Selasa, 23 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Events

BEC Karnaval Terbaik se-Indonesia

Menko Maritim Ikut Jalan Kaki sampai Finish

Senin, 30 Jul 2018 19:00 | editor : Bayu Saksono

BEC Karnaval Terbaik se-Indonesia

BANYUWANGI – Perhelatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2018 kemarin (29/7) semakin memperkuat eksistensi kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini sebagai The Best Festival City versi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Karnaval modern yang berakar tradisi dan budaya lokal Bumi Blambangan, ini berhasil membuat penonton berdecak kagum.

Pada edisi kedelapan ini, BEC meng­ang­kat tema “Puter Kayun”.

Bagian-bagian dari tradisi Puter Kayun diangkat menjadi sepuluh sub tema. Ada sub tema segoro Watudodol, kusir bupati alias ejeg, dokar, jaran, gedhogan, Buyut Jaksa, keris, oncor-oncoran, ta­pekong, dan kupat lepet. Masing-ma­sing sub tema lantas lantas diwujudkan pada busana yang dikenakan setiap peserta.

LAMBAIKAN TANGAN:  Menko Maritim Luhut Pandjaitan didampingi Bupati Anas ikut jalan kaki dari garis hingga finish di Stadion Diponegoro,  kemarin.

LAMBAIKAN TANGAN: Menko Maritim Luhut Pandjaitan didampingi Bupati Anas ikut jalan kaki dari garis hingga finish di Stadion Diponegoro, kemarin. (HUMAS PEMKAB FOR RABA)

Bukan itu saja, BEC edisi kede­lapan ini juga dimeriahkan pe­nampilan seratus penari gandrung. Ada pula defile khusus, yakni defile Gintangan. Para peserta de­file Gintangan ini memeragakan kostum bertema kerajinan bambu. Maklum, Gintangan merupakan sentra kerajinan bambu yang kualitasnya sudah mendapat pe­ngakuan tingkat dunia.

Sementara itu, Menteri Koor­di­nator Bidang Maritim RI Luhut Binsar Panjaitan terang-terangan mengaku kagum dengan karnaval yang ditetapkan sebagai satu di antara Top 10 Calendar of Event 2018 oleh Kemenpar RI tersebut. “Saya pikir, ini ide yang luar biasa. Saya belum pernah lihat di tempat lain se-Indonesia. Di tempat lain ada karnaval seperti ini. Tapi BEC yang paling bagus yang saya lihat,” ujarnya dikonfirmasi usai me­nyak­sikan langsung BEC di ka­wasan Taman Blambangan Banyu­wangi.

Menurut Luhut, BEC perlu terus dikembangkan. Event yang monu­mental seperti BEC tersebut akan membuat Indonesia semakin bagus.

Di ujung sesi karnaval, Menko Luhut ikut berjalan bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyusuri rute sepanjang sekitar dua kilometer. Dia mengacungkan jempol terhadap kiprah Banyu­wangi dalam mengembangkan pa­riwisata. “Saya terkesan dan sangat menikmati. Kebersamaan pemerintah dan rakyat menyatu di karnaval ini. Banyuwangi paten,” kata dia.

Langkah Banyuwangi dalam mengembangkan pariwisata, dinilai Luhut sudah sangat tepat. Sektor pariwisata saat ini menjadi penyum­bang penerimaan negara terbesar setelah sektor energi, dan tak lama lagi diprediksi men­jadi sumber pe­nerimaan terbesar negara. “Pari­wisata ini efektif men­ciptakan la­pa­ngan kerja, meng­gerakkan ekonomi. Dan itu terbukti di Ba­nyuwangi,” kata Luhut.

Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, BEC berbeda dengan even serupa yang digelar di daerah-daerah lain. BEC tidak dikerjakan oleh event organizer (EO), melainkan oleh rakyat bersama jajaran Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Banyuwangi. “Peran budayawan juga penting. Budayawan punya inisiatif menentukan tema. Jadi, Pemkab cukup memberikan support dari belakang,” paparnya.

Anas menambahkan, BEC tahun ini lebih bagus dibandingkan penyelenggaraan enam edisi terdahulu. BEC kali ini lebih atraktif dan lebih berwarna.

Sementara itu, salah satu pe­nonton, Rizky Andrea Sari, menilai perhelatan BEC kemarin sangat bagus dan unik. “BEC ini beda di­banding karnaval-karnaval yang digelar di daerah lain, contohnya di Jember. BEC mengangkat tema tentang tradisi masyarakat Banyu­wangi. Ada makna kearifan lokal,” ujar mahasiswi Universitas Bra­wi­jaya Malang tersebut.

(bw/sgt/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia