Rabu, 19 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

Ratusan Siswa MTs Al Ishlah Pindah

Wali Murid Sebut Sekolah Teroris

25 Juli 2018, 19: 15: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

BERMAIN: Sejumlah siswa MTs Al Ishlah bermain di halaman sekolah di Dusun Muncar Baru, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, kemarin (24/7).

BERMAIN: Sejumlah siswa MTs Al Ishlah bermain di halaman sekolah di Dusun Muncar Baru, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, kemarin (24/7). (BAGUS RIO/JPRG)

MUNCAR - Konflik para guru MTs Al Ishlah dengan Yayasan AL Kusniyyah, yang berujungnya mundurnya 14 guru termasuk kepala sekolah, ternyata berpengaruh pada siswanya. Ratusan siswa di sekolah itu, mencabut berkas dan pindah ke sekolah lain.

Wali murid yang menarik siswanya di sekolah itu, bukan hanya karena ada konflik para guru dan yayasan itu, tapi juga ada yang beranggapan madrasah itu sebagai sekolah teroris. “Mending segera dipindahkan daripada harus melihat anak saya sebagai generasi penerus teroris,” ujar salah seorang wali murid berinisial S.

S yang tinggal di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, itu menyebut Yayasan Al Kusniyyah yang mengelola MTs Al Ishlah itu milik keluarga H Kusni, bos jamu yang tinggal di Desa Tembokrejo. H Kusni itu ayah kandung Ny Puji Kuswati pelaku bom bunuh diri bersama dua anak perempuannya, Fadilah Sari dan Pamela Riskika di Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro, Surabaya pada 13 Mei 2018.

Ketua Yayasan Al Kusniyyah Joko Al Husni, itu salah satu putra kandung H Kusni, atau kakak kandung sang teroris Puji Kuswati. Sedang Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Yayasan Al Kusniyyah Eka Susanti, itu istri Joko Al Husni.

Menurut S, sekolah yang dikelola Yayasan Al Kusniyyah itu banyak mengajarkan yang menurutnya di luar nalar. Anak yang bodoh sekalipun, akan banyak mendapatkan nilai baik. “Semua murid di sana nilainya sama, tidak ada murid yang nilainya jelek,” katanya.

Di sekolahan itu, terang dia, juga terkesan sangat tertutup. Dalam pengelolaan pendidikan, tidak ada yang melibatkan wali murid sama sekali. “Yayasan itu yang penting siswanya membayar, mereka akan naik kelas dan mendapat nilai bagus. Wali murid tidak pernah dilibatkan sama sekali,” ungkapnya.

Bahkan, masih kata dia, pelajaran yang diajarkan kepada anaknya tidak diketahui oleh wali murid. Anaknya, kini berubah menjadi orang yang tertutup. “Makanya, mending anak saya pindah ke sekolah lain,” cetusnya.

Ketua Yayasan Al Kusniyyah, Joko Al Husni mengakui banyak wali murid yang mencabut berkas untuk menarik anaknya dari MTs Al Ishlah. “Wali murid banyak yang memindah anaknya ke sekolah lain, mereka beranggapan madrasah ini (MTs Al Ishlah) menjadi sekolah teroris,” katanya.

Anggapan masyarakat itu, terang dia, membuat siswa yang ada di MTs Al Ishlah menurun drastis. Jumlah siswa yang awalnya mencapai 350 siswa, kini tinggal sekitar 245 siswa. “Kurangnya sekitar 105 siswa, ini ada yang keluar karena wali murid dan ada juga yang pindah karena pindah rumah,” ungkapnya.

Joko membantah MTs Al Ishlah itu bukan sekolah teroris. Pihaknya sangat memudahkan para siswa yang sekolah di madrasah yang dikelola. “Bukan sekolah teroris, kita ini hanya ingin memudahkan para siswa, dan tidak mempersulit dalam menuntut ilmu,” jelasnya.

(bw/rio/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia