Jumat, 19 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Sri Agustini, 40 Tahun Menjual Nasi Karak

Bertahan untuk Meneruskan Usaha Nenek dan Ibu

Rabu, 25 Jul 2018 12:00 | editor : AF. Ichsan Rasyid

ISTIQOMAH: Mbuh Titin melayani pembeli yang mampir di tempatnya berjualan nasi karak.

ISTIQOMAH: Mbuh Titin melayani pembeli yang mampir di tempatnya berjualan nasi karak. (HABIBUL ADNAN/JAWAPOS.COM)

Hampir semua warga Kecamatan Panarukan mengenal penjual nasi karak di emperan salah satu pertokoan pertigaan jalan raya Desa Kilensari. Perempuan itu sudah puluhan tahun menjalani usahanya.

HABIBUL ADNAN, Panarukan

Lalu lalang kendaraan masih terlihat ramai malam itu. Kendaraan-kendaraan tersebut langsung berbelok ke sebuah tikungan. Hanya ada satu-dua kendaraan yang lurus, menuju ke arah pertigaan.

Kendaraan-kendaraan yang masuk ke pertigaan terlihat berhenti di di depan sebuah emperen toko. Ada roda dua dan roda empat. Pengendaranya langsung parkir di depan emperan tersebut.       Mereka ternyata hendak membeli nasi karak. Sekitar lima orang sudah duduk di meja lapak milik sang penjual.

Penjual nasi karak itu bernama Sri Agustini. Setiap malam, selalu ramai pembeli. Ibu sembilan anak ini menjual nasi karak di depan sebuah emperan toko di pertigaan Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan.

Ibu rumah tangga yang akrab disapa Titin ini sudah 40 tahun menempati tempat berjualannya. Karena itu, wajar jika banyak masyarakat yang mengenalinya. “Tidak hanya warga Panarukan saja yang datang. Tetapi ada juga dari luar kota,” ujarnya.

Dia menerangkan, pengendara yang dari arah Surabaya atau sebaliknya, banyak yang mampir ke warungnya. “Saya buka mulai pukul 17.00. Tidak sampai tengah malam, biasanya sudah habis,” katanya.

Titin mengaku, profesi sebagai penjual nasi karak merupakan warisan dari nenek moyangnya. Waktu masih kecil, dia sering membantu neneknya membuatkan makanan favorit warga Situbondo itu. “Ya, mulai dari nenek yang berjualan,” katanya.

Lokasi yang ditempati juga emperan toko tempat berjualan Titin saat ini. Setelah neneknya meninggal dunia, dilanjutkan oleh ibu kandung Titin. “Usaha ini sudah turun temurun,” imbuhnya.  

Titin juga menempati depan emperan toko itu. Inilah alasan Titin tidak mau pindah berjualan. Itu juga yang menjadi alasannya tidak mau berpindah ke jenis usaha yang lain. “Saya generasi ketiga yang masih menekuni profesi berjualan nasi karak,” ujarnya.

Titin memandang, usahanya saat ini sudah cukup membantu perekenomian keluarganya. Dengan hanya sebagai penjual nasi karak, dia berhasil membiayai anak-anaknya sekolah. “Ada yang sudah sampai sarjana,” kata Titin.

Baginya, mampu menyekolahkan anaknya, merupakan kenikmatan yang tiada tandingnya. Itulah yang selalu disyukuri Titin. “Walapun hanya dengan berjualan nasi karak, saya mampu membiayai kesembilan anak saya. Ada yang sudah lulus kuliah,  ada yang masih SMA,  SMP, dan SD,” terangnya.

Nasi karak menjadi makanan favorit warga Kota Santri. Bahan bakunya sama dengan nasi putih. Bedanya, saat dimasak, dicampur dengan garam. Kemudian di atasnya ditaburi parutan kelapa dengan lauk ikan tongkol, serta tempe-tahu yang dipotong kecil-kecil. (*)

(bw/bib/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia