Kamis, 13 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Dilema Memilih Jadi Kaum Akademisi dan Politisi

Oleh: Mawardi

25 Juli 2018, 07: 50: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Dilema Memilih Jadi Kaum Akademisi dan Politisi

(Mengawal Kehidupan Masa Depan Para Pemuda Mahasiswa yang Memprioritaskan Kehidupan Masyarakat)

HIDUP itu suatu pilihan, dalam setiap pilihan yang menjadi kehendak dan keinginan nurani memiliki dampak implikasi yang berbeda-beda. Kaum muda para mahasiswa yang menjadi agen of change demi masa depan yang gemilang, saat ini sedang kebingungan untuk memilih jalan kehidupan yang akan ditempuh untuk masa ke depan.

Banyak di antara para pemuda kaum mahasiswa saat ini berpikir tanpa tindakan setelah menyandang sarjana mereka akan bergelut dalam dunia apa. Karena pemuda kaum mahasiswa memiliki idealisme yang tinggi, mereka memiliki pilihan hidup yang tinggi dan terhormat.

Mereka dilema antara menjadi kaum akademisi yang bergelut dalam dunia pendidikan baik menjadi pengajar atau melanjutkan pendidikan, serta memilih menjadi kaum politisi yang terjun aktif dalam partai politik yang ditunggangi dan menjadi politisi praktisi sesuai partai politiknya masing-masing.

Kedua pilihan antara menjadi akademisi dan politisi sangat baik dan mulia, sebab keduanya memiliki dampak implikasi terhadap kemajuan negara Indonesia. Kaum akademisi akan menjadi aktor yang perannya sangat penting untuk mencerdaskan generasi bangsa melalui internalisasi pendidikan karakter, meskipun ada minoritas di antara mereka yang menjadi oknum perilaku bejat di lembaga pendidikan. Dan kaum politisi akan menjadi benteng managerial di garda terdepan untuk mengatur sistem ketatanegaraan Indonesia.

Sebab para politisi akan berlomba-lomba untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, baik dalam bidang yudikatif, legislatif dan bahkan menjadi pemimpin di bidang eksekutif. Namun, tidak sedikit para wakil rakyat dan bahkan pemimpin rakyat yang menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya, sehingga mereka tidak amanah terhadap kepercayaan yang diembannya.

Kaum Akademisi dan Kehidupannya

Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah pendidikan. Pendidikan memegang peran penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis.  Dan pentingnya peran pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas SDM tersebut maka pendidikan dituntut untuk senantiasa meningkatkan mutu dan kualitasnya agar adaptif terhadap perubahan zaman.

Tidak semua manusia dapat berproses dalam dunia pendidikan atau menjadi kaum akademisi. Oleh karena itu, sudah merupakan suatu keberuntungan para generasi-generasi muda bangsa yang saat ini masih tetap eksis berproses dalam dunia pendidikan hingga dapat melanjutkan pada strata atas, untuk mengubah masa depan kehidupan pribadinya, generasi-generasinya, serta negara yang menjadi tempat tinggalnya dan bahkan agamanya.

Kaum akademisi akan berproses menjadi insan yang cerdas, terbuka, dan demokratis dalam kehidupan, serta dapat beradaptasi dengan tuntunan zaman yang nanti akan menyalurkan ide-ide progresif-nya untuk kemajuan generasi-generasi berikutnya sehingga dapat beradaptasi dengan kehidupan baik kancah religius, nasionalis kolektif, dan bahkan dalam kancah kehidupan internasional yang penuh dengan kompetisi yang kompetitif.

Pendidikan saat ini tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual semata, akan tetapi pendidikan juga berorientasi pada kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual. Sehingga nilai-nilai luhur pendidikan karakter dapat terinternalisasi pada jiwa kaum akademisi yang akan diaplikasikan sebagai bekal kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang penuh dengan nilai-nilai moralitas konstitusi agama dan negara.

Kehidupan kaum akademisi bermartabat tinggi dan sangat mulia, karena telah menjalankan titah Rasulullah untuk berproses dalam dunia pendidikan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menghilangkan kebodohan. Selain itu, kaum akademisi memiliki nilai positif baik dari pandangan agama dan negara, karena mereka akan menjadi aktor utama dalam mencetak generasi yang berilmu dan berahlakul karimah melalui internalisasi pendidikan karakter.

Kaum Politisi dan Kehidupannya

Dunia politik memiliki orientasi kehidupan yang berbeda dengan dunia pendidikan. Sebab, para politisi praktisi orientasi hidupnya melalui tunggangan partai politik yang akan mengantarkan mereka sebagai politisi yang mendapatkan legalitas dan kepercayaan dari masyarakat untuk mengatur dan mengelola ketatanegaraan baik ruang lingkup desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan bahkan menjadi pemimpin negara. Meskipun ada di antara mereka yang mendapatkan kepercayaan legalitas dan masyarakat melalui non-partai.

Berpolitik merupakan aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang dimaksud untuk memengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu bentuk susunan masyarakat. Sehingga dengan demikian esensi dari politik adalah segala aktivitas mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan yang berhubungan dengan kekuasaan yang bertujuan untuk mempengaruhi baik dengan cara mengubah atau mempertahankan pola susunan kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan, para kaum politisi praktisi akan melakukan berbagai hal dan cara untuk menarik perhatian masyarakat sehingga dapat menjadikan dirinya sebagai wakil rakyat yang mewakili baik dalam lembaga yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Berbagai pendekatan dan bahkan blusukan kepada masyarakat miskin atau pun pedalaman, berkampanye menjanjikan kesejahteraan rakyat, dan bahkan berjanji untuk memprioritaskan pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat melalui perluasan lapangan kerja.

Sebenarnya terjun dalam dunia politik praktisi merupakan tindakan yang mulia dan bernilai positif, asalkan dilandasi dengan niat yang baik untuk menyejahterakan rakyat, tidak hanya janji semata akan tetapi terealisasi secara nyata serta amanah ketika mendapatkan legalitas kepercayaan untuk menjadi wakil rakyat yang menangani dalam ketatanegaraan, baik dari ruang lingkup desa hingga negara.

Namun, ada di antara para politisi praktisi yang selalu menyalahgunakan etika dalam berpolitik. Mereka terkadang menghalalkan segala cara agar bisa memenangkan dalam pesta demokrasi rakyat, bukanlah politik syar’iyah yang mereka aplikasikan, akan tetapi politik mekafilis yang dijadikan ideologis dalam berpolitik yang orientasinya menghalalkan segala cara tanpa memandang dan memperhatikan norma-norma yang berlaku, baik norma negara dan bahkan norma agama. Hal inilah yang menjadikan para politisi mengotori esensi siyasyah syar’iyah yang sesuai dengan syariat Islam.

Oleh karena itu, para pemuda mahasiswa Indonesia yang memiliki idealisme serta loyalitas dan militansi yang tinggi terhadap kemajuan negara Indonesia dan generasi-generasi berikutnya, saat ini terlebih dahulu harus menguasai dalam dunia akademisi melalui pendidikan karakter yang orientasinya pada kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, serta memperkuat hati dari penyimpangan norma-norma agama dan negara.

Kemudian, berproses dalam dunia politik yang berlandaskan norma-norma agama dan negara melalui pendidikan karakter yang telah terinternalisasi dalam jiwanya serta mengaplikasikan dalam kehidupan. Sehingga akan menjadi kaum politisi yang sesuai dengan esensi politik itu sendiri.

Menjadi kaum politisi yang didahului melalui proses pendidikan karakter akan menjadikan politisi yang berpolitik Syar’iyah tanpa adanya penyimpangan norma-norma agama dan negara. Sehingga yang menjadi orientasi dalam dunia politiknya kesejahteraan masyarakat dan bahkan tidak akan memakan hak rakyat yang membutuhkan. Jika ingin menjadi politisi yang baik, maka berproses melalui pendidikan karakter dan nilai-nilai dakwah Islamiyah.(*)

*) Ketua Pergerakan Mahasiswa Universitas Ibrahimy, Sukorejo, Situbondo.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia