuangkan beberapa tetes Tuwaga ke satu liter air. Saya masukkan boot-nya Nur. Baru tiga detik bau langsung lenyap. Gembiralah seisi kantor.

Formula Tuwaga tidak berbahaya. Sebab, tidak ada bahan kimianya. ”Kalau keminum juga tidak apa-apa,” kata Imam, sambil meminum beberapa tetes formula Tuwaga di jarinya. Bahan baku Tuwaga dari ramuan herbal dan nabati. Bahannya ada di sekitar kita. Kalau nantinya diproduksi secara masal, berarti butuh lebih banyak lagi bahannya. Akan ada banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. Untuk mencari bahan-bahan herbal yang ada di hutan. Di kebun. Juga di desa-desa. Selain Tuwaga, Imam ke kantor membawa Wahid. Formula temuannya juga. Khusus untuk ternak. Sapi, kambing, atau ayam. Jika diminum oleh sapi, kambing, atau ayam, kotorannya tidak akan bau. Juga meningkatkan kualitas daging. Nah, Wahid kayaknya bisa menjadi solusi mujarab. Meredam aksi protes masyarakat. Terhadap bau tak sedap. Yang mengubal dari kandang peternak ayam. Potong atau petelor.

Meski menemukan beberapa formula, ternyata mimpi Imam hanya satu: ingin presentasi di depan Bupati Anas.

”Mudah-mudahan bisa,” jawab saya singkat setelah memberi ucapan selamat kepada Imam. Yang kemarin mengirim perdana Tuwaga dan Wahid ke Malaysia.(@AdlawiSamsudin)

(bw/*/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia