Jumat, 19 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

Yayasan Tuding Guru Mundur karena Diprovokasi

Rabu, 25 Jul 2018 19:00 | editor : Bayu Saksono

Joko Al Husni

Joko Al Husni (BAGUS RIO/JPRG)

SEMENTARA itu, mundurnya 14 guru MTs Al Ishlah di Dusun Muncar Baru, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, ter­masuk kepala sekolah Sarengat, ternyata ditanggapi enteng oleh ketua Yayasan Al Husniyyah Joko Al Husni, kemarin (24/7).

Joko menyebut mundurnya belasan guru, termasuk kepala sekolah, dan kar­yawan itu ada yang memprovokasi. “Yang mundur itu memang ada 14 orang, mereka itu 11 guru, kepala sekolah, dan dua kar­yawan bagian tata usaha (TU),” ungkapnya.

Menurut Joko, belasan guru, kepala se­­kolah, dan karyawan itu murni meng­un­durkan diri, dengan mengajukan surat secara resmi pada yayasan. “Sebenarnya kita mengevaluasi dua karyawan, lalu lainnya solidaritas dengan mengundurkan diri,” cetusnya.

Joko menyampaikan ini sebenarnya bukan siapa yang benar atau siapa yang salah. Sebelum belasan guru dan karyawan itu mundur, yayasan menegur dan akan mengganti posisi dua tenaga pengajar saat evaluasi kontrak kerja. “Setiap tahun kita adakan evaluasi, kebetulan dua tenaga pengajar kita evaluasi,” terangnya.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan ya­yasan, masih kata dia, kedua tenaga pe­ngajar itu hasilnya tidak begitu baik. Se­hingga, yayasan ingin mengganti dan memutuskan kontrak dua orang guru tersebut.

“Saya hanya memutus kontrak dua guru, namun dimungkinkan ada provokator maka sejumlah guru yang lain ikut mengundurkan diri,” jelasnya.

Untuk konsultan, lanjut dia, di madrasah tidak ada. Para guru dan kepala sekolah, tidak ingin yayasan ikut campur dalam urusan madrasah. “Saya ketua yayasan harus tahu dan memantau pergerakan apa yang mereka lakukan,” paparnya.

Dalam memajukan yayasan dan madrasah, jelas dia, yayasan dianggap yang sangat berperan penting. Kepala sekolah itu hanya tahu sebatas kontrak, dan tidak tahu apa yang menjadi prioritas utama dalam yayasan. “Mereka itu hanya sistem kontrak, tidak tahu sistem yang ada di yayasan. Saya ini yang mendirikan dan membesarkan yayasan, kalau memang tidak dilibatkankan, harus ada pertanggungjawaban,” tuturnya.

Joko mengakui untuk guru yang memberikan nilai jelek kepada siswa, yayasan memang menegur. Itu semua karena yayasan tidak ingin mempersulit murid. “Kalau memang mereka (siswa) sulit atau tidak bisa belajar dengan baik, setidaknya tetap dinaikkan saja. Siapa tahu tahun depan bisa berubah,” katanya.

Seperti yang diberitakan harian ini sebelumnya, tahun ajaran baru 2018/2019 ini, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Ishlah yang ada di Dusun Muncar Baru, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, diguncang masalah. Sebanyak 14 guru termasuk kepala sekolah, menyatakan mengundurkan diri karena merasa tidak cocok dengan pengurus Yayasan Al Husniyyah.

Dengan mundurnya para guru dan kepala sekolah itu, membuat tenaga pengajar di madrasah itu nyaris habis. Selama ini, di sekolah yang gedungnya cukup megah dengan dua lantai itu hanya memiliki 19 tenaga guru. “Saya mengundurkan diri bersama para guru, ini kita lakukan karena tidak ada kesepahaman antara sekolah dan yayasan,” ujar kepala MTs Al Ishlah, Sarengat.

Menurut Sarengat, para tenaga pengajar sengaja mundur karena apa yang dilakukan tidak sejalan dengan apa yang diinginkan oleh yayasan. “Guru dan yayasan tidak sejalan, bukan kita menuntut kon­trak untuk diperpanjang,” katanya.

(bw/rio/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia