Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Unik, Etnik, Futuristik

Oleh: Samsudin Adlawi

Rabu, 24 Oct 2018 16:28 | editor : Ali Sodiqin

Unik, Etnik, Futuristik

Tiga kata dalam satu judul. Terasa puitik. Meski hanya tiga kata cukup mewakili seribu makna. Bahkan, bisa merangkum tongkrongan gedung baru Jawa Pos Radar Banyuwangi. Yang berdiri mentereng di jalan lingkar barat Banyuwangi. Jalan Brawijaya 77 Banyuwangi, tepatnya.

Tak sulit menemukan gedung baru itu. Selain mewah (mepet sawah) banget, juga unik. Paling menonjol. Paling beda bentuknya. Dibanding bangunan yang ada di sepanjang Jalan Brawijaya. Hanya satu-satunya yang seperti itu. Sangat unik. 

Seperti kata arsiteknya, Andra Matin, hanya ada satu bangunan seperti kantor JPRB. Bukan hanya di Banyuwangi. Tapi juga di Indonesia. Bahkan, di dunia. ”Saya memang spesial satu. Satu desain satu lokasi. Tidak untuk proyek masal,” kata Andra saat ngobrol sama saya. Beberapa waktu silam.

Maka sah jika saat ini dan seterusnya, ada yang menyebut gedung JPRB unik. Sangat unik. Seperti bukan gedung kantor. Seperti mainan anak-anak. Seperti bangunan belum selesai. Di antara sekian orang yang telah selfie-wefie di depan gedung JPRB, ada yang nyeletuk lucu. Membetok saraf tawa.
-    Kok tidak selfie?
-    Nanti saja.
-    Mumpung di sini.
-    Pokoknya, nanti saja saya fotonya.
-    Nunggu apa? Mau ngajak teman-temannya ya?
-    Tidak.
-    Lalu kenapa tidak sekarang saja fotonya.
-    Saya nunggu gedungnya dicat dulu.
-    Hahaha... hahaha....
-    Wk wk wk wk wk wk....

Bagi saya jawaban orang itu lucu. Sangat kocak. Sampai kiamat juga tidak akan pernah selfie. Di gedung baru JPRB. Lah wong gedungnya sudah selesai. Tidak pakai cat-catan. Seperti itu adanya. Seperti gedung belum selesai. Hanya di-lepo. Di situlah uniknya. Hanya di-lepo. Tapi bukan sembarang lepoan. Dalam ilmu bangunan, lepoan itu disebut teknik kamprot. Nama lainnya teknik plester. Kamprot bertekstur. Pakai pasir halus.

Teknik kamprot membuat bangunan tampak lebih alami. Lebih eksotis. Di situlah letak nilai seninya. Keunikannya. Tapi belum banyak yang berani. Membuat rumah dengan dinding kamprot. Apalagi di Banyuwangi. Bisa jadi, alasannya, takut disebut bangunan rumahnya belum jadi. Seperti dialog di atas tadi. JPRB mengawali. Siapa tahu habis ini ada yang meniru. Ikut-ikutan mendirikan bangunan berdinding kamprot. Rumah pribadi maupun kantor. Mari kita ramaikan Bumi Blambangan dengan perkamprotan (hati-hati: jangan sampai mengganti  ”o” dengan ”e”, ya!)

Bangunan berkamprot memang belum populer saat ini. 10 atau bahkan 50 tahun nanti boleh jadi baru booming.  Saat orang mulai ngeh terhadap karya arsitektur. Saat orang sudah jenuh. Bosan dengan model bangunan seperti sekarang. Saat itu, bangunan gedung JPRB akan tercatat: sebagai pelopor perkamprotan di Banyuwangi. Hahaha....

Ya, JRPB memang (haus) selalu menjadi pelopor. Mendorong. Menginspirasi. Maka, supaya tidak salah. Saya lebih suka menyebut gedung JPRB dengan sebutan: modern-futuristik. Keren ya. Modernitas tidak harus yang serba canggih. Yang jadul pun layak disebut modern. Jika menjadi hal baru lagi (reloading). Jadul tapi baru. Bahkan penuh kebaruan. Kebaruannya melompati waktu dan zaman. Itulah modern-futuristik. Seperti gedung baru kantor JPRB. Kita tunggu saja. Waktu yang akan menjawab.

Gedung baru JPRB juga memenuhi harapan pemkab. ’Ala al-khusus: Bupati Abdullah Azwar Anas. yakni, setiap bangunan baru di kota the Sunrise of Java harus berasa etnisitas Banyuwangi. Baik tampak di eksterior. Maupun di interiornya. Melengkapi bentuknya yang unik. Melengkapi kebutuhan zaman yang cenderung menuju modern-futuristik. Arsitektur gedung baru JPRB juga kental unsur lokal Bumi Blambangan. Namun, tidak seperti kebanyakan bangunan baru di Kota Gandrung, mulai Bandara Banyuwangi sampai beberapa hotel baru, gedung baru JPRB mengambil jalan berbeda. Kalau gedung-gedung baru lainnya memasukkan unsur etnik secara visual: udeng, bangunan khas Oseng. Desain gedung baru JPRB menampilkan bentuk abstrak. Ketika dilihat dari atas, maka gedung JPRB akan tampak seperti gandrung yang sedang menari. Tapi, jangan harap akan melihat omprok dan selendang. Sebab yang tampak adalah penari gandrung dalam bentuk kubis. Serba kotak. Seperti permainan lego anak-anak. Yang bisa diubah-ubah menjadi beberapa bentuk robot. Di situlah nilai seninya. Yang, tentu saja, mahal harganya. Tidak sembarang arsitek bisa mendesain seperti itu. Salah satu di antara yang sangat sedikit itu adalah Andra Matin. Arsitek Indonesia yang namanya sudah mendunia.

Ah, sudah ya. Besok malam gedung baru kantor JPRB akan diresmikan. Sebagai kado ulang tahun ke-19 JPRB. Maka, mulai lusa gedung JPRB resmi menjadi ikon baru Banyuwangi. Sangat mungkin akan jadi destinasi wisata baru. Wisata arsitektur. Sepaket dengan Bandara Banyuwangi dan Pendapa Sabha Swagata Blambangan, misalnya.

Ah, sudahlah. Saya dan keluarga besar JPRB sedang menikmati kantor baru. Yang memakai AC alami. Minim listrik. Karena teknik pencahayaan (jendela dan dinding kaca) yang akurat. Tulisan ini saya selesaikan di ruang redaksi. Lantai 2. Tanpa AC. Tanpa sinar lampu. Ditemani semilir angin persawahan. Yang berada persis di selatan kantor. Alhamdulillah. (@AdlawiSamsudin)

(bw/*/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia