Minggu, 21 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

Dapat Untung, Harga Ubi Jalar Mahal

Senin, 24 Sep 2018 21:10 | editor : Ali Sodiqin

PANEN: Petani memanen tanaman ubi jalar di persawahan Alasmalang, Singojuru, Minggu (23/9).

PANEN: Petani memanen tanaman ubi jalar di persawahan Alasmalang, Singojuru, Minggu (23/9). (SHULHAN HADI/RABA)

SINGOJURUH – Petani ketela rambat atau ubi jalar di Banyuwangi bisa sedikit lega. Pasalnya saat ini harga jual palawija tersebut cukup bagus.

Juwono, petani dari Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, menyebutkan dari lahan seluas 0.25 bahu yang dia kelola, saat ini menghasilkan 80 karung dengan berat rata-rata 80 kilogram. Dengan demikian, untuk seperempat bau dia memperoleh 6.400 kilogram atau 6.4 ton. Sementara harga jual dari petani saat ini berada di kisaran Rp 1.600 per kilogram. “Ya Alhamdulillah bagus,” ucapnya.

Dari perhitungan tersebut, diperoleh angka kurang lebih Rp 10 juta. Sementara biaya perawatan tidak sampai melebihi Rp 2 juta. Jumlah itu sudah termasuk biaya penggulutan atau persiapan lahan tanam dan obat-obatan. Potensi serangan hama pun terbilang kecil. “Biayanya murah, hamanya mungkin hanya ulat. Itu saja,” ungkapnya.

Untuk ubi, selama harga di atas Rp 1000 per kilogram, Wono mengaku petani masih memiliki keuntungan. Untuk saat ini, di sebagian besar lokasi tidak bersamaan panen, melainkan justru musim tanam. Sehingga harga bisa menguntungkan. “Kalau di bawah itu ya impas atau bahkan rugi,” terangnya.

Perolehan ini terbilang bagus jika dibandingkan dengan tanaman padi pada luas lahan yang sama. Menurutnya, padi pada umumnya hanya menghasilkan 10 karung dengan berat sekitar satu kuintal. Jika harga per kilogram gabah sekitar Rp 5000, artinya jika dikalikan satu ton perolehan maka hanya menghasilkan Rp 5 juta, belum termasuk biaya perawatan dan lainnya. “Ubi lebih menguntungkan dibandingkan padi,” ungkapnya.

Sodik, 42, salah satu petani lainnya mengatakan, ubi dalam beberapa tahun belakangan memang mulai banyak dilirik petani. Namun, meski peluangnya cukup bagus. Tetapi tidak menutup kemungkinan harga juga bisa menurun drastis. Biasanya itu terjadi saat panen raya di berbagai tempat bersamaan. “Ya memang banyak yang tanam, saat ini sebagian sudah panen. Jadi kalau yang baru panen bisa mahal,” jelasnya. (sli/als)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia